De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Ambisi


Satu persatu kalimat mulai ditulis kembali. Cerita yang hampir dilupakan kembali tergores tinta dalam sebuah buku harian yang dinamakan buku kenangan.


Jessie De Lawrence


Tulisan bercetak tebal dengan tinta emas menjadi kalimat pembuka pada lembar pertama. Jessie menulis semua kenangan yang ia ingat.


..........


Kisah mereka memang berakhir, tapi kisahku belum berakhir.


Jika pemakaman Jessica diurus oleh keluarga Lawrence, maka pemakaman orang tuaku dilakukan oleh keluarga Johansson.


Aku terkejut melihat kehadiran mereka di Amerika. Kupikir mereka masih menetap di Finlandia. Aku ingat Rachel berbicara pada kakek untuk meminta izin mengurus pemakaman orang tuaku.


Rachel dan Argus membawaku bersama mereka. Gadis malang yang kehilangan keluarganya dan menjadi sebatang kara. Siapa bilang? Nyatanya air mataku mulai mengering. Aku lelah dengan tangisan yang membuatku menjadi lemah.


Tentu saja aku juga ingat dengan keinginan mommy yang melarangku untuk menangis jika suatu hari kejadian seperti ini terjadi. Hal tersebut menjadi pendukung untukku.


Saat itu harapanku berada pada pasangan paruh baya ini. Rachel senantiasa menggenggam tanganku hingga lubang berisi peti itu menjadi dua gundukan tanah. Tidak ada air mata, hanya pandangan lurus dan wajah datar.


Ambisi itu bermula dari sini ....


Aku datang ke hadapan kakek sebagai cucunya, Lawrence, bukan sebagai Jessie Millen. Jessica rela menanggung semua kesulitan untuk melindungiku dari ancaman, maka sekarang aku yang akan menanggung beban itu meski semua telah terlambat.


"Berikan hak itu padaku. Aku tidak akan rela kematian Jessica sia-sia!" Sorot mata itu tajam.


Terutama Xavier ... Aku akan mengejar pria itu hingga menjadi milikku kembali. Setelah mendapat posisi ini, maka juga akan mudah mengikat pria itu.


"Berikan semua yang dia inginkan. Mulai sekarang Lawrence adalah perintah yang tidak boleh di bantah!"


Aku tersenyum puas. Perintah itu di berikan langsung oleh kakek pada Edgar. Orang kepercayaan kakek itu akan segera mengumumkan pada anggota keluarga.


Dan kisah baruku bermula. Perjalanan hidup seorang Jessie De Lawrence kembali dimulai dengan ambisi baru.


..........


Suara ketukan menghentikan aktivitas Jessie. Ia menutup bukunya dan meletakkan kembali pada tempatnya.


"Masuk!"


Ellard dengan seragam sekolahnya muncul setelah pintu terbuka. Remaja itu melempar tas sekolahnya dan duduk di sofa dengan lesuh.


Jessie duduk bersedekap di kursinya.


"Menyebalkan sekali!"


"Why?"


"Mengapa kau menempatkanku di satu tempat dengan Rebecca?"


Ohiya? Jessie tidak tahu itu.


"Rebecca?"


"Hmm! Kami berpapasan dan dia langsung mengenaliku," ungkapnya, "padahal aku tidak ingin terlibat dengan keluarga yang lain," gumamnya kemudian.


Meski Ellard dan Rebecca berbeda tingkat dimana Rebecca telah menjadi seorang mahasiswi dan Ellard di sekolah menengah, tapi lokasi mereka masih berada di satu gedung yang sama.


Tidak perlu heran, kebanyakan sudah seperti itu, dimana tingkatan sekolah berada dalam satu area.


"Dia itu menyebalkan! Seperti ayahnya!" semburnya kesal.


"Rachel merekomendasikannya untukku. Dia bilang tempat itu bagus dan cocok untuk kalangan atas," kata Jessie mulai merapikan mejanya.


Ellard berdecak, "Pantas saja!"


"Jalani saja, Ellard."


"Mengapa hidupku seperti ini?" gumamnya berdecak.


"Hei!" Suara Jessie tiba-tiba meninggi, membuat Ellard terkejut, "nikmati saja kehidupanmu sekarang. Bisa saja kehidupan mu yang sekarang ini akan kau rindukan suatu hari nanti!" gerutu Jessie.


Ellard terbengong dibuatnya.


"Jangan mengeluh lagi!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


..."Nikmati kehidupan yang kau jalani sekarang. Kita tidak tahu kehidupan apa yang menunggu kita di depan."...


...- De Lawrence -...