De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Sekelebat Ingatan


Ellard menyantap makanannya dengan jengah. Saat keluar dari kamarnya menuju tempat sarapan mereka, ia sudah menyaksikan kemesraan pasangan yang tidak tahu tempat ini.


"Sejak kapan dia disini?" Menunjuk Xavier dengan heran.


"Why? Aku tidak boleh menemui istriku?" ketus Xavier.


"Aku tidak bilang begitu!" jawab Ellard tak kalah ketus sembari duduk di kursinya, kemudian meraih pisau dan garpunya.


"Hari ini temui tuan besar.h Aku sudah bilang kau akan menyusul," ujar Jessie.


"Ck, seharusnya kau bilang aku tidak ikut!"


"Kau mau melawan kakekmu?"


"Tidak!"


"Kalau begitu menurutlah." Jessie tersenyum dan terlihat menyebalkan di mata Ellard.


"Kau menemaniku, kan?"


"Kau sudah sebesar ini, tapi hanya segini keberanianmu? Ck!" cibir Xavier.


"Hey!"


"STT!!" Jessie melotot kesal. Lihat mereka sudah menjadi perhatian banyak orang.


"Tempat ini bukan ruang pribadi! Tutup mulut kalian!" desis Jessie pada keduanya.


Hobi sekali mereka bertengkar. Jika bertemu jarang sekali untuk akur!


"Aku akan ikut, tapi tidak lama. Makanlah," Ujar Jessie lagi.


Ketiganya makan dengan tenang. Xavier sesekali melirik istrinya yang lebih banyak diam hari ini. Hingga tak lama kemudian seorang waiters menghampiri meja mereka.


Jessie langsung memperhatikan dengan lekat. Bukan waiters itu, tapi sesuatu yang dibawanya.


"Hyvää huomenta, naiset ja herrat (Selamat pagi, tuan dan nona)," sapa waiters tersebut.


"Ini adalah es krim terbaik kami. Berhubung kalian adalah pelanggan pertama kami pagi ini, anggap saja sebagai hadiah." Waiters itu tersenyum ramah. Setelah meletakkan tiga mangkuk es krim diatas meja, waiters tersebut undur diri.


"Kebetulan sekali!" Ellard kegirangan.


"Kau suka es krim?" tanya Xavier.


"Memangnya ada yang tidak?" Cukup menjawab pertanyaannya.


Disaat keduanya sibuk beragumen, tidak ada yang memerhatikan tingkah Jessie yang mulai aneh.


Wanita itu mengepalkan tangannya di bawah meja dengan keringat mulai membasahi sekitar pelipisnya.


"Aku ingin es krim di swalayan itu!"


"Kau masih punya sekantong es krim disini."


"Tidak mau! Aku ingin yang itu!"


Brakk!!


"Xavierr!!"


Jessie tersentak dari lamunannya dengan jantung berpacu cepat hingga tidak sengaja menjatuhkan segelas air di atas meja, membuat Xavier dan Ellard terkejut.


"Jess! Ada apa?" Xavier langsung cemas.


Jessie tidak menjawab, justru menatap pecahan kaca yang berserakan di lantai yang sekarang langsung dibersihkan oleh pelayan yang datang.


Pecahan itu seketika mengingatkan pada kejadian lama dimana Xavier berbaring tak sadarkan diri dengan kaca berlapis darah berserakan di sekitarnya.


"Jess!" Panggilan kedua itu akhirnya mengembalikan kesadaran Jessie.


"Aku tidak ingin es krim," gumam Jessie tanpa sadar dengan kepala menggeleng.


Ellard maupun Xavier tidak bertanya, namun Ellard segera melahap es krim miliknya dengan cepat kemudian membawa dua es krim lainnya kepada waiters yang ada.


"Makan saja untuk kalian." Kemudian kembali ke mejanya.


"Ingin istirahat?" tanya Xavier lembut.


"Paman Edgar sudah menjemputku. Kau istirahat saja, tidak perlu menemaniku." Tanpa menunggu lagi, remaja itu langsung pergi.


"Ayo." Xavier bangkit berdiri. Jessie menurut meski dalam keadaan linglung.


"Maaf," gumam Jessie lagi setelah mereka memasuki kamar hotel.


Xavier mengerjit. Jika tidak melihat kondisi, mungkin ia sudah mencerca istrinya dengan banyak pertanyaan.


Kini Jessie menatapnya. Tangan mungilnya sudah menyentuh wajah miliknya. Jessie ingat betul saat mata ini tertutup meski ia berteriak memanggilnya. Tangannya juga dipenuhi darah saat merangkum wajah Xavier di pelukannya.


Kemudian Xavier meraihnya, memberi kecupan singkat di tangannya.


"Aku selalu memaafkanmu." Entah apa kesalahannya.


Jessie tersenyum tipis. "Apapun yang kuperbuat?"


Xavier mengangguk. "Selama kau tidak meninggalkanku."


Jessie terdiam. Seandainya Xavier tahu jika ia pernah pergi, apakah pria ini akan membencinya?


"Sudah lebih baik?" tanya Xavier.


"Kau tidak ingin bertanya kengapa?"


"Aku akan menunggumu bercerita."


"Maaf..."


"Baiklah." Xavier mengulum senyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...