De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Pesta Kecil


Disinilah Jessie menginjakkan kakinya kembali. Setelah menempuh perjalanan hampir delapan jam lebih dari kota New York menuju Helsinki, ibu kota Finlandia. Negara yang mendapat peringkat pertama sebagai kota paling bahagia di dunia sekaligus kota terbesar di Finlandia.


Dikatakan demikian, karena Helsinki memiliki pesona keindahan yang memanjakan para penghuni serta pengunjungnya.


Jessie mengamati setiap perjalanannya dengan memandang hiruk piruk kota yang begitu ramai. Setiap tahunnya akan ada festival di kota ini. Sayangnya festival telah berakhir sebelum ia datang.


Disinilah tempat kelahirannya. Saksi dari semua perjalanan hidupnya yang beranjak remaja. Meski begitu kehidupannya tak sebahagia julukan kota ini.


Di kota yang indah ini, semua kenangan buruk terukir.


Sopir yang membawanya akhirnya berhenti tepat di depan sebuah mansion besar dengan gaya Eropa klasik. Edgar ternyata sudah berdiri di depan pintu menyambut kehadirannya.


Jessie keluar dengan memandang heran sekelilingnya yang dipenuhi banyak mobil.


"Tuan besar mengadakan pesta kecil untuk kenaikkan jabatan Lawrence."


"Kebetulan sekali," cibir Jessie mengikuti Edgar masuk. Kedatangannya hanya menjenguk tuan besar sebentar, bukan mendengar banyak jilatan dari para kalangan atas disana.


"Anda tidak perlu kesana jika tidak mau, Miss. Pelayan sudah menyiapkan kamar."


"Mereka pasti sedang mengeluh tentangku, kan? Aku harus menjaga telinga kakek!"


Mereka berbelok menuju halaman belakang dimana pesta diadakan. Benar saja, keramaian langsung menyelimuti. Para wanita dan pria dari muda hingga yang tua semua hadir disana.


Keberadaan Edgar yang menarik perhatian banyak orang. Ditambah ada seorang wanita bersamanya. Hal itu membuat semua perhatian langsung tertuju padanya.


Mereka seperti tidak pernah melihat wanita saja!


Kebanyakan hampir tidak berkedip. Pesonanya memang tidak di ragukan meski ia hanya mengenakan pakaian santai berserta sepatu sneakers.


Mereka berhenti begitu sampai di depan seorang pria tua dengan rambut putihnya yang telah dimakan usia.


Tua? Jessie tidak yakin apa bisa disebut seperti itu karena wajahnya masih saja tampan dengan tubuhnya yang bugar.


Jessie terkekeh dalam hati menertawakan ekspetasinya yang membayangkan seorang pria tua yang sudah berjalan tertatih-tatih dengan memegang tongkat.


Aku curiga kakek melakukan oplas!


Paul De Lawrence. Tanpa perlu mengenali wajah lagi, Jessie masih mengingatnya. Tidak banyak yang berubah setelah enam tahun kecuali wajah yang sedikit keriput.


"Saya juga baru mengetahuinya tadi, Tuan besar," ucap Edgar karena Jessie sendiri baru menghubunginya.


"Selamat malam, Tuan besar. Maaf saya baru datang malam ini. Saya harus menemani tuan muda Ellard terlebih dahulu." Jessie membungkuk sedikit sebagai tanda hormat.


"Anak itu! Dimana dia sekarang?" Paul bangkit dari duduknya dan mendekati Jessie.


"Kau sudah dewasa ya! Baguslah. Aku punya kenalan jika kau mau." Pria tua itu merangkul cucunya yang merangkap menjadi asisten itu sambil menepuk-nepuk lengannya.


"Tidak perlu repot-repot, tuan besar. Terima kasih banyak." Tersenyum paksa dengan memberi peringatan dimatanya.


Untungnya Xavier tidak ada disini.


"Tuan muda Ellard bilang akan menyusul besok."


"Baiklah, terserah dia saja."


Semua orang diam-diam berbisik menatap mereka. Melihat tuan besar yang begitu santai dan akrab terhadap Jessie memperkuat keyakinan mereka agar tidak menyinggung wanita itu.


Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan Jessie yang hanya merespon kecil, tuan besar akhirnya memintanya untuk naik ke podium.


"Selamat malam semuanya. Perkenalkan aku Jessie Millen. Asisten atau tangan kanan dari Miss. Lawrence sendiri. Malam ini aku berdiri di hadapan kalian semua untuk menyampaikan pesannya—"


"—pada kesempatan kali ini, dia sungguh menyesal karena belum bisa menunjukkan diri. Tapi percayalah dia selalu melakukan tugasnya. Usianya memang muda, namun Miss Jessica jauh lebih muda saat memimpin beberapa tahun lalu."


"Kalian tidak perlu khawatir atau meragukannya, terutama para petinggi yang duduk disana. Miss. Lawrence telah memimpin perusahaan sejak berusia dua puluh satu tahun dan masih berdiri dengan baik hingga saat ini. Jika kemampuannya buruk, bukankah perusahaan sudah jatuh sejak lama? Terima kasih!"


Jessie terus berbicara tanpa membiarkan orang-orang itu menyela. Kehadirannya hanya untuk datang, selesaikan, dan pulang!


Setelah mengucapkan kalimat yang cukup panjang itu, Jessie turun begitu saja. Tuan besar hanya tersenyum melihatnya. Cucunya yang satu ini memang berbeda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...