
"Kenapa hanya melihatnya? Dia milikmu, ambil lah kembali," ucap wanita paruh baya pada putrinya. Wanita itu masih cantik dan awet muda, hampir tidak terlihat tanda penuaan dini.
"Dia menatapku sangat tajam. Aku takut, Mom," jawab sang putri yang hanya mengawasi dari balik dinding rumah sakit.
Seorang laki-laki duduk di sebuah kursi roda dengan beberapa perban membaluti bagian kepala dan sekitar lengan dan kaki ditemani oleh sepasang paruh baya yang merupakan orang tuanya.
Laki-laki itu menyadari seseorang yang menatapnya langsung memberi tatapan tajam hingga gadis itu kembali bersembunyi.
"Lawrence." Sang ibu menyentuh pundaknya. Prihatin dengan kondisi putrinya.
Tak lama ayah laki-laki itu mulai mendorong kursi rodanya menjauh, meninggalkan lorong kamar mereka. Hanya sang ibu yang tetap tinggal.
"Aku akan menyusul," kata ibunya, "bawa Xavier pergi dulu." Sang suami mengangguk.
Ibu dari gadis itu akhirnya keluar mendekati wanita seusianya itu dengan menggandeng putrinya.
"Rachel," panggilnya.
"Sophia!" Rachel memeluk sahabatnya dengan lega.
"Bagaimana?"
"Putraku sudah baik-baik saja. Dia hanya perlu istirahat untuk memulihkan diri dan luka-lukanya," jawabnya bahagia.
Putranya yang tidak suka rumah sakit ingin cepat dipulangkan meski kondisinya belum begitu stabil pasca operasi. Itu sebabnya mereka meninggalkan rumah sakit setelah seminggu kecelakaan terjadi.
"Aku ikut senang." Sophia ikut lega, meski ada raut cemas diwajahnya saat melihat putrinya.
"Lawrence, right? Thank you so much, Honey." Rachel memeluk gadis yang seminggu lalu baru saja menginjak sembilan belas tahun.
Berkat Lawrence, putranya sempat terselamatkan. Rachel sangat bersyukur karena hal itu.
"Kecilkan suaramu, Rachel," tegur Sophia.
"Ah! Maafkan aku." Ia baru ingat jika identitas Lawrence tidak boleh diketahui orang lain.
"Kau sangat cantik." Kemudian ngelus pipi mulus Lawrence.
"Kau tidak pernah mengenalkanku pada Lawrence. Jika tidak ada kejadian ini, aku mungkin tidak akan tahu kau punya dua putri!" cercanya pada Sophia yang sempat mengenalkan Lawrence padanya seminggu yang lalu.
"Lawrence sedikit pemalu. Dia selalu bersembunyi."
"Karena kau juga yang menyembunyikannya!" Rachel memukul pelan lengan Sophia.
Lawrence tidak mengucapkan sepatah katapun sejak tadi. Pikirannya tertuju pada Xavier. Pandangannya pun tertuju pada lorong yang telah kosong, tempat Xavier menghilang.
"Kenapa?" Rachel menyentuh pundak Lawrence. Gadis itu tersentak. Rachel terkekeh melihatnya.
"Kau tertarik pada Xavier?" tanyanya pada Lawrence seraya menyenggol pelan tubuh Sophia memberi kode.
"Dia belum punya kekasih. Aku tidak keberatan menjodohkan kal—"
"No!" jawab Lawrence cepat.
"Lawrence?" Sophia terkejut dengan respon putrinya. Why? Bukankah bagus. Artinya mereka bisa bersama lagi.
"But ..." sambung Lawrence sejenak, "tolong jangan biarkan dia menikahi orang lain."
"Ya?" Rachel dan Sophia sama terkejutnya. Apa maksudnya?
"Tunggu aku memutuskan," lanjut Lawrence lagi.
__ — ------------
"Dia melupakan Lawrence?!"
"Jess, kecilkan suaramu," tegur Sophia pada putri pertamanya. Putri yang pernah ia kenalkan pada Rachel juga. Wa
"Ya Tuhan, mengapa jadi seperti ini?" Jess menatap iba pada sang adik yang sering melamun di jendela kamarnya sejak kecelakaan Xavier.
"Rachel tidak tahu mengenai hubungan mereka. Itu sebabnya yang lain berpikir Xavier baik-baik saja. Hanya ingatan tentang Lawrence yang menghilang."
Sophia menyentuh pundak Jess. "Bicaralah padanya." Jess mengangguk.
Jess mendekati Lawrence yang sedang duduk memeluk lutut seraya menatap langit. Adiknya seperti kehilangan gairah hidup. Cinta memang bisa mengubah orang. Jess hanya mampu terkekeh miris di dalam hati.
Ia duduk di sebelahnya, lalu memeluk sang adik yang terlonjak karena kedatangannya.
"Kakak?"
"Aku penasaran kemana perginya pendongeng malamku." Jess mencoba menghibur.
Lawrence tersenyum tipis meski masih ada jejak kesedihan di wajahnya.
"Kau sudah besar. Aku tidak punya cerita lagi."
Benar, kisah cintanya sudah berakhir sampai disini. Tidak akan ada lagi gadis antusias yang menceritakan pujaan hatinya.
"Sayang sekali." Jess berpura-pura sedih.
"Minta kekasihmu saja yang membacakannya untukmu," ucap Lawrence.
"Bagaimana ya, aku kan tidak punya kekasih." Masih memasang wajah sedihnya.
"Hei! Kau bilang apa?!" Jess kesal.
"Aku hanya bercanda, kak." Memeluk sang kakak sambil memperlihatkan giginya yang rapi. Kesedihannya sedikit berkurang.
"Kau tenang saja. Aku akan membuatmu menikahi seseorang!" hibur Lawrence.
"Kalau begitu nikahkan saja aku dengan Xavier!"
Lawrence langsung bungkam dengan raut tak terbaca. Jess segera menyadari kesalahannya.
"Aku hanya bercanda, Lawrence. Jangan terlalu serius."
"Tenang saja." Lawrence menampilkan senyum.
Jess ikut tersenyum. "Kita tidak bisa menikah. Percuma saja, akhirnya selalu buruk. Itu seperti kutukan," kata Jess menghela nafas, ikut menatap langit malam yang dipenuhi oleh bintang.
"Aku tahu alasanmu berhenti," lanjut Jess. "Dia hanya melupakanmu, kau bisa membuatnya jatuh cinta lagi. Tapi kau sadar itu tidak berguna, kan?"
Lawrence terdiam. Dulu ia tidak mempercayai hal tersebut, tapi setelah kejadian yang di alami Xavier, Lawrence sadar jika itu adalah pertanda.
"Bagaimana jika dugaanmu salah?" Lawrence menatap sang kakak, "bukan kutukannya, tapi orangnya."
"Maksudmu?"
"Tidak ada yang salah dengan kutukan atau pernikahan, tapi orang yang menjalani pernikahan itu."
Jess mengangkat sudut bibirnya. Meski adiknya masih sangat naif, namun ia tidak begitu bodoh juga. "Kalau begitu kita coba saja. Kita harus membuktikannya sendiri."
Keduanya saling berpelukan. Meski menjalani dua kehidupan yang berbeda, mereka menerima takdir masing-masing.
"Kak ...."
"Hmm?"
Lawrence mendongak menatap Jess. "Aku mencintaimu."
Jess tergelak, "Apa apa denganmu?"
"Aku serius!" Lawrence cemberut.
"Haha ... Maaf. Aku juga mencintaimu, of course! Aku mencintai kalian semua."
"Sekarang katakan ada apa?" Menatap Lawrence serius.
"Apa?"
"Lawrence," tegurnya.
Gadis itu diam sejenak, kemudian berkata, "Aku bermimpi buruk belakangan ini."
Mendengar itu, firasat Jess menjadi tidak enak.
"Aku bermimpi tentang kecelakaan itu. Xavier hidup dengan baik. Dia menikah dan memiliki anak. Sedangkan aku— aku akan mati. Semua orang menangisiku. Mom dan dad juga ikut pergi bersamaku—"
"Lawrence!" Tanpa sadar Jess membentak, "jangan katakan itu." Suaranya nyaris berbisik, menahan gemuruh di dadanya. Air mata mengalir di ujung matanya.
"Kau akan baik-baik saja, aku janji."
"Aku tahu." Lawrence tersenyum, "mungkin aku akan terlahir kembali dan menjadi istrinya."
"Ya, aku akan menukar nyawa jika kau harus mati lebih dulu."
"Apa yang kalian bicarakan?" Sophia datang bergabung. Wanita itu mendengar semua ucapan keduanya dan datang untuk menghentikan.
Sophia menghapus air mata Jess yang membekas.
"Lawrence, jangan mengatakan hal seperti itu lagi!" tegur Sophia, "lihat kakakmu menangis."
"Maaf," jawabnya menunduk.
"Mom, bukan salahnya." Jess membela.
Sophia menghela nafas. Ia duduk di tengah-tengah keduanya. Merengkuh dua putrinya yang telah dewasa. Keduanya sebenarnya tidak tinggal bersama, hanya Jess yang sering datang untuk berkunjung karena ikut dengan ayahnya setelah mereka bercerai.
"Kalian adalah putri kesayangan kami. Kalian berdua sama di mata mom dan dad. Terima kasih karena tidak membenciku dan ayahmu."
"Mom—"
"Berjanjilah satu hal padaku." Menatap kedua putrinya, "apapun yang terjadi pada kami di masa depan, jangan biarkan satu tetes air mata pun jatuh di mata kalian! Jangan ada air mata untuk menangisi kepergian kami kelak."
"Mom!"
Sophia benci melihat air mata yang mengalir di mata Jess tadi. Meski hanya bekas yang tersisa, itu menunjukkan sisi lemahnya.
"Kalian harus tersenyum. Mom tidak ingin ada kesedihan di antara kalian berdua."
"Terutama kau Lawrence. Tegaslah! Kejarlah apa yang menjadi milikmu. Apapun hasilnya, kau sudah bekerja keras."
"Maaf, kami menyembunyikan kalian dari semua orang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...