
Jessie kini berada di sebuah ruangan tertutup yang terdapat jendela besar yang langsung menghadap pemandangan laut. Di depannya tersaji beberapa hidangan makan siang.
Hari ini Jessie akan menyelesaikan tujuannya, khawatir jika menunda lebih lama lagi akan ada masalah yang tidak terduga. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya seseorang datang dan bergabung.
Seorang pria paruh baya dengan setelah jas, rambut hampir memutih dimakan usia tersenyum terhadapnya.
"Kita bertemu lagi, Miss. Lawrence," sapanya ramah.
"Senang bertemu denganmu lagi, Paman Edgar."
"Anda semakin luar biasa," katanya lagi.
"Berhenti memujiku." Tersenyum paksa. Edgar terkekeh.
"Itu bukan pujian, Miss. Tuan Jose memang memiliki putri yang istimewa."
"Pembawa masalah maksudmu?" Mengangkat sebelah alisnya.
"Tentu saja tidak." Jessie tersenyum lagi mendengar penuturan Edgar.
"Boleh kita makan dulu. Aku sudah lapar."
"Haha, tentu saja. Biar saya siapkan sesuatu."
Jessie menahan tangan Edgar yang hendak berdiri. "Temani aku, bukan layani aku."
Edgar tersenyum. "Baik, Miss." Duduk kembali.
Anda sudah berubah sangat dewasa. Tuan besar akan bangga jika melihat anda sekarang. Sangat mirip dengan Mrs. Lawrence.
"Sebuah kehormatan bisa duduk satu meja dengan anda."
Jessie tertawa kecil. "Kau berlebihan, Paman. Bahkan aku bisa duduk dengan pengemis."
"Itu sebabnya anda berbeda."
Setelah makan siang keduanya selesai. Edgar mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan meletakkan di atas meja.
"Ini milikmu, Miss. Lawrence. Kau telah memenuhi syarat!"
Edgar menyodorkan sebuah dokumen yang menunjukkan bukti kepemilikan suatu perusahaan serta saham.
"Tuan besar telah menyerahkan seluruh sahamnya berserta milik orang tua anda dan juga saudari anda yang telah meninggal."
"Maka dengan persetujuan tuan besar atau pemilik perusahaan maka saya menyatakan bahwa Miss. Jessie De Lawrence atau dikenal dengan Jessie Millen telah resmi menjadi CEO sekaligus Presdir Perusahaan Lawrence! Selamat, Miss."
Jessie hanya tersenyum tipis dan meraih tumpukan kertas yang selama ini ia inginkan.
"Dia tidak akan mengutukku di atas sana, kan?" lirih Jessie, "bagaimanapun aku telah mengambil miliknya."
"Saya yakin dia akan bahagia melihat anda sekarang."
Edgar seharusnya melihat wajah senang setelah keputusan akhirnya dibuat, bukan wajah sendu seperti yang ada di hadapannya sekarang.
Ia tahu jika Jessie tidak pernah menginginkan tahta, tapi entah apa yang terjadi sehingga wanita itu datang dan menawarkan dirinya dengan sukarela.
"Nona ... Meski awalnya ini bukan milik anda. Tapi anda juga telah menjadi kandidat yang dipilih langsung oleh tuan besar. Jika anda merasa bersalah, itu seharusnya tidak perlu. Posisi akan pindah ke kandidat baru setelah pemilik aslinya tidak bisa menggunakan lagi."
Dalam artian pemilik telah meninggal atau tidak lagi memenuhi syarat. Seperti lalai dan tidak bisa lagi menjalankan tugasnya.
"Tuan besar sangat berharap pada anda, Miss. Anda yang satu-satunya yang tersisa dari keluarga sah dan anda yang paling dipercaya oleh tuan besar."
Jessie tersenyum. "Thanks, Paman. Sampaikan salam ku pada kakek. Katakan bahwa aku menyayanginya. Jaga kesehatan kakek. Setelah semua selesai, aku akan membawakan cicit untuknya."
"Tuan besar pasti senang. Rumah sudah sepi karena orang-orang semakin dewasa."
Edgar adalah orang kepercayaan sang kakek. Ia telah mengabdi selama bertahun-tahun di samping tuan besar. Ia juga kepala pelayan yang mengurus mansion tempat tuan besar tinggal.
"Jangan khawatir, Miss. Tuan besar akan menunggu saat itu tiba. Dan penyerahan jabatan akan diumumkan secepatnya di Finlandia kepada para petinggi lain," jelasnya.
"Mengumumkan? Kalian yakin ingin mendengar rengekan mereka."
Mereka pasti akan terkejut jika mengetahui kabar bahwa kepemimpinan telah dipindahkan dari tuan besar.
Tentu saja! Lawrence tidak pernah muncul dan usianya masih muda untuk memimpin. Mereka pasti akan membuat beribu alasan untuk menentang.
"Sejak awal semua sudah mengetahui jika Lawrence yang akan menjadi pemimpin selanjutnya."
"Tapi aku bukan Lawrence."
"Anda masih Lawrence bagi kami. Entah anda atau saudari anda, kalian sama," bantah Edgar cepat, "soal identitasmu, sebaiknya tetap rahasiakan untuk keamanan mu."
"Ada hal lain yang ingin disampaikan?" tanya Jessie, "mengenai Ellard mungkin?" Mengalihkan pembicaraan.
"Ah benar. Maaf dengan kedatangannya yang tiba-tiba, Miss. Dia terlalu senang karena tuan besar mengijinkan pergi."
"Dia hampir mati kedinginan di luar."
"Anak itu memang nakal," kelakar Edgar, "semoga anda tidak keberatan mengurusnya juga."
"Tidak masalah. Aku menyukainya."
-
-
-
-