De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Lepaskan Dia ....


Sebelum benar-benar mendekat, terdengar keributan dari ruangan Jessie. Argus, Rachel, dan Alroy yang menggendong putrinya segera mempercepat langkah mereka.


Terlihat Xavier dengan pakaian sedikit lusuh terduduk lesu di depan ruangan Jessie. Siapapun tahu jika pria itu menangis meski menyembunyikan wajahnya di antara lengannya yang memelut lutut.


Rachel sontak memeluknya agar pria itu tenang. Tidak perlu ditanyakan apa yang terjadi. Kehadiran dokter dan perawat di dalam kamar sudah menjelaskan semuanya.


"Kumohon jangan tinggalkan aku, Jess." Suaranya bergetar hebat diiringi getaran di pundaknya.


"Xav—"


"Dia tidak bernafas, Mom. Aku— aku takut," isaknya.


Ia sangat terkejut saat mesin EKG berbunyi. Bukan bunyi seperti biasa, namun pertanda seseorang kehilangan denyut jantungnya.


Xavier kembali bangkit meski berat tubuhnya terasa sulit untuk ia tompang. Tangannya menyentuh kaca yang menampakkan istrinya yang sedang berjuang di dalam dengan defibrillator.


"Bertahanlah, Baby. Kumohon."


Rachel sendiri tidak tahan melihatnya. Air mata tertahan pun akhirnya tumpah. Putranya sangat hancur. Bagaimana jika Jessie— ia masuk ke dalam pelukan suaminya yang menatap ke dalam.


Naomi sendiri menyembunyikan wajahnya di leher Alroy. Keadaan membuatnya takut, apalagi melihat Xavier dan Rachel yang menangis.


Khawatir, takut, panik dan gelisah langsung menghantam bersamaan kala melihat dokter yang memegang defibrillator itu menghentikan kegiatannya. Tanpa aba-aba Xavier berlari membuka pintu dan masuk kedalam diikuti keluarganya yang lain.


"KENAPA BERHENTI! LAKUKAN LAGI," bentak Xavier panik.


Dokter dan perawat menunduk pasrah. Mesin EKG tidak lagi berbunyi dan hanya menampilkan garis lurus.


"Tuan— kita tidak bisa menahannya lagi—"


"TUTUP MULUTMU!"


Tidak! Xavier tidak bisa menerimanya.


Tangis Rachel semakin terdengar. Sudah pergi, sudah saatnya ia pergi. Putrinya memilih melepas bebannya yang berat dan bertemu keluarganya.


"Xav— Jessie sudah lelah. Jangan tahan dia lagi— biarkan dia." Argus menyentuh bahu Xavier yang terisak di atas tubuh istrinya.


"No! Dia berjanji akan kembali padaku." Xavier menggeleng keras, "baby ... Kau mau berbohong lagi? Tidak boleh, oke?" bujuknya sambil mengelus wajah pucat pasi itu.


Alroy memeluk tubuh Naomi untuk menyembunyikan kesedihannya. Ia begitu paham rasanya berada di posisi Xavier. Kehilangan orang yang dicintai memang sesakit itu.


"Ada apa dengan mama Jessie?" cicit Naomi pada ayahnya.


Naomi memberanikan diri untuk menoleh. Melihat tubuh tak bernyawa di hadapannya membuat bibirnya mulai melengkung kebawah.


"Mama ingin pergi juga?" Alroy mengangguk pelan.


Secara naluri air mata milik Naomi ikut turun. Gadis kecil itu memberontak meminta turun dari gendongan dan mendekati Xavier.


Arloy ingin melarang namun dicegah oleh Argus dan Rachel.


"Daddy Xavier jangan menangis!" Naomi memeluk kaki Xavier. Tubuh kecilnya hanya mampu menjangkau bagian itu.


Xavier menyeka air matanya dan menatap Naomi yang memiliki sedikit wajah istrinya. Gadis itu melarangnya menangis, tapi bibirnya sendiri mengerucut lucu karena tangisnya.


"Bantu daddy bangunkan mamamu ya?" Segera Xavier mengangkat tubuh kecil itu dan mendudukkannya di samping Jessie.


"Baby, lihat siapa yang datang. Kau ingin meninggalkannya juga?"


Biarlah dirinya egois karena tidak membiarkan istrinya pergi. Tidak untuk sekarang!


Naomi menyentuh wajah pucat Jessie seperti yang di lakukan Xavier.


"Mama ... Naomi sudah datang."


Xavier tak dapat menahan air matanya lagi melihat tidak ada respon apapun dari istrinya.


Aku belum siap, Jess— setidaknya bawa aku. Jika kau tidak bangun, aku yang akan menemuimu!


"Xav— jessie pasti juga terluka. Lepaskan dia ya?" bujuk Rachel. Xavier menggeleng lagi. Pria itu kemudian memeluk ibunya dan menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segala kerinduan dan sakit hatinya pada wanita yang telah melahirkannya.


"Tolong— tolong tinggalkan kami," pintanya sedikit tenang.


"Tapi, Xav—"


"Kumohon, Mom."


Mereka menurut meski dengan rasa was-was. Arloy membawa Naomi keluar bersamanya, meninggalkan Xavier dan Jessie berdua.


Diluar ada Felix dan Laura yang mematung. Keduanya sudah datang sejak tadi dan menyaksikan semuanya. Tangan Laura bergetar hebat disertai cairan yang mengalir diam di kedua sudut matanya.


Selamat jalan, Jess ....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...