De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Lie


Kondisi di dalam pesawat cukup hening. Ellard sudah tidur sejak tadi sehingga hanya menyisakan Jessie dan Xavier sebagai penumpang. Sebenarnya masih ada Felix di kursi depan.


Mereka menggunakan pesawat pribadi untuk mempersingkat waktu karena Xavier harus mengejar beberapa pekerjaan yang tertinggal.


Berbicara tentang pria itu, Jessie merasa aneh sejak kemarin malam. Ia merasa seperti kembali pada awal pernikahan mereka yang dipenuhi kebisuan satu sama lain.


Pernah sesekali Jessie mengajaknya bicara, namun Xavier hanya merespon kecil seperti mengangguk dan sebagainya. Xavier juga seperti menghindarinya. Mulai dari memalingkan wajah hingga tak mau menatapnya dan hal itu berlaku sampai saat ini!


Jessie merasa diabaikan. Seperti sekarang Xavier hanya menatap keluar jendela tanpa menghiraukannya. Jessie pun memalingkan wajahnya dan ikut menatap keluar jendela yang berada di sisi lain.


Jessie mulai memejamkan mata karena suasana membuatnya mengantuk, namun baru beberapa detik matanya tertutup, Jessie mendengar langkah kaki di dekatnya.


"Xav?" panggil Jessie saat melihat suaminya beranjak dari kursi menuju kamar yang juga tersedia disana. Wanita itu mengikuti.


"Aku lelah," katanya singkat tanpa menatap Jessie. Pria itu langsung merebahkan tubuhnya dan menutup mata, mengabaikan Jessie yang berdiri di sisi ranjang.


"Baiklah, istirahat saja." Jessie memberi kecupan lembut di kening suaminya sebelum meninggalkan pria itu, "aku mencintaimu."


-


-


-


"Felix."


"Mrs."


"Jangan panggil aku begitu. Panggil saja namaku." Jessie duduk sedikit jauh dari Felix.


"Tidak bisa begitu, Mrs."


"Terserah kau saja," senyum Jessie. Felix agak kikuk dibuatnya.


"Hm— ada apa memanggilku?" tanyanya gugup.


"Memangnya tidak boleh?"


"Bukan begitu, Mrs—"


"Kau terlalu gugup," potong Jessie.


"Maafkan saya!"


"Cih! Yang benar saja." Jessie mencibir, "selain kau, tidak ada yang bisa kuajak bicara."


"Oh begitu."


Suasana kembali hening sesaat.


"Apa saja kemampuanmu?"


"Ya?" Felix bingung dengan pertanyaan tiba-tiba itu.


"Keahlian apa yang kau miliki sehingga Xavier menjadikanmu orangnya."


"Ah itu—" Felix mengelus tengkuknya canggung, "aku tidak sehebat itu, Mrs. Sebenarnya aku hampir di tolak tiga kali."


"Sungguh?"


"Tidak berguna ya ...," gumam Jessie kecil.


Felix kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, kemudian memberikannya pada Jessie.


"Benda ini terjatuh dari kantong tuan tadi. Aku lupa mengembalikannya."


"Surat?" tanya Jessie setelah menerimanya.


"Entahlah."


Kening Jessie berkerut saat menyadari benda itu nampak tidak asing. Tubuhnya langsung membeku kala melihat isinya.


Surat keterangan rumah sakit miliknya! Surat yang berisi keterangan tentang riwayat yang dialaminya sekarang. Xavier melihatnya?!


Tanpa sadar Jessie sedikit meremas surat tersebut. Jantungnya mulai berdetak kencang. Apa ini sebabnya Xavier bersikap seperti itu padanya? Pria itu pasti sudah mengetahui tentang kondisinya yang sulit memiliki anak.


Jessie mencoba tenang dengan mengatur nafasnya.


"Kau sudah melihatnya, Felix?" datar Jessie.


"Belum, Mrs." Felix merasa aneh dengan perubahan emosi Jessie yang tiba-tiba.


"Istirahatlah," ujarnya, lalu beranjak pergi. Felix menggaruk kepalanya bingung.


Jessie membuka pintu kamar begitu saja. Dilihatnya Xavier yang sedang memainkan ponselnya.


"Ternyata benar. Kau menghindariku?"


Xavier hanya menatapnya datar.


"Syukurlah kau masih mau menatapku meski dengan tatapan tajam itu."


"Ada apa?" Pria itu akhirnya bersuara juga.


Xavier kemudian melihat kearah secarik kertas yang dibawa istrinya. Jessie menyadari tatapan itu dan mengangkatnya.


"Kau sudah melihatnya, kan?"


Xavier tidak menjawab. Tapi Jessie dapat melihat jika pria itu marah.


"Pergilah. Aku tidak ingin berdebat." Meletakkan ponselnya dan mulai berbaring.


"Kenapa?" tanya Jessie lagi, "kau tidak mau melakukan sesuatu padaku? Aku sudah berbohong padamu."


Xavier sangat membenci kebohongan dan pengkhianat. Apa yang ditutupinya saat ini sudah termasuk kebohongan.


Dulu Xavier akan menghukumnya jika ia mulai berbohong, bahkan tak ragu membuatnya menangis agar menyesal. Dengan begitu tidak akan ada lagi kebohongan yang baru.


"Keluar, Jess. Aku tidak ingin mengulanginya," dinginnya.


Jessie tidak menyanggah. Wanita itu mengangguk.


"Maaf," lirihnya, "aku akan menunggu sampai kau mau membicarakannya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...