De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Hampir Gila


"Aku juga tidak menduga jika Naomi akan langsung memanggilnya mama."


Ellard menghentikan langkahnya sebelum memasuki ruang kerja pribadi kakeknya. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk ketika mendengar pembicaraan yang membuatnya penasaran.


Sir. Alroy?


Ellard mengintip di balik pintu yang sedikit terbuka.


"Aku bahkan belum berniat mempertemukan mereka. Siapa sangka jika Naomi sendiri yang menemukannya."


"Ck! Jangan tersenyum seperti itu. Jika bukan ayah dari cicitku, aku belum bersedia menerimamu!" Suara tuan besar terdengar keras.


Cicit!? Kakek punya cicit! Siapa? Ellard semakin penasaran. Ia mulai mengingat-ingat siapa cucu tuan besar yang sudah memiliki anak. Tidak ada!


Tunggu! Apakah Lawrence? Apa itu alasan sepupu perempuannya tidak pernah muncul? Ellard kembali memasang telinganya.


"Aku tahu. Itu sebabnya aku bekerja keras hingga mencapai titik ini. Aku tidak mau membuat putriku malu," ujar Alroy.


Sayangnya ia terlambat membuktikan pada satu orang lagi. Orang itu telah pergi tanpa bisa dimiliki lagi.


"Tuan besar, aku sungguh mencintainya. Hanya Naomi yang kumiliki dari bagian dirinya. Terima kasih karena membiarkannya bersamaku."


Jika tidak bertekad keras, mungkin sudah lama ia kehilangan Naomi. Bagaimanapun putrinya adalah keturunan dari ahli waris yang sah.


"Tidak perlu berterimakasih. Kau pikir aku begitu jahat hingga memisahkannya dari ayahnya!"


Alroy tertawa pelan. "Dia sudah menceritakan semua tentang anda, tuan besar. Dia bilang kakeknya bukan orang yang kejam. Sekarang aku percaya."


"Hentikan omong kosongmu." Tuan besar memalingkan wajah, "tapi mengapa Lawrence belum juga membalas pesanku! Sudah dua hari yang lalu aku menyuruhnya datang!"


Benar! Memang Lawrence. Pantas saja Alroy selalu dekat dengan kakek! Rupanya suami Lawrence.


Ellard ingat jika Lawrence memang telah menikah dari ucapan Jessie. Siapa sangka jika itu adalah Alroy, bahkan sudah memiliki anak! Itu berarti hubungan mereka sudah berlangsung lama.


"Kakak sedang apa?" Suara itu tiba-tiba mengejutkan Ellard. Gadis kecil menatapnya dengan polos.


Ellard mengelus dadanya lalu meletakkan jari telunjuknya di bibir. Gadis kecil itu ikut meletakkan jari telunjuknya di bibir.


"Ayo!" Mulai menuntun gadis itu menjauh dari sana.


Ellard duduk dan menegak air di dapur. Ia kembali memikirkan ucapan kakeknya yang menyuruh Lawrence datang sampai melupakan keberadaan makhluk kecil di sampingnya.


"Sungguh? Apa dia akan muncul?" gumam Ellard berpikir. Tak lama kemudian ia menggeleng, "tidak mungkin!"


Eh? Ia hampir lupa jika ada gadis kecil yang tidak tahu darimana asalnya.


"Siapa kau? Bagaimana bisa ada di kediaman pribadi kakek?" tanyanya.


"Ada papa disini," jawabnya polos.


"Papa? Siapa papamu?"


Gadis itu menunjuk pintu ruangan kakeknya yang tidak jauh dari arah dapur. "Disana."


Ellard melotot kaget, lalu dengan cepat mendekatinya. "Kau Naomi?!" Dan dijawab anggukan olehnya.


Oh God! Ini putrinya Lawrence. Apa Jessie tahu? Dia pasti tahu, bodoh!


"Naomi bersama papa ingin bertemu mama!" katanya antusias.


Ellard mengerjit heran. "Memangnya kau belum bertemu?" Cara bicaranya seperti baru pertama kali akan bertemu.


"Naomi baru bertemu sekali saat pesta. Sekarang akan bertemu lagi!"


What?


"Naomi— apa tidak tinggal bersama mama mu?" tanya Ellard lagi, menunggu untuk memastikan dugaanya.


Benar saja Naomi menggeleng. "Mama baru datang dari surga. Papa bilang mama ada di surga, tapi Naomi sudah menemukannya!"


Tunggu!! Sebenarnya apa yang terjadi?! Lawrence sudah mati? Lalu Lawrence siapa yang mereka bicarakan?


Jangan-jangan— Jessica!


Apa Jessica sungguh Lawrence yang sebenarnya? Lalu Lawrence yang saat ini ... Dia bukan Lawrence? Tapi pengganti?!


Tapi Naomi bilang dia sudah menemukan ibunya. Bukankah artinya masih hidup? Jika begitu Jessica bukanlah Lawrence!


Ellard menggusar rambutnya pusing. Seharusnya ia tidak perlu menjadi penasaran.


"Kakak baik-baik saja?"


"Tidak! Aku hampir gila!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...