
Jessie duduk bersandar di kursi ruang kerjanya yang berada di mansion setelah pulang bekerja. Matanya terus menatap ke arah laci tempat buku kenangannya tersimpan.
Ia memikirkan semua ucapan Valerie padanya.
"Hati juga memiliki ingatan, Jess."
"Menurutmu mengapa Xavier yang kau sebut pria es dan kasar itu begitu mudah menerimamu sedangkan dulu kau membutuhkan waktu setengah tahun untuk membuatnya benar-benar jatuh cinta?"
"Karena itu naluri yang bergerak secara alami mengikuti arahan hati! Meski dia melupakanmu, tapi hatinya masih memiliki kenangan kalian!"
"Kenangan? Hati?" gumam Jessie termenung.
"Sedang memikirkan apa?" Jessie sedikit tersentak dan menolah ke asal suara.
"Mom?"
"Aku sudah disini sejak beberapa menit yang lalu." Rachel menunjuk kursi yang sedang di dudukinya, "kau bahkan tidak menyadarinya."
Jessie menghembuskan nafas pelan dan kembali pada posisi awal.
"Tidak ingin bercerita?"
Jessie menatap mertuanya itu. Rachel tersenyum membalasnya.
"Mom ingat cerita tentang Laura?" Bicaranya akhirnya.
"Sure, aku masih ingat." Rachel mengangguk sambil berpikir, "memangnya kenapa?"
"Aku ingin bertanya pada Mom. Menurutmu suaminya akan ingat kembali?"
"Aneh sekali kau penasaran. Biasanya kau tidak peduli," katanya heran.
"Bukan begitu! Valerie mengatakan sesuatu yang membuatku berpikir."
"Apa?"
"Hati juga memiliki ingatan. Mom tahu itu?" tanya Jessie serius.
"Bukankah itu sudah jelas, Jess?"
"Iya, aku tahu itu hal normal bagi kita. Tapi bagaimana jika dikaitkan dengan kasus Laura."
Ternyata begitu. Rachel mulai memahami alur pembicaraan.
"Suaminya akan baik-baik saja, Jess. Kau bilang dia mengalami amnesia dan melupakan Laura, tapi sebenarnya tidak sepenuhnya begitu. Mom yakin dalam lubuk hati suaminya masih tersimpan kenangan tentang mereka. Jdi pria itu akan secara alami merespon meski dia sendiri kebingungan." Rachel terkekeh di kalimat akhir.
Penjelasan yang sama seperti ucapan Valerie. Jessie sebenarnya sudah berpendapat sama. Hanya saja tidak tahu harus mempercayainya atau tidak.
"Itu hanya pendapat Mom!" Rachel mengoreksi.
"Aku mengerti, Mom. Thank you."
"Hmm? I'm fine!" jawab Jessie.
Rachel kemudian tersenyum sembari menggenggam kedua tangannya.
"Bagaimana?"
"What?" tanya Jessie bingung.
"Apa sudah ada tanda-tanda?"
Jessie terdiam sesaat. "Sorry." Suaranya nyaris berbisik.
"No, it's okay. Jangan dipikirkan." Rachel tertawa canggung sembari mengibaskan tangannya.
"Mom ...."
"Sudahlah, aku hanya iseng saja." Tahu apa yang akan diucapkan menantunya itu.
Jessie tersenyum tipis. Berusaha menyembunyikan suasana hatinya yang sudah berubah.
"Aku akan ke Finlandia beberapa hari kedepan untuk melihatnya," putusnya berdiri dari duduknya.
"Melihat apa?" Rachel ikut berdiri, terkejut, "mom tidak masalah, sungguh! Jangan buat aku merasa bersalah."
"Mom bicara apa? Aku pergi untuk mengecek keadaan kakek."
Eh?
Jessie tertawa pelan melihatnya.
"Jangan khawatir, Mom. Hal seperti itu tidak membuatku tersinggung." Menepuk kedua pundak Rachel kemudian berlalu pergi dari sana.
Setelah menutup pintu, Jessie berdiri diam sesaat sambil menghela nafas pelan. Ia menyentuh perut datarnya yang belum terisi oleh kehidupan lain.
"Anda mungkin tidak bisa hamil. Kami harus menjalani beberapa tes untuk memastikannya."
Jessie tersenyum miris mengingat ucapan dokter yang terus terang. Haruskan ia mengatakan yang sebenarnya pada keluarga ini termasuk suaminya? Jujur ia takut pada reaksi mereka nantinya. Jessie tidak siap untuk kehilangan lagi.
Iya, dirinya berbohong tentang hasil pemeriksaan normal. Melihat betapa antusiasnya keluarga ini dengan kehadiran anak, Jessie tidak cukup berani untuk mengatakannya.
"Mrs ..." panggilan pelan dan berhati-hati itu menyadarkannya, "mobil tuan muda sudah hampir sampai," lanjut maid itu.
Ah benar. Sudah waktunya Xavier pulang. Ia harus menyambutnya seperti biasa.
"Thanks!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...