
"Tidak ada hubungannya dengan bayi." Mata elang itu masih menatap istrinya, "mengenai pekerjaan, kita sudah sering membahasnya." Suaranya mulai melunak. Tangan Xavier terulur menyentuh wajah mulus tanpa cacat itu.
"Maaf, aku hanya kesal kau tidak memberitahuku." Memeluk istrinya dengan sayang, "aku semakin kesal saat mengetahui tujuanmu adalah Finlandia. Kau mengumpankan diri?"
Jangan sampai hal buruk terulang lagi.
"Siapa yang mengumpankan diri?"
"Itu sarang mereka. Belum lagi kau akan menemui tuan besar. Aku tidak bisa bersamamu karena harus pergi ke Madrid." Lalu bagaimana ia menjaga istrinya?
Jessie tersenyum di dadanya. Ia senang karena marah pria karena mengkhawatirkannya.
"Tuan besar sudah mengutus orang untuk menjaga kami selama disana. Lagipula aku pergi bersama Ellard."
"Tunggu aku kembali," bujuk Xavier, "lalu aku akan pergi bersamamu."
"Kau bisa menyusulku setelah pekerjaanmu selesai."
"Aku tidak mau!" Enggan melepas wanita itu.
"Xav ..." Jessie menyentuh rahang tegas dengan jambang tipis itu. Wajah sempurna yang di gilai banyak wanita dan bibir sexy nya yang bisa meningkatkan birahi.
Bukankah pria ini terlalu berbahaya?
"Trust me?" Ia melembutkan suaranya sehalus mungkin, menyakinkan pria itu jika semua akan baik-baik saja.
Tatapan mereka saling beradu lama. Xavier menatap lekat manik kecoklatan istrinya. Tak lama kemudian bibir keduanya sudah menyatu. Ciuman panas tak terhindarkan dengan Xavier yang sudah membopong sang istri menuju ranjang mereka.
******* mulai memenuhi ruangan akibat hentakan Xavier yang tak mau melepaskannya setelah berkali-kali bercinta dengannya.
Jessie menganggap ini adalah persetujuan dari suaminya.
"Kau ingin bayi perempuan atau laki-laki?" Setelah pertempuran mereka dengan Jessie yang bersandar di dada suaminya.
"Keduanya," jawab Xavier mengecup kening Jessie," perempuan secantik dirimu dan laki-laki setampan aku," katanya narsis. Jessie terkekeh mendengar kepercayaan diri Xavier.
"Bagaimana jika wanita tapi setampan dirimu?"
"Jika laki-laki tapi sepertiku?"
"Tidak apa-apa."
"Jika keduanya mirip denganku?"
Xavier tak dapat menahan senyum. Dikecupnya bibir cerewet istrinya cukup lama, hanya kecupan!
"Tidak masalah asal itu bersamamu," jawab Xavier gemas.
Jessie kemudian memeluk pria itu tanpa bertanya lagi. Pertanyaan ini sebenarnya begitu menyakitinya. Entah mengapa ia menanyakan hal ini begitu saja. Lihat betapa senangnya wajah pria itu. Haruskah ia berkata jujur?
"Xav ..."
"Hmm?"
"Bagaimana jika aku tidak bisa hamil?" Tidak ada jawaban dari Xavier setelahnya. Cukup lama Jessie menunggu.
"Masih setahun. Tidak perlu berpikir hal lain." Xavier menarik selimut menutupi mereka, "tidurlah. Besok aku akan mengantarmu." Mengecup lembut kening Jessie dan memeluknya.
Kau menghindar! Jessie tersenyum miris di dadanya.
Mengapa begitu banyak cobaan untuknya? Hanya untuk bersama orang terkasih saja begitu banyak hal yang harus dilalui dan dikorbankan. Apa belum cukup merenggut seluruh keluarganya?
Xavier satu-satunya alasan ia bertahan. Berjalan dengan tekad demi memiliki kembali pria ini. Menguasai kerajaan bisnis sang kakek yang penuh intrik dan tumpahan darah hanya demi mengejar cinta lamanya ini. Sejauh apa lagi ia harus berjuang?
Jika bukan karena Xavier, tidak akan ada lagi nama Jessie maupun Lawrence yang akan orang kenal.
Tanpa sadar pelukan Jessie mengerat. Bayangan Xavier akan meninggalkannya membuatnya menegang.
Aku membutuhkanmu ....
Aku membutuhkanmu sebagai cahayaku. Jadilah penerang diantara gelap yang menutupi jalanku. Karena hanya kau satu-satunya sumber cahayaku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...