De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Happy or Sad?


"Aku jadi penasaran bagaimana kau bisa tahu kisah mereka."


"Sejak kapan kau begitu ingin tahu," gumam Jessie dengan mata terpejam.


Padahal mereka sedang berada di mobil menuju perusahaan Lawrence. Tidak tahu mengapa Xavier berubah menjadi pria yang cerewet.


"Apa mereka nyata?" tanyanya lagi.


"Kenapa?" Masih dengan mata terpejam.


"Aku ingin mendatangi pria itu, mengatakan jika kekasihnya ada di dekatnya!" Jessie tersenyum tipis.


"Jauh lebih dekat dari dugaanmu, Xav. Sayangnya pria itu tidak akan mengenalinya lagi, tidak peduli sedekat apa mereka."


"Menyebalkan sekali!" umpat Xavier menatap lurus ke jalan.


"Tunggu! Sebenarnya mereka siapa? Temanmu atau keluargamu? Atau yang lain?"


"Fiksi," jawab Jessie enteng.


"What?!" Xavier terkejut.


"Itu hanya sebuah novel yang kubaca. Aku menyalin beberapa hal di dalam bukunya." Jessie membuka mata dan tersenyum.


Ternyata cerita itu memang menyedihkan bagi orang lain. Apa hanya dirinya yang berpendapat lain? Yang lain mengatakan sad, sedangkan dirinya mengatakan happy.


"Kau pikir aku bodoh? Kau tidak bisa membodohiku."


Jelas-jelas ada emosi yang tersirat saat Jessie bercerita. Jika hanya sebuah buku, Jessie tidak perlu menunjukkan emosi berlebih.


Jessie terkekeh kecil. "Biasanya orang lain akan percaya jika aku bilang begitu," ungkapnya.


"Tidak denganku!"


"Aku tahu."


Jessie kemudian terdiam, ikut menatap lurus ke depan.


"Gadis itu, aku mengenalnya. Tapi dia sudah berbeda," kata Jessie pelan. "Jika dia masih sama, aku mungkin masih tidak menyukainya."


"Siapa dia?"


Jessie menoleh menatap Xavier dengan senyum penuh makna.


" .... "


-


-


-


-


-


Xavier termenung di ruang kerjanya. Felix hanya berdiri di depannya tanpa berani mengganggu tuannya yang sedang berpikir. Namun sudah dua puluh menit Xavier seperti ini. Akhirnya Felix mencoba memberanikan diri.


Apanya? Felix kebingungan.


"Sebelum kecelakaan enam tahun lalu, aku tidak berhubungan dengan siapapun, kan?"


Setelah kecelakaan itu sebenarnya ia memang tidak mampu mengingat beberapa hal, tapi dokter mengatakan ia baik-baik saja pasca operasi.


Kehidupannya sangat datar. Tidak ada wanita atau hal penting. Jadi bagi Xavier tidak perlu memusingkan apa yang ia lupakan.


"Aneh sekali, mengapa aku jadi memikirkannya begini."


Saya juga tidak tahu, tuan! Kita belum bertemu saat itu! Felix menjerit dalam hati.


"Jika anda mengingat masa-masa selama menjadi senior, sepertinya tidak ada yang perlu di khawatirkan," ucap Felix.


Benar juga. Jika ia memiliki seseorang, Xavier pasti mengingatnya. Tapi yang ia ingat hanya kehidupan membosankan masa sekolah menengahnya dulu. Hingga menginjak masa kuliah pun ia masih ingat. Memang tidak ada wanita! Tapi mengapa ia terus memikirkannya.


Akhh!! Xavier menggusar rambutnya pusing.


"Batalkan jadwalku hari ini. Aku akan ke Lawrence." Xavier mengambil kunci mobilnya, meninggalkan Felix yang hendak membuka mulut.


"Sepertinya aku lembur lagi." Felix menghela nafas pasrah.


Di perjalanan menuju perusahaan Lawrence, Xavier kembali memikirkannya. Padahal sudah beberapa kali ia meyakinkan dirinya.


"Mom?"


Bukan Jessie yang pertama ia lihat saat memasuki ruangan, tapi Rachel yang sedang duduk santai. Sedang apa ibunya disini?


"Xav?" Rachel sama terkejutnya.


"Sedang apa Mom disini?"


"Memangnya tidak boleh? Aku sudah sering kemari menemani Jessie sebelum kalian menikah," ketus Rachel.


Sebelum menikah?


"Sekarang aku mengerti alasan Jessie menjadi kandidat menantu." Pantas saja mereka sangat akrab! Xavier tersenyum sinis.


"Mengapa menatapku begitu?!" Rachel melotot. Menyebalkan sekali wajah Xavier.


"Dimana Jessie?"


"Sedang rapat!"


Xavier menatap ibunya itu. Terbesit pertanyaan di kepalanya.


"Mom," panggilnya.


"Apa?" Rachel merasa Xavier sedikit aneh.


"Mom ingat kecelakaanku enam tahun lalu?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...