
Kota New York, Manhattan telah melewati musim dingin bersalju dan berlanjut menjadi musim dingin yang basah.
Orang-orang berlalu-lalang di sepanjang trotoar dengan mantel tebal yang melindungi mereka dari hawa dingin. Beberapa anak juga berlarian di dalam taman yang menghiasi kota Manhattan.
Seorang wanita dengan mantel berbulu disertai sepatu boots diatas tumit berjalan santai di atas trotoar dengan tangan bersembunyi di balik kantong mantelnya.
Wajah dan bibirnya terlihat memerah akibat cuaca dingin meski kepalanya telah ditutupi oleh topi mantel.
Jessie tersenyum menikmati suasana damai di kota basah ini. Hanya sendiri tanpa seseorang bersamanya. Sesekali ia berhenti seraya memejamkan mata, menghirup udara yang terasa segar untuk berdamai.
Merasa sudah berjalan cukup lama, Jessie mendudukkan dirinya di salah satu bangku kosong.
Drttt ....
Ponselnya berbunyi. Jessie sudah tahu siapa orangnya. Iya, Xavier. Pria itu pasti akan mengomelinya lagi.
"Kau dimana?!" Suara keras dari balik telpon memekakkan telinga. Jessie sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
See?
"Aku berjalan-jalan di sekitar rumah."
"Lalu mengapa mom tidak menemukanmu?" Suaranya masih tidak ramah.
"Oh?" Rachel mencarinya?
"Kau dimana? Biar aku menjemputmu."
"Central park," cicit Jessie. Bersiap menerima amukan baru.
"APA?!"
"Kau bilang itu— berjalan-jalan!"
Oh God!
Xavier diujung sana menggusar rambutnya. Jessie cukup sensitif dengan hawa dingin dan mudah sakit, tapi sangat menyukai hujan. Musim dingin belum sepenuhnya berakhir namun Jessie sudah berkeliaran dengan berjalan kaki.
"Aku memang berjalan-jalan, tapi tidak sadar hingga kesini." Mengecilkan suaranya.
Cuaca memang sangat dingin hingga mulutnya pun mengeluarkan uap saat berbicara.
"Kau ini!"
"Diamlah, jangan kemana-mana lagi. Tunggu aku!"
"Hmm, baik."
Sudah setahun pernikahan mereka. Benar-benar setahun! Ya, Jessie juga tidak mempercayainya, namun itulah yang terjadi.
Jika bertanya apa yang telah terjadi selama setahun ini, semua juga berjalan lancar, meski masih ada pertengkaran kecil. Itu hal biasa dalam sebuah hubungan, bukan?
Bagaimana dengan Miranda? Jujur saja mereka tidak pernah bertemu lagi sejak kejadian di perusahaan. Lalu Austin dan Rebecca? Keduanya masih sering datang ke perusahaan untuk masalah Lawrence.
Selama menunggu Xavier, Jessie hanya berdiam diri memperhatikan tempat yang mulai sepi. Hanya ada pedagang-pedagang jalanan yang biasa menatap disana.
Hingga perhatiannya tertuju pada seorang anak laki-laki yang duduk di salah satu bangku tak jauh darinya. Jessie semakin terfokus saat melihat apa yang dikenakan anak lelaki itu.
Kaos tipis berlengan panjang dengan jeans. Tangan kecilnya saling bertaut melawan hawa dingin dengan tubuhnya yang gemetar.
"Ya Tuhan!"
Sontak saja itu membuat tubuh Jessie berdiri dan membawanya melangkah kesana.
"Oh God, Ellard!" Anak laki-laki itu terperanjat dari tempatnya. Belum sempat anak itu merespon, sebuah mantel tebal langsung melapisi tubuhnya.
Jessie sudah melepas mantel yang di kenakannya dan memakaikannya pada bocah yang dipanggilnya Ellard itu. Jessie terlihat panik disertai wajah khawatir.
"Apa yang kau lakukan disini?! Kau ingin terkena hipotermia!" bentaknya.
Ellard hendak membuka mulut namun Jessie sudah menariknya, membawanya ke salah satu pedangan yang menjual minuman hangat.
"Bagaimana kau ada di New York? Kakek tahu kau pergi? Baga—"
"CUKUP!!" Anak itu berteriak, mengundang banyak mata ke arah mereka.
Jessie mengatup mulutnya sembari mengulurkan minuman hangat itu pada Ellard dan langsung diminum olehnya.
"Nanti saja bertanya nya, Jess. Aku sudah mem— beku." Suaranya bergetar akibat suhu tubuh.
"Jel—"
Xavier berlari ke arah mereka.
"Dimana mantelmu! Astaga Jess ..." Mengusap-usap lengan Jessie sebelum memakaikan mantel miliknya di tubuh sang istri, "kau benar-benar bisa membuatku gila!"
Jessie hanya mengerucutkan bibirnya tanpa melawan. Salah satu rutinitas harian adalah mendengar omelan Xavier!
Sekarang karakter mereka pun ikut terbalik. Yang benar saja!
"Ayo pulang."
Xavier terlebih dulu mengeluarkan selembar uang dari dompetnya untuk membayar segelas kopi panas yang di pegang istrinya, lalu menariknya pergi.
"Tunggu, bawa dia juga." Jessie berusaha menggapai Ellard yang mematung menatap keduanya.
"Siapa dia?" Wajah Xavier sedikit tidak ramah melihat laki-laki yang diperkirakan masih berusia lima belas tahun itu. Belum lagi mantel yang ia yakini milik Jessie ada padanya.
"Akan ku jelaskan nanti," jawab Jessie, "hei cepatlah!" Menarik Ellard bersamanya yang masih mencerna kejadian yang ia lihat.
Xavier tak lupa menyalakan pemanas setelah mereka masuk ke dalam mobil. Ellard di jok penumpang tampak lega.
"Akan turun hujan lagi. Sudah kubilang jangan keluar sembarangan di cuaca seperti ini. Bagaimana jika kau sakit?!"
Cerewet sekali pria ini. Seharusnya dirinya yang banyak bicara sebagai wanita.
Namun Jessie tersentuh dengan sikap Xavier yang begitu mengkhawatirkannya. Pria itu juga menggosok kedua tangannya agar hangat.
"Apa hubungan kalian?"
Keduanya sontak menoleh. Benar juga! Masih ada anak belum dewasa yang hendak Xavier interogasi.
"Aku suaminya! Beraninya kau membuat Istriku melepas mantelnya untukmu."
Jessie spontan memukul lengan Xavier. Astaga pria ini!
"Dia pencemburu sekali," gumamnya sambil menatap Jessie, namun tetap terdengar di telinga Xavier.
"Aku sangat terkejut kau sudah menikah!" Ellard sungguh terkejut, "kakek bilang mungkin kau akan menyendiri hingga beberapa tahun kedepan."
"Memangnya kenapa?!" hardik Xavier tidak suka.
"Xav," tegur Jessie, "Dia Ellardo Lawrence. Sepupu Lawrence, sama seperti Rebecca," jelasnya.
"Rebecca? Paman Austin juga disini?" sahut Ellard.
"Sejak awal!"
"Wah ... Mereka bertekad sekali." Ellard tidak heran lagi.
"Ck! Satu lagi pembawa masalah." Xavier berdecak kesal sambil menjalankan mobilnya.
"Hei! Meski aku juga dari keluarga Lawrence, aku tidak berniat untuk melawan Lawrence." Ellard membela diri.
Kebanyakan dari keluarganya sibuk memperebutkan kekuasaan milik Lawrence. Namun ia tumbuh besar bersama sang kakek yang telah mendidiknya sebaik mungkin agar tidak menjadi seperti yang lain termasuk orang tuanya sendiri yang lebih mementingkan harga benda.
"Lalu mengapa kau disini? Seharusnya kau berada di Finlandia, kan," tanya Jessie.
"Kakek membiarkanku bebas asal harus bersamamu di Amerika. Ku kira kakek akan memintaku mencari Lawrence. Hanya kau saja ternyata."
"Kenapa harus istriku? Pergilah dengan Valerie." Xavier tidak terima. Sampai kapan Jessie harus terlibat dengan keluarga itu.
"Siapa Valerie?" Ellard tidak ingat nama itu.
"Kau mengenal Jessie tapi tidak mengenal Valerie, ck!" cibir Xavier.
"Hei, Sir. Aku memang tidak tahu! Lagipula hanya Jessie yang dikenalkan oleh kakek."
"Sudah hentikan! Aku akan menghubungi tuan besar nanti." Jessie memijat kepalanya pusing.
"Kakek tahu tentang pernikahanmu?"
Entahlah. Ia memang belum pernah membicarakan hal ini. Sudah sangat lama sejak terakhir kali mereka saling menghubungi. Ternyata kakeknya masih ingat dengan menitipkan anak ini.
Sebenarnya bukan anak-anak lagi karena sudah menginjak masa remaja. Namun Jessie masih menganggapnya seperti itu.
"Dimana kau tinggal saat ini?"
"Hotel terdekat dari perusahaan Lawrence."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...