De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Rekaman


Setelah keadaan cukup tenang, Xavier baru menyadari jika istrinya belum sarapan. Ia menepuk keningnya dan segera berdiri mengambil nampan di atas meja.


"Kita makan dulu."


"Masih ada surat Jessica," tunjuk Jessie.


"No! Makan dulu." Xavier mengambil surat itu.


Dengan terpaksa wanita itu menurut. Ia bahkan menelan makanannya dengan cepat agar segera habis.


"Pelan-pelan, Baby."


Untungnya hanya bubur karena Jessie menolak makanan lain dengan alasan belum berselera.


"Minum dulu," tegur Xavier lagi saat istrinya berniat merebut surat Jessica.


"Sudah! Sekarang berikan," pintanya.


"No! Kiss me." Xavier menyembunyikan surat itu di belakang tubuhnya. Jessie mendelik kesal, "Sayang!"


"Tidak mau?"


"Ish!" Wanita itu segera mengalungkan tangannya dan mengecup bibir suaminya berkali-kali. Hanya mengecup! Jangan sampai ada adegan tambahan.


Xavier terkekeh dan menahan wajah itu agar bisa memberi ciuman lebih dalam. Mengu*lum dan menggigit agar bisa melesakkan lidahnya masuk.


"Xav!" rengeknya setelah berhasil melepas tautannya. Pria itu tertawa lagi.


"Baik, baik." Xavier duduk kembali disebelah Jessie setelah memberikan suratnya.


Baik! Mari kita lihat apa yang Jessica tulis.


Aku hamil.


What?! Kata pertama membuat Jessie tercengang. Berbeda dengan Xavier yang masih berwajah datar.


Kau pasti kaget, aku tahu. Aku tidak tahu harus mengatakan darimana jika menceritakan secara langsung padamu. Sebenernya aku menjalin hubungan dengan seseorang di Miami.


Jelas ia sangat kaget. Jika hamil, dimana anaknya sekarang?


Aku berniat kembali ke Finlandia setelah melahirkan. Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada kakek setelah mendapat kekuasaannya.


Jessie mengerti kecemasan sang kakak. Kakek pasti sangat marah jika mengetahuinya.


Aku mengirim sebuah rekaman di email mu. Kau bisa melihatnya sendiri. Aku membuatnya sebagai dokumentasi untuk anakku saat ia sudah besar nanti. Karena aku kakak yang baik, kau boleh melihatnya juga. Kalau begitu happy birthday, My Sister. Ngomong-ngomong bayiku sudah lahir sebulan yang lalu. Akan kutunjukkan padamu, nanti.


"Email? Astaga! Ambil laptopku cepat!" Menepuk lengan suaminya cukup keras agar segera bergerak.


Jika begitu, Jessica mengirim rekamannya di email lamanya. Untunglah ia masih mengingat jelas kata kuncinya.


"Aku tidak memakainya lagi setelah pindah, jadi tidak tahu Jessica mengirim sesuatu disana."


"Sudah ku coba! Jessica memang hobi memberi kejutan." Mulai mengutak-atik laptopnya.


Benar saja, ada rekaman video berdurasi dua puluh menit disana. Dengan ragu Jessie mulai memutarnya.


Rekaman awal langsung disuguhi oleh Jessica yang berperut buncit sedang duduk di sofa sambil mengelus perutnya. Terdengar suara laki-laki yang berbicara pada Jessica. Pria itu juga yang memegang kameranya.


Suaranya terdengar tidak asing. Xavier ikut menonton masih dengan wajah datarnya.


Sayang, cepat letakkan itu dan duduk kemari! Jangan menggangguku terus!


Jessica terdengar marah dan kesal. Pria itu justru tertawa dibalik kamera.


Baiklah, ku letakkan disini.


Layar sedikit terguncang saat kamera diletakkan tepat di depan Jessica. Melihat wajah itu, Jessie semakin merindukannya. Ia menggigit bibirnya untuk menahan air matanya. Namun perasaan itu segera berganti dengan kejutan lain saat melihat pria yang baru duduk di samping Jessica.


Pikirannya mulai berlarian kemana-mana.


"Alroy!" pekik Jessie. Pria itu Alroy?!


Dokter bilang dia perempuan, jadi aku ingin memberi nama Naomi!


Deg! Debaran jantung Jessie mulai berdetak kencang.


Awas kau tidak setuju! Jessica mulai mengancam Alroy.


Ya, aku setuju! Apapun yang diinginkan ratuku aku setuju!


Mengecup wajah Jessica dengan penuh cinta hingga wanita itu tertawa senang.


Jessie tak dapat menahan air matanya kembali. Ia memeluk suaminya dengan derai air mata sambil menatap layar laptopnya.


Lawrence, aku akan dipanggil Mama! pekiknya, mulai menyebut nama Jessie.


Naomi sayang, anak Mama yang paling cantik. Jika bertemu bibimu nanti, kau harus memanggilnya mama juga ya. Bibi Lawrence adalah adik mama, jadi juga termasuk mama nya Naomi. Mengelus-elus perutnya.


Tangis Jessie semakin pecah. Pantas saja gadis kecil itu begitu keras kepala. Ia pasti sudah melihat rekaman ini juga.


"Berarti dia putriku, kan?" tanyanya sesugukan pada Xavier. Pria itu mengusap wajah serta membersihkan ingus istrinya yang terlihat menggemaskan di matanya.


"Ya, dia memang putrimu, tapi tetap tidak boleh dekat-dekat dengan ayahnya," peringat Xavier dengan cemburu.


"Kau tidak terkejut. Kau pasti sudah tahu, kan?!" Jessie menatapnya tajam, "seharusnya beritahu aku." Buk! Memukul dada Xavier.


Pria itu menghela nafas sabar. Mengapa jadi ia yang disalahkan?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...