De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Menjadi Rumah


Jessie membeku kala Xavier menyodorkan satu cup es krim berukuran besar padanya. Terdapat kedai es krim disana. Sama seperti sebelumnya, Jessie merasakan perasaan tidak karuan. Hal ini disimpulkan oleh Xavier jika sang istri memiliki trauma.


"Apa dia begitu jahat hingga membuatmu seperti ini?" tanya Xavier sendu.


Jessie mengerjap bingung.


Xavier menyendok sedikit es krim lalu mengarahkan ke mulut Jessie. "Buka mulutmu. Aku disini. Jangan takut," bujuk Xavier.


Dengan ragu-ragu Jessie membuka mulutnya dan menerima suapan Xavier.


"Enak?"


Jessie mengangguk.


"Tidak ada hal buruk, kan?" Lagi-lagi Jessie mengangguk seolah terhipnotis oleh tatapan Xavier.


"Lalu kenapa membencinya?"


Aku tidak membencinya ....


Melihat Jessie hanya diam saja, Xavier berkata, "baik, biar aku habiskan." Sebelum sendok itu masuk ke mulut Xavier, tangan Jessie sudah menahannya.


Tanpa menahan diri, wanita itu mulai memakan dengan lahap.


"Kau tidak suka es krim. Jangan memaksakan diri untukku." Kali ini Jessie tak ingin Xavier melakukan hal yang sama.


Dulu Xavier selalu mengaturnya. Bahkan untuk sekedar es krim saja memiliki jadwal kapan boleh memakannya. Pria itu bilang jika es krim tidak baik untuk kesehatan jika terlalu sering di konsumsi. Belum lagi itu adalah favorit dari kekasihnya.


Xavier sangat membenci makanan manis termasuk es krim yang sering ia konsumsi. Tapi demi dirinya, Xavier rela menemani dan melupakan kebenciannya dengan makanan berciri khas manis tersebut.


Saat ia makan, maka pria itu juga akan makan bersamanya.


Itu sebabnya saat perpisahan terakhir mereka, Jessie mengingatkan pria ini bahwa dirinya tidak menyukai es krim. Meski tidak mengingat kenangan, kebiasaan mungkin muncul tanpa sengaja.


"Aku membencinya, tapi tidak mengerti mengapa aku masih memakannya," ungkap Xavier saat ini.


See? Itulah yang ia maksud. Karena kebiasaan itu menuntunnya.


"Aku juga tidak suka, jadi tidak perlu memakannya lagi. Kau juga begitu. Jangan memakannya lagi," kata Jessie setelah membuang cup kosong ke tempat sampah terdekat.


"Tidak suka? Laura bilang kau sangat menyukainya dulu."


"Dulu! Sekarang tidak lagi." Jessie menarik tangan suaminya untuk pergi, namun Xavier menahan.


"Apa karena aku membencinya sehingga kau menahan diri?" datar Xavier.


"Apa yang kau katakan? Aku memang tidak suka!" Jessie menariknya sekali lagi. Xavier tidak lagi menahan, namun menarik tengkuknya untuk menyatukan bibir mereka.


Menghisap dan melu*mat kemudian menyesap lidahnya dengan buas. Xavier terus memangut, membersihkan sisa es krim yang masih tertinggal.


Berapa lama lagi mulut wanita ini akan terkunci.


"Aku tidak akan lelah."


Selama tujuanku masih ada.


"Selama kau masih menjadi rumahku," ujarnya menatap mata tajam suaminya.


"Aku selalu menjadi rumahmu dan kau adalah rumahku."


-


-


-


-


"Sudah puas menguping?!" Nada berat tuan besar terdengar menakutkan di telinga Ellard.


"Aku tidak sengaja," elaknya, "aku hanya ingin berpamitan." Sudah dua hari dirinya disini.


"Apa saja yang kau dengar?"


"Itu— gadis itu—" Menunjuk Naomi yang duduk dengan tatapan polosnya, "dia putrinya Lawrence." Ellard mengecilkan suaranya di bagian akhir.


"ASAL BICARA!" Tubuh Ellard langsung tersentak kaget karena tuan besar meninggikan suaranya.


"Aku salah ya— ya, aku salah— Grandpa!" jawab Ellard terputus-putus.


"Awas saja jika ada berita yang tidak-tidak!"


"Tidak akan, Grandpa!"


"Iya sudah, suruh Jessie kemari!"


"Jessie?"


"Masih bertanya?!"


"Baik, Grandpa." Segera mengutak-atik ponselnya.


"Yey, mama akan datang!" Naomi bersorak senang.


Eh?!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...