De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Kebiasaan Baru


Sore itu Jessie tidak sengaja melihat Rachel memasak sendiri di dapur tanpa ada pelayan atau koki seperti biasa.


"Mom," panggilnya.


Rachel menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada masakannya. Jessie duduk memperhatikan di meja makan.


"Kau tidak bekerja lagi?" Memang Rachel belum melihat Jessie seharian ini.


"Tidak. Aku malas." Terakhir kali karena malam panas itu, tapi kejadiannya sudah berlalu cukup lama.


"Aneh sekali. Tidak biasanya kau jadi pemalas."


"Xavier bilang aku tidak perlu bekerja terlalu keras. Itu merusak harga dirinya. Orang akan berpikir dia tidak mampu." Begitu katanya.


Xavier dengan harga dirinya!


"Sebenarnya aku setuju," ungkap Rachel. "Kau tidak perlu merepotkan dirimu lagi. Aku senang jika kau bisa menikmati waktumu sendiri." Selama ini Jessie sudah bekerja terlalu keras. Setelah menikah pun masih harus bekerja. Jessie hanya tersenyum.


"Apa yang Mom masak. Kenapa tidak mengajakku?" Berjalan mendekati Rachel.


"Memangnya kau bisa?" tanya Rachel heran.


"Mom!" Wajah Jessie tertekuk. "Siapa bilang tidak bisa. Aku bisa!" ketusnya tidak terima.


"Nasi goreng maksudmu?" Rachel mengatupkan bibir menahan tawa.


Itu faktanya! Nyatanya Jessie hanya mampu membuat nasi goreng. Itu saja harus diajarkan berulangkali oleh Rachel sebelum ia menikah dulu.


"Mom, kau ingin jadi mertua jahat?"


"Oh tentu tidak. Kalau begitu silahkan goreng telur ini." Rachel menyingkir agar memberi ruang pada Jessie, namun Jessie terdiam dengan wajah bingung.


"Kita harus pecahkan di piring dulu. Berbahaya jika langsung di pecahan di atas wajan," kata Jessie, membuat Rachel menggeleng sambil menghela nafas.


"Lupakan! Sebaiknya kau duduk dan lihat aku saja." Menuntun Jessie agar duduk kembali.


"Mom!"


"Stttt!! Xavier akan pulang sebentar lagi. Kau mau melihat dia berdiri di depan pintu lagi?"


Ya, beberapa waktu setelah hubungan mereka lebih baik. Xavier mulai menunjukkan perilaku anehnya.


Contohnya setiap pria itu pulang bekerja, Xavier akan masuk jika hanya ada Jessie yang menyambutnya. Jika tidak, ia akan terus berdiri di depan pintu seperti orang bodoh dengan wajah datarnya!


Belum Jessie menjawab, suara bel sudah berbunyi. Jessie menghembuskan nafas kasar sembari berdiri dengan malas.


Tak lama bel kembali berbunyi. Jangan harap ada pelayan yang membuka jika itu memang Xavier! Pria itu sudah memperingati semua orang di mansion ini termasuk ibunya sendiri.


Apa jadinya jika aku pulang terlambat? batinnya.


Tidak mungkin kan Xavier terus berdiri disana sampai ia datang.


"Selamat datang suamiku!" Merentangkan tangannya, Xavier berjalan memeluknya dan meninggalkan kecupan singkat di kening.


Sebenarnya Jessie dibuat bingung dengan sikap suaminya ini. Apa setelah malam panas yang sudah mereka lalui beberapa kali sedikit menggeser otak pria ini?


Padahal dulu Xavier begitu tidak menyukainya hingga berniat mencari cara untuk menyingkirkannya. Atau ini bagian dari rencana? Jessie memincing curiga.


"Sikapmu semakin aneh saja," ucapnya tanpa sadar.


Xavier melepas pelukannya dan menatapnya. "Kau ingin melawan suamimu?"


"Aku tidak bilang begitu!" jawab Jessie cepat.


Lupakan! Percuma saja. Lebih baik ikuti saja permainan pria ini.


"Baguslah," katanya tanpa dosa, lalu merengkuh pundak sang istri menuju kamar.


Jessie membantu melepas kemeja dan jas Xavier termasuk sepatunya. Setelahnya Xavier langsung pergi untuk membersihkan diri dengan masih diiringi tatapan Jessie.


Saat hendak meletakkan pakaian itu di keranjang kotor, Jessie tidak sengaja melihat noda merah berbentuk bibir seseorang di bagian lengan kemeja. Jessie tersenyum sinis melihatnya. Kemudian dihirupnya kemeja termasuk jas milik Xavier itu dengan tatapan menyorot tajam kearah pintu kamar mandi.


"Apa yang kuharapkan? Ck!"


Bau parfum wanita tercium jelas disana. Jessie hampir lupa jika Xavier masih memiliki kekasih di luar sana.


"Kenapa wanita suka sekali menempelkan bekas bibir mereka! Apa tidak ada cara lain membuat orang cemburu? Dia pikir ini drama!" ketusnya, melempar pakaian itu kedalam keranjang.


"Tidak berkelas!"


-


-


-


-


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Masih sepi banget ya🤭