
Tidak seperti dugaan awal. Nyatanya suasana hati Rachel sangat cepat berubah. Panggilan Grandma oleh Naomi membuat kekesalannya menghilang begitu saja.
Ellard tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Xavier saat tahu ibunya menjadi nenek penyayang untuk anak dari orang yang dianggap saingan cintanya.
Seperti saat ini, wanita paruh baya itu selalu menggendong gadis kecil itu kemana-mana saat Argus memutuskan memesan sebuah restoran.
Entah apa yang dibicarakan oleh suaminya dan Alroy di ruangan itu, Rachel tidak perduli. Melihat gadis ini sangat nyaman dengannya, ia begitu gembira.
Pantas saja Jessie tidak bisa menolak, rupanya ia sangat manis! Rachel merasa memiliki cucunya sendiri. Setelah diamati, wajah Naomi sedikit mirip dengan Jessie. Kebetulan sekali.
Mungkin Rachel akan meminta ayah dan anak ini menginap di mansion malam ini karena tidak mungkin menjenguk Jessie sekarang. Xavier tidak akan mau menerima tamu lagi di jam ini. Waktunya hanya bersama sang istri.
"Mengapa memanggil Jessie mama?" tanya Rachel penasaran.
"Karena kakak mirip mama."
Tadi mama, sekarang kakak? Dasar anak-anak.
"Mirip mama? Kau pernah melihat mama mu?"
Mungkin saja, Rachel! Ayahnya pasti sudah menunjukkannya. Benar saja, Naomi mengangguk.
Rachel semakin penasaran seperti apa wajah ibu dari Naomi ini.
"Grandma mau melihatnya?"
Eh?
"Me— melihat apa?" Jujur ia agak gugup entah mengapa.
Naomi kemudian mengeluarkan sesuatu di ransel kecilnya dan memberikannya pada Rachel. Mata Rachel sedikit memincing menatap sebuah foto kecil yang diberikan Naomi itu. Beberapa detik kemudian, matanya membola dengan mulut sedikit terbuka.
"Ya Tuhan! Kau memang cucuku!" pekik Rachel sambil memeluk Naomi, sedangkan gadis kecil itu tampak kebingungan dengan tingkah Rachel.
**
"Jadi kau kekasih Jessica." Ini bukan pertanyaan.
Setelah menidurkan Naomi di kamarnya, Rachel kembali ke ruang keluarga dimana Alroy dan suaminya berada.
"Ya." Tidak perlu ada yang di tutupi dari dua orang ini.
"Jika Naomi tidak menunjukkan foto ibunya, aku mungkin masih tidak tahu," cibir Rachel. Alroy tanya tersenyum tipis.
"Sekarang aku mengerti kenapa Jessica sangat menolak perjodohan dengan Xavier dahulu," kata Argus kemudian.
"Meski tidak bersamaku, Jessica mungkin akan tetap menolak."
Rachel dan Argus mengerjit.
Alroy menduga jika keduanya pasti belum mengetahui apapun tentang hubungan putranya dulu.
"Jessica tidak akan mau merebut kekasih adiknya sendiri."
"Maksudmu?" Rachel gugup, meski isi kepalanya sudah menebak.
"Anda bisa tanyakan sendiri pada putra anda, Mrs. Saya tidak berhak mengatakannya."
-
-
"Aku selalu penasaran kenapa Jessie begitu menginginkan Xavier padahal mereka baru bertemu sekali. Sekarang aku mengerti," gumam Rachel.
"Tidak heran Jessie memandangnya begitu." Argus ikut bersuara.
"Memandang bagaimana?"
"Aku sempat melihat tatapan Jessie begitu dalam pada Xavier saat membawanya pulang dari rumah sakit." (Bisa dilihat di chapter 30)
Ada luka dan rasa sakit di dalamnya, lalu putus asa dan penyesalan.
Sekarang sudah jelas. Saat kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Xavier, Jessie ada disana. Bukan sebagai penolong, tapi seorang korban yang selamat.
Rachel juga ingat tentang sekantong penuh es krim yang ditemukan di mobil Xavier. Ternyata itu milik Jessie.
"Kecelakaan Xavier ada hubungannya dengan Jessie, kan?" tanyanya lirih.
"Kita tidak bisa menyalahkannya," ujar Argus memperingati istrinya, "Jessie pasti takut kita menjauhkan Xavier darinya dan menyalahkannya."
Keduanya dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dibelakang mobil mereka ada mobil Alroy yang mengikuti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...