
Ellard duduk meringkuk di atas sofa dengan selimut tebal yang menyelimutinya. Di tangannya ada segelas susu hangat yang dibuatkan oleh Rachel.
Meski sempat bingung dengan kehadiran orang baru ini di rumahnya, Rachel tetap cekatan membantu terlebih dahulu.
Semua keluarga Johansson telah lengkap mengamatinya tanpa bertanya. Jessie di sebelah Xavier juga memiliki kondisi yang sama setelah berada di luar.
Beberapa kali Jessie telah mengalami bersin. Inilah yang membuat Xavier khawatir hingga terus memeluk istrinya itu agar hangat.
Padahal Jessie hanya bersin!
"Jadi kau yang bernama Ellard," kata Rachel bersedekap, "Jessie pernah menyebut tentang kau."
"Aku tidak ingat pernah menyebutnya," sahut Jessie, "tapi mom, dad. Apa boleh Ellard tinggal disini? Aku tidak bisa menjamin dia akan aman jika tinggal diluar. Jika disini aku akan mudah mengawasinya," pintanya kemudian.
"Hei, tidak perlu seperti itu! Kakek tidak bilang harus tinggal bersama." Ellard protes.
"Kau dengar, Jess. Biar saja dia tinggal di—" selaan Xavier terpotong.
"Tidak apa kan, Dad?" potong Jessie mengabaikan keduanya.
"Tidak masalah. Dad percaya keputusanmu." Rachel mengangguk setuju dengan suaminya.
"Thanks!" Jessie tersenyum senang. Tak lama kemudian wajahnya berubah garang menatap Ellard.
"Aku akan mengurus sekolah beserta les privatmu besok! Rutinitasmu masih sama!"
"Ahh Jessie ..." rengek Ellard lesu.
Jika begini tidak ada bedanya saat berada di Finlandia. Ia juga harus belajar dan belajar.
"Baguslah. Aku akan punya satu anak lagi!" Rachel kegirangan.
"What?!" Apa ini? Ellard kebingungan.
"Kau tampan. Aku tidak keberatan mengadopsimu."
"Apa-apaan. Aku tidak bilang harus di adopsi." Ellard menggeleng.
"Yang tinggal denganku akan menjadi anakku. Mulai sekarang panggil kami mom dan dad!" perintahnya tidak bisa dibantah.
"Dengarkan saja, Nak," saran Argus.
***
"Kau terkejut?"
Jessie mendatangi Ellard di kamar barunya. Barang-barang bawaan juga sudah diambil oleh pelayan dari tempat lama.
Setelah makan malam yang penuh perhatian dari Rachel akhirnya Ellard bisa bernafas lega di kamarnya.
"Aku tahu kau merasa asing dengan semua ini." Duduk di sebelah Ellard yang menghadap dinding kaca.
"Tahu apa kau!" decak Ellard.
"Aku tahu banyak hal!"
Iya, seharusnya memang seperti itu. Sebagai tangan kanan dan orang kepercayaan, sudah sewajarnya jika Jessie mengetahui banyak hal meski tidak ditunjukkan.
"Ck!" Memalingkan wajah malu.
Ia sudah bilang kan jika dirinya tumbuh bersama sang kakek. Meski kakeknya pria baik, tapi tetap mendidiknya cukup keras. Apa itu bermanja-manja?
Orang tuanya tidak seperti orang tua yang lain. Jangankan bercengkrama dengan harmonis, makan semeja saja sulit dilakukan. Mereka hanya datang saat membutuhkannya membujuk kakek.
Jadi bisa dibilang Ellard sangat asing dengan suasana yang ada di rumah ini, termasuk sikap Rachel dan Argus yang begitu mudahnya memperlakukan orang sebagai anak.
Tenyata tidak semua konglomerat itu buruk.
"Kau kasihan padaku?"
"Tidak," jawab Jessie seadanya.
"Lalu?"
"Apanya yang lalu?"
"Lupakan!"
"Lihat sikapmu ini. Dingin sekali," decak Jessie
"Kalau begitu tidak usah bicara denganku!" hardik Ellard.
"Kau—" Jessie melotot kesal, "ingin ku minta kepala pelayan menjemputmu ke Finlandia lagi?!"
"Hei bukan begitu—"
"Jangan bicara denganku!" Jessie bersedekap marah, "padahal aku mencoba berteman." Suaranya berubah lirih. Ellard menjadi tidak enak hati.
"Aku bercanda, Jess." Mencoba menarik lengan Jessie namun ditepis olehnya.
"Kupikir kau berbeda dengan Rebecca, ternyata sama saja!" Sedih, itulah yang didengar Ellard.
"Jess— maaf ..." Ellard menunduk. Wajahnya jadi sendu.
Jessie menoleh sedikit. Anak ini ternyata juga bisa merasa bersalah. Ia tidak serius. Ellard memang tumbuh dengan sifat seperti ini. Temperamennya agak menyebalkan.
Sebelumnya Jessie dan tuan besar Lawrence memang sudah membuat kesepakatan tentang Ellard. Dengan sifat seperti itu, tuan besar khawatir semakin tumbuh Ellard akan mengikuti sifat orangtuanya. Jadi meminta Jessie merawatnya setelah usianya cukup untuk tidak merepotkan orang.
Ia pikir tuan besar akan menghubunginya terlebih dahulu, ternyata langsung mendepak anak ini dari kediaman tanpa basa-basi.
Terdengar kasar ya? Maaf kalau begitu.
"Jess— jangan marah padaku ya." Menggoyang-goyangkan tubuh Jessie.
Ellard semakin bersalah melihat Jessie yang masih enggan menatapnya. Meski Jessie juga menyebalkan menurutnya, tapi wanita itu cukup mengerti dirinya. Mungkin hanya Jessie yang akan mendukung keputusannya di saat sang kakek menentang.
Jangan tanya ia tentang Lawrence! Ia tidak tahu apapun tentang wanita misterius itu. Jangankan meminta dukungan, bertemu saja tidak pernah.
"Ayo berteman. Aku mau berteman denganmu."
Padahal jarak usia mereka cukup jauh juga, tapi Ellard merasa nyaman dengannya.
"Aku akan memanggilmu kakak, bagaimana?" tawar Ellard lagi.
Jessie spontan menoleh. Ellard menampikkan senyum.
"Sungguh?" tanya Jessie memincing.
Ellard mengangguk pasti. Ia tahu jika Jessie akan menyukai jika dilihat dari sifatnya.
"Baiklah." Memalingkan wajah kembali dengan arogan.
"Kau memaafkanku?"
"Hmm."
"Sungguh? Kau tidak akan mengungkit-ungkit lagi, kan?"
Tahu saja jika hobi wanita suka mengungkit-ungkit masalah yang telah berlalu.
"Hmm."
"Terima kasih, kak!"
Jessie menahan senyum. Menyebalkan! Tangannya terulur mengacak-acak rambut lebat Ellard.
"Hei! Hentikan!" Menepis tangan Jessie, "kau pikir aku anak kecil!"
"Biar saja!" kata Jessie mengacak-acak lagi rambut Ellard. Tidak peduli dengan penolakan Ellard yang mencoba menjauhkan tangannya beberapa kali.
"Jessie!" Ellard kesal.
"Lihat. Kau memanggilku apa!"
"Iya, iya, kakak!" Sambil menutupi kepalanya, menghindar.
"SEDANG APA KALIAN!"
Suara menggelegar itu mengejutkan keduanya.
Xavier masuk dengan wajah kesalnya. Setelah makan malam bukannya kembali ke kamar, tapi malah berada di kamar laki-laki lain.
Xavier memang tidak menyukai anak laki-laki ini karena berpikir akan merebut perhatian Jessie darinya. Apalagi jika sudah berhubungan dengan Lawrence, maka Jessie akan berubah menjadi wanita perfeksionis.
Entah sudah berapa lama Xavier membujuk istrinya untuk berhenti. Namun kenyataannya memang tidak bisa semudah itu, belum lagi posisi Jessie adalah tangan kanan langsung. Sama seperti ia yang tidak mungkin melepas Felix begitu saja.
Ellard menyembunyikan tubuhnya di balik Jessie.
"Sepertinya suamimu sangat tidak menyukaiku," bisiknya.
"Dia hanya cemburu, selebihnya baik," balas Jessie berbisik juga.
"Apa yang kalian bicarakan!" Xavier menarik Jessie ke sisinya. Merengkuh pinggang ramping itu posesif.
"Kau ini kenapa!" Memukul pelan lengan suaminya itu.
Cemburmu tidak masuk akal!
Ingin ia berkata begitu, tapi yang ada hanya semakin mengundang api.
"Aku ingin bicara denganmu, berdua!" katanya pada Ellard.
"Bicara apa! Sudah, sudah. Kita ke kamar saja. Ellard, istirahatlah." Jessie mendorong Xavier ke luar kamar.
Setelah keduanya menghilang. Ellard tersenyum. Keluarga ini berbeda, setidaknya itu yang ia rasakan.
Keluarga yang harmonis dan manis. Andai ia tumbuh dengan keluarga seperti mereka. Jessie beruntung berada disini.
Ting!
Unknown
"Mau berkeliling besok?"
Ellard tersenyum lagi. Bagaimana mungkin Jessie masih sempat mengiriminya pesan. Tidak takut suaminya mengamuk?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...