
"Selamat untuk Miss Lawrence. Aku hanya bisa menyampaikannya padamu." Seorang pria tiba-tiba mendekatinya.
Jessie menatapnya dari atas hingga bawah dengan menyelidik. Siapa ini? Ia belum pernah melihatnya. Mungkin seumuran dengan Xavier. Wajahnya tampan dan nampak berkharisma. Meski begitu Xavier jauh lebih tampan!
Tuan besar mendekat melihat kehadiran pria itu dan berdiri di antara keduanya.
"Kebetulan sekali. Biar ku kenalkan kalian berdua." Tuan besar terlihat senang, "Jessie, ini adalah tuan muda Alroy Brendan. Pemilik rumah sakit terbesar di Helsinki!"
Lalu? Jessie merasa curiga dengan tingkah kakeknya.
"Begitu ... Baiklah, Tuan." Jessie tersenyum tipis.
"Hanya seperti itu?" tanya tuan besar heran. Apa cucunya memang tidak pandai bersosialisasi?
"Kau tidak tertarik dengannya? Dia tampan dan sepadan!" bisik tuan besar pada Jessie.
Benar dugaannya! Pria tua ini berniat menjadi Mak comblangnya.
Jessie mulai terkekeh kecil sambil menyampirkan rambutnya ke telinga. Lebih tepatnya menunjukkan cincin pernikahannya yang terpasang cantik di jari manisnya. Pria tua itu terlihat mencibir setelah memahami kode Jessie.
Alroy sendiri nampak memasang wajah sedikit kecewa setelah melihat sebuah cincin yang melingkar di jarinya itu.
"Aku belum merestui!" bisik tuan besar lagi seraya meninggalkan tempat itu menuju mejanya sendiri.
"Cincin yang bagus, Miss."
"Ah! Thanks, Sir. Alroy."
"Aku terkejut kau sudah menikah."
"Usiaku sudah cukup," jawab Jessie dengan senyuman.
"Benar juga." Alroy tersenyum sedikit canggung, "hanya datang sendiri? Dimana suamimu."
"Dia cukup sibuk belakangan ini."
Sambil bicara, keduanya berjalan dan duduk setelah mendapat meja. Alroy masih berusaha mencari topik pembicaraan meski Jessie tidak begitu merespon karena sibuk mengamati sekitarnya, lebih tepatnya mengenali orang-orang disana.
Sampai pandangannya akhirnya menangkap sesosok wanita seumuran sang kekek tengah berapa di ujung halaman bersama para wanita yang lebih muda darinya. Atau bisa kita sebut mereka para wanita sosialita!
Wanita tua itu rupanya juga menatapnya. Tatapan tak ramah yang sudah Jessie tebak akan ia dapatkan. Terlihat wanita itu mulai mendekat setelah berpamitan pada teman-temannya.
"Selamat malam, Sir. Alroy," sapanya ramah pada pria itu. Jangan lupa jika Alroy masih berada di mejanya.
"Ah! Mrs. Maurice. Selamat malam!"
"Boleh aku bergabung?"
"Tentu saja, silahkan!"
"Selamat malam, Mrs. Maurice." Jessie ikut menyapa dengan ramah.
Seperti apa dia mari kita lihat sendiri.
Tidak ada pembicaraan setelah itu. Alroy menyadari keterdiaman mereka lantas undur diri untuk memberi privasi.
"Jadi kau adalah Jessie? Ini pertemuan pertama kita." Mrs. Maurice memulai pembicaraan.
"Anda benar, Mrs."
"Apa pekerjaanmu di perusahaan. Tidak mungkin kau hanya menyekori Lawrence, kan?"
Jessie tersenyum tipis dan bersikap tenang meski wanita tua itu menunjukkan permusuhan yang sangat jelas.
"Saya mengatur perusahaan cabang di Manhattan sebagai manager. Beberapa hal lainnya akan diperintahkan langsung oleh Miss. Lawrence," jelasnya.
"Sebaiknya jaga sikapmu sebagai bawahan. Jangan berlagak dan mencari perhatian." Wanita itu mengabaikan ucapan Jessie.
"Mungkin anda salah paham, Mrs." Jessie masih setia dengan senyum ramahnya.
"Suamiku tidak pernah tersenyum seperti itu pada orang lain termasuk Jessica, tapi dia tersenyum padamu. Aku memperingatimu agar ingat dengan posisimu. Dan pria tadi, jangan terlalu dekat dengannya."
"Baik, Mrs." Jessie menundukkan kepalanya sebentar.
Tidak ada tanda-tanda perlawanan dari Jessie karena ia menyikapi semuanya dengan santai.
Jessie sudah tahu mengapa Mrs. Maurice bersikap begitu. Setelah menyebut namanya ia sudah tahu jika Alroy Brendan merupakan tunangan dari Rebecca.
"Katakan pada Lawrence agar jangan merasa senang dulu meski aku tidak mengerti mengapa suamiku menyerahkan hak milik sepenuhnya padahal Lawrence belum memenuhi syarat dengan menikah! Itu menyalahi aturan."
"Setelah Rebecca menikah, mungkin dia akan dipaksa turun dari kursinya."
"Akan kusampaikan, Mrs."
Mungkin wanita tua itu kesal melihat respon Jessie yang biasa saja tanpa terprovokasi.
"Kau beruntung karena mirip dengan Jessica sehingga suamiku menyukaimu," ketusnya seraya beranjak pergi dari sana.
Jessie mengerjit sambil melihat nenek tirinya yang mulai menjauh itu dengan heran.
Jadi mereka sadar jika dirinya mirip? Wah ... Jika begitu mereka semua bodoh karena tidak menyadari hubungannya dengan Jessica.
Sudut bibir Jessie terangkat. Menyilangkan kaki, lalu menyesap segelas jus yang dihidangkan.
Tidak sadarkah jika sejak tadi ada seorang pria yang begitu ingin tahu tentangnya. Jessie telah memperhatikan sejak awal pembicaraannya dengan Mrs. Maurice jika pria itu terus menatap kearah mereka dengan diam-diam.
Alroy Brendan! Pria itu tidak sesederhana kelihatannya.
Apa yang ia inginkan?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...