De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
My Big Baby


Hembusan angin malam menerpa wajahku dengan lembut dan aku menikmatinya meski rasanya isi kepalaku sedang berperang.


Dunia penuh tanda tanya. Bukankah begitu?


Hari ini kisah lama Jessica kembali ku dengar, lalu berbagai pertanyaan muncul di kepalaku. Apa yang terjadi? Apa yang dilakukan Jessica? Dengan siapa ia pergi dan mengapa ia pergi? Pada siapa aku harus bertanya jika jawaban itu hanya ada padanya.


Jessica bukan wanita yang suka bepergian terlebih hanya seorang diri. Tapi la memang


pergi sendiri, begitu pernyataan kakek. Wajar jika aku merasa cemas, bukan? Aku tahu sudah sangat terlambat untuk merasa begitu.


Kalian mungkin berpikir aku terlalu santai, namun ketahuilah aku sangat ingin berteriak dan menjerit sekuat tenaga, kemudian menangis begitu keras hingga seluruh dunia mengetahui jika aku juga terluka.


Namun aku tahu semua itu tidak berguna untukku. Why? Karena semuanya adalah sia-sia! Kakakku tidak akan kembali jika aku berteriak dan orang tuaku tidak akan bangun meski aku menangis.


Tapi semua itu akan terbayar dengan penderitaan mereka yang terlibat. Aku ingin melihat air mata mereka sebagai pengganti dari air mataku yang mengering. Bukan air mata bahagia melainkan air mata penyesalan.


Semua hanya soal waktu...


-


-


-


"Bagaimana?"


"Mereka menjauh begitu melihat kedatangan kita, Sir." Seperti dugaan, ada yang mengawasi Jessie.


"Terus awasi. Jangan sampai ada yang berani mendekat!"


"Yes, Sir." Felix menunduk lalu keluar.


Xavier mengelus lembut pipi istrinya yang sudah terlelap itu. Kekhawatiran akhirnya membawanya ke Helsinki tempet wanita ini berada.


"Dirimu sulit ditebak, kau tahu itu? Setiap mengingatmu aku menjadi cemas. Aku ingin kau bergantung padaku. Bagaimana jika kau tidak membutuhkanku lagi?"


Xavier memberi kecupan singkat di keningnya setelah merapatkan selimut Jessie. Bertepatan setelah itu, notifikasi pesan masuk di ponsel istrinya.


Tuan besar


Alroy menghubungiku jika putrinya menangis mencarimu. Aku tahu kau sudah tidur, jadi hanya memberitahu lewat pasan. Luangkanlah waktumu sebelum pergi.


"Cih! Memangnya mengapa? Jika putrinya menangis itu urusannya. Untuk apa melibatkan istriku." Dengan santainya Xavier menghapus pesan dari tuan besar tersebut.


Di sisi lain tuan besar merasa heran karena pesannya terbaca namun tidak terbalas. Tidak biasanya lessie mengabaikan pasan darinya.


Cup.


Satu kecupan lembut dan singkat ia berikan. Tak lama satu tangannya terulur menyentuh setiap permukaan wajahnya. Mata setajam elang, hidung mancung, bibir sexy menjadi keindahan tanpa cela.


"Sudah puas? Jika sudah, aku akan membuka mataku sekarang."


Jessie spontan menarik tangannya.


"Kau—" Tanpa sadar memberi pukulan kecil di dada Xavier. Pria itu tersenyum dan membuka matanya.


"Masih saja malu, heh? Padahal sudah melihat lebih daripada itu," ejeknya, menarik pinggang istrinya agar kembali mendekat.


"Kau— mesum!!"


"Hanya dengan istriku, jawabnya menahan senyum. Xavier merapatkan tubuhnya dengan memeluknya erat. Menelusupkan kepalanya di rengkuhan Jessie seperti seorang anak yang berlindung kepada ibunya.


Jessie membalasnya sembari memberi kecupan-kecupun kecil di kepalanya berulang kali.


"My big baby," bisik Jessie.


"My big mountain," balas Xavier membuat pukulan kecil kembali mendarat di punggungnya, namun pria itu hanya terkekeh.


"Kau kemari. Bagaimana pekerjaanmu? Kau tidak meninggalkannya karena diriku, kan?" Jessie tak berhenti memberi elusan di kepala suaminya.


"Aku mengerjakannya secepat mungkin.”


"Really?" Jessie tidak yakin.


Kau menumpahkannya pada orang lain, kan! batin Jessie mencibir.


"Kau tahu nomor kamarku dan hotel tempatku menginap. Suamiku sangat perhatian." Mengecup kening Xavier dengan terselip ejekan dalam perkataannya.


"Benarkan aku sangat perhatian. Felly seja yang tidak mengerti! gerutunya tiba-tiba.


"Felix?"


Kepala Xavier mengangguk di dadanya. "Dia bilang aku sangat posesif. Sekarang kau sendiri yang bilang aku perhatian kan."


Ck! Jessie langsung memasang wajah jengah. Felix ternyata lebih waras daripada atasannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...