De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Tidak Pandai Berbohong


Jessie keluar dari ruangan dengan pandangan kosong. Di depan ruangan dipenuhi oleh wanita-wanita hamil yang mengantri. Jessie menatapnya dengan perasaan terluka.


"Bayinya bergerak!" seru seorang ibu senang. Wanita hamil lain di sampingnya ikut merespon senang dengan memegang perut ibu tersebut.


"Dia bergerak!" katanya.


Iri, itulah yang ia rasakan sekarang. Apa kehidupannya yang nyaris sempurna harus dibayar dengan ini?


"Mrs? Anda baik-baik saja?" Wanita hamil lainnya mendekat dan menyentuh pundaknya.


"Aku baik, terima kasih." Senyum Jessie.


"Kau kelihatannya masih muda. Anak pertama?" tanyanya.


Bibir Jessie kelu, tak mampu menjawab.


"Kau terlihat cemas."


Jessie tersenyum dibuatnya. "Aku belum diberi kesempatan," ungkapnya kemudian.


Ekspresi wanita itu berubah. Begitupun para wanita hamil yang ada disekitarnya. Mereka semua mendekat memberi dukungan.


"Jangan khawatir! Aku sempat putus asa karena belum diberikan kepercayaan setelah lima tahun menikah, tapi sekarang aku sudah punya tiga orang anak!"


"Kau lihat aku. Dokter bilang usiaku sudah tidak memungkinkan untuk punya anak, tapi aku hamil sekarang," celetuk yang lainnya.


"Tidak ada yang mustahil, Nak. Jadi jangan berpikir kau tidak bisa suatu hari nanti."


Jessie tak dapat menahan senyumnya yang semakin mengembang. Syukurlah masih banyak orang-orang baik di dunia ini.


"Terima kasih banyak. Kudoakan kalian selalu sehat dan bayi kalian lahir dengan lancar tanpa kekurangan," ucap Jessie tulus. Tanganya terulur menyentuh satu-persatu perut ibu hamil di dekatnya, "kalian mempunyai orang tua yang luar biasa. Tumbuhlah dengan baik dan limpahkan orang tua kalian dengan cinta yang tidak terbatas."


-


-


-


-


"Apa perlu ku masukkan benda itu ke tubuhmu saja, hmm?" Meremas pinggang ramping istrinya.


Jessie meringis pelan. Ya, ia memang cukup berani hari ini demi menghindari pelacakan suaminya.


"Ponselku mati, Sayang. Lalu cincin, aku lupa memakainya," alasannya.


"Kau tidak pernah melepasnya." Masih menahan pinggang sang istri, "mengapa hari ini di lepas?"


"Tidak sengaja. Mungkin ...," cicitnya pelan.


Xavier menaikkan sebelah alisnya.


"Kau tidak pandai berbohong, masih ingin berbohong?" Xavier menyeringai. Tangannya mulai menyentuh leher jenjang istrinya.


Jessie tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Pria ini pasti akan mencekiknya. Salah satu kebiasaan yang sering dilakukannya dulu meski Xavier sendiri takkan mengingatnya.


Ketahuilah, saat dirinya mulai tidak menurut maka pria itu akan mulai menggunakan kuasanya. Menekannya dalam rengkuhan sehingga orang lain tidak akan berani mendekat.


Namun perlakuan inilah yang menunjukkan jika Xavier telah menjadikan dirinya sebagai miliknya sekali lagi, meski dalam ingatan yang berbeda.


Sebelum tangan kekar itu mencengkeram lehernya dengan sempurna, Jessie segera mengalungkan lengannya dan mencium bibir pria itu.


Xavier diam tidak membalas, membiarkan istrinya melakukan pengalihan untuk dirinya itu.


Jessie tidak menyerah. Menyesap hingga membiarkan bibir itu terbuka untuk melesakkan lidahnya meski disertai debaran kuat di dadanya. Ia sudah gila. Ini adalah hal berani yang pertama kali ia lakukan.


Jessie mulai kehabisan nafas, namun Xavier belum menunjukkan reaksi apapun. Dengan nafas naik turun ia akhirnya menyerah dan menjatuhkan kepalanya di dada Xavier.


Wanita itu tidak melihat jika sudut bibir Xavier terangkat, menunjukkan senyum licik.


"Menyerah?"


Jessie mengangguk. "Maaf— emphh ...." Belum selesai berbicara, tubuhnya sudah terhempas ke ranjang dengan Xavier yang mengulum bibirnya.


"Sekarang giliranku," bisiknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...