De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Familiar


"Aku merasa anak ini sangat familiar," gumam Ellard, "mungkin karena dia anak Lawrence!" celetuknya kemudian.


"Bagaimana kau bisa berpikir begitu, Ellard." Jessie memijat keningnya lelah. Ia baru saja menidurkan anak gadis ini di ranjangnya dan duduk.


"Kakek dan Alroy membicarakannya tadi."


Mendengar itu, Jessie mengangkat kepalanya dan melirik Ellard. "Apa saja yang kau dengar?" tuntutnya.


"Apa harus kukatakan?" Ellard ragu.


"Terserah kau saja." Jessie mengangkat bahu, "tapi sepertinya kau tidak bisa bersamaku lagi," ucapnya sendu.


Berarti harus, kan?!


"Aku tidak begitu ingat lagi. Yang jelas mereka membicarakan Lawrence dan ada hubungannya dengan Naomi."


"Kenapa Lawrence ada hubungannya dengan Naomi?" tanya Jessie datar.


"Aku juga tidak tahu! Aku curiga jika Naomi adalah anaknya."


"Lain kali berpikirlah sebelum bicara," peringat Xavier yang baru datang. Tangannya merengkuh bahu Ellard sedikit kuat hingga remaja itu meringis.


"Aku hanya menyampaikan yang ku dengar! Lepaskan!" katanya melepas tangan Xavier, "lagipula kau sangat aneh sejak di kediaman kakek," ungkapnya kemudian.


Jessie yang tadi memilih tidak peduli, kembali menatap keduanya.


"Aneh?" tanya Jessie akhirnya.


"Kau bicara apa lagi?" dingin Xavier pada Ellard.


"Kau selalu marah setiap kami membahas Lawrence. Saat kakek ingin menjodohkannya dengan Alroy pun kau juga kesal," gerutu remaja itu tanpa sadar.


Jessie langsung teringat yang dilihatnya tadi. Yang dikatakan Ellard ada benarnya. Ia juga merasa begitu. Mengapa Xavier terlihat kesal padahal mereka tidak saling mengenal bahkan bertemu?


Melihat tatapan penuh tanya Jessie, Ellard segera menutup mulutnya. Tersadar jika ucapannya bisa menimbulkan masalah, Ellard memilih keluar dari kamar.


"Aku mengantuk!" serunya sambil berlalu.


"Hei!" seru Xavier.


"Xav!" tegur Jessie, "Naomi sedang tidur." Setelah mengucapkan itu, Jessie berdiri merapikan selimut Naomi.


"Mama ...," gumam Naomi pelan dalam tidurnya membuat Jessie mengurungkan niatnya untuk beranjak.


Gadis kecil yang malang. Ia pasti sangat merindukan ibunya.


Seandainya gadis ini tidak memiliki pemilik, Jessie bersedia membesarkan seperti putrinya sendiri.


Maaf, aku tidak bisa menjadi ibumu, batinnya menyesal.


Gadis ini cantik, sangat cantik! Jessie mengakui sejak pertama kali bertemu. Bibir tipis merah muda dan iris mata sebiru langit. Gadis ini selalu mengingatkannya pada seseorang.


Mungkin karena dia anak Lawrence!


Selain aku, Jessica juga disebut Lawrence. Tidak mungkin dia memiliki anak, batinnya.


"Kau menyukainya?" tanya Xavier yang sejak tadi memperhatikannya, "anak kita juga akan semanis ini nanti," ucap Xavier pelan setelah duduk di samping istrinya. Jessie langsung menatapnya.


"Benar. Dia akan semanis ini." Tersenyum tipis.


Jika aku bisa ..., batinnya melanjutkan.


-


-


-


-


"Katakan saja."


"Mungkin ini akan jadi kabar buruk, Jess."


"Aku sudah sering mendengar kabar buruk," datar Jessie.


"Dugaan kita benar soal Val—"


"Tidak perlu dilanjutkan," potong Jessie, "dengarkan aku. Jangan mengungkit apapun soal dirinya saat dikantor. Berinteraksilah seperti biasa."


"Kau sudah tahu?" tanya Laura diujung sana.


"Hmm," jawab Jessie.


"Sungguh?!"


"Kalau kau tidak ingin terkena masalah sebaiknya diam saja. Aku tidak akan bertanggung jawab, ingat!" ancam Jessie di telponnya.


"Sesuai perintah anda, Miss," jawab Laura jengah, " bagaimana dengan suamimu? Dia tahu?" tanyanya kemudian.


Jessie terdiam beberapa saat.


"Dia selalu bersemangat. Aku tidak bisa mengatakannya."


"Cepat atau lambat dia harus tahu, Jess. Kita belum tahu berapa lama efeknya akan bertahan."


"Aku selalu ingin percaya bahwa suatu hari aku bisa, Laura."


"Meski resiko keguguran cukup tinggi? Kau yakin ingin mempertahankannya?"


"Akan kupikirkan caranya ...," ujar Jessie.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...