
Jessie PoV
Dia aneh ....
Sebenarnya seperti apa dia menganggapku?
Aku mempercayai satu opiniku yaitu Xavier telah jatuh hati padaku, namun ada saat dimana aku juga menjadi ragu dengan hal itu.
Kami menjalani pernikahan layaknya pasutri pada umumnya. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Kupikir akan sulit membuatnya menatapku, tapi Xavier telah menatapku di hari pertama kami.
Aku menyukainya ... Iya.
Itu sebabnya aku juga menginginkan pria itu di sisiku. Andai Xavier tahu jika perjodohan ini hanyalah alibi yang dibuat oleh Rachel dan Argus demi memenuhi keinginanku. Tanpa menikah pun, Xavier tetap akan menjadi pewaris satu-satunya kerajaan Johansson.
Katakanlah aku egois.
Merebut pria itu dari kekasihnya dan membuatnya menikahiku. Bukankah itu terdengar menyebalkan?
Of course no! Setelah bekerja keras sejauh ini hingga pria itu menatapnku dengan sukerela, apakah aku harus menyerah?
Meski aku akan pergi, aku juga tak berniat menyebutnya dengan menyerah. Menyerah artinya sia-sia. Dan itu bukan diriku.
Aku sangat mengenalinya, sangat. Ini bukan pertemuan pertama kami. Seharusnya dia mengenaliku jika saja ia mencoba untuk mengingat.
Namun ... Aku juga takut saat dia mengingat, maka dia akan membenciku. Sudah cukup sakit saat dia menatapku penuh kebencian kala itu. Aku tidak berniat untuk mendapatkannya lagi.
Sampai kapan aku harus terus memakai topeng di wajahku ...
Mungkin sampai aku berhenti membenci diriku sendiri.
Xavier, pria itu dingin dan kasar. Jangan percaya dengan wajah tampan dan malaikatnya itu. Aku tahu keberadaan Miranda bukan karena cinta, melainkan tameng untuk dirinya sendiri untuk menghindari pernikahan yang dibuat orang tuanya.
Why? Itulah yang ku maksud dengan kerja keras.
Xavier merupakan anak tunggal satu-satunya dalam keluarga Johansson. Pria itu terlahir dengan kekayaan dan tumbuh dengan sifat arogan dan percaya diri. Meski ada banyak wanita di luar sana yang menatapnya dengan harapan memiliki, namun hanya satu yang berhasil membuatnya tertarik.
Lawrence ....
Aku hanya bisa tersenyum miris saat mengingat betapa memujanya tatapan pria itu pada Lawrence. Bisakah aku kembali melihatnya untuk masa sekarang? Ini masa ku, bukan lagi masa nya! Aku ingin dia menatap seorang Jessie bukan Lawrence!
Lebih baik seperti ini bukan? Aku sudah mendapatkannya. Aku berhasil membuatnya menatapku juga. Tapi sekarang aku menginginkan hatinya ....
Bisakah aku juga menganggapnya begitu. Bahwa aku telah berhasil mendapatkan hatinya juga? Perlakuannya yang kadang menyebalkan namun juga manis membuatku memiliki harapan itu.
Meski belum ada pengakuan apapun.
Aku tidak ingin lagi mempercayai kutukan pernikahan yang disebut keluargaku dulu. Semua hanya kebetulan. Mereka mungkin salah menemukan seseorang yang tepat.
Itu sebabnya aku bekerja keras hingga sekarang. Aku ingin memiliki posisi yang setara dengannya. Dengan begitu tidak ada yang akan menentang kami. Aku ingin menjadi wanita yang kuat. Dengan begitu aku bisa melindunginya kali ini.
Maaf ....
Aku tidak bermaksud merusak kebahagiaanmu.
Aku akan menunggu kembali saat dimana kau memintaku untuk pergi. Saat itu, mungkin aku akan mengabulkan keinginanmu. Setidaknya aku telah mencoba. Namun jika bukan aku bahagiamu, akan ku turunkan ego demi dirimu.
"Xavier ...." Pria itu ada dipangkuan sekarang. Ku elus lembut rambut tebalnya dan menyisirnya dengan jari.
"Hmm," gumamnya.
"Jika seseorang yang berharga untukmu datang, apa kau akan langsung melepaskanku?"
-
-
-
-
Update selanjutnya, besok pukul 01.00 malam