
Ruangan yang didominasi warna putih dan beberapa orang di sekitarnya menjadi hal yang pertama kali Jessie lihat.
"Mrs, jika anda mendengar kedipkan mata anda."
Matanya berkedip pelan membuat semua orang bernafas lega. Raut wajah gembira tak dapat disembunyikan termasuk pada pria yang telah lama menantikan nya.
Ia ingin bersuara, namun tidak bisa. Tenggorokannya sangat kering karena rasa haus yang mencekik.
"Air—" Entah satu kata itu terdengar atau tidak.
Untungnya Xavier cukup peka dengan keadaannya sehingga segera membantunya untuk minum. Mata pria itu berkaca-kaca hingga membuat Jessie terenyuh. Ia pasti sudah membuat suaminya khawatir.
"Maaf—" ucap Jessie lirih setelah merasa lebih baik. Tangannya terulur mengusap air mata Xavier yang mengalir di pipi.
"Aku hampir kehilanganmu ...."
Pria itu memeluknya dengan pelan dan terisak kecil. Sungguh ia sangat takut jika istrinya benar-benar pergi. Tuhan baru saja menunjukkan betapa menyakitkannya saat kehilangan orang tersayang.
Itulah yang dirasakan Jessie saat kehilangan keluarga secara bersamaan, saat hanya kau satu-satunya yang tersisa di antara yang lain.
"Aku disini," bisik Jessie mengelus punggung lebar suaminya.
"Jangan pergi lagi— kumohon." Jessie mengangguk mengiyakan.
Tatapannya kini beralih pasa Rachel yang menatapnya sendu. Wanita paruh baya itu hampir sama kacaunya. Argus tersenyum di sebelahnya.
"Mom." Jessie menjulurkan tangannya membuat Rachel segera mendekat dan memeluknya.
"Aku benar-benar hampir mati, Mom," bisik Jessie. Hal itu membuat pukulan kecil dari Rachel mendarat.
"Jangan bercanda!" Disaat seperti ini saja Jessie masih sempat membuatnya kesal.
"Mom pikir kau benar-benar pergi." Rachel nyaris menangis lagi, "kau jahat jika menyusul Sophia—"
"Mom ... Aku memang ingin menyusul mereka, tapi aku ingat masih punya satu keluarga lagi disini."
Argus dan Xavier tersenyum mendengarnya, berbeda dengan Rachel yang tangisnya langsung pecah.
"Mom, jangan menangis lagi. Lihat matamu seperti panda." Padahal ibunya itu sangat anti dengan wajah lusuh.
"Tidak apa-apa. Ini terakhir kali Mom menangisimu."
"Sudah, Mom. Jangan mengganggu istriku." Xavier menjauhkan ibunya dari Jessie. Wanita paruh baya itu melotot seperti ingin memakan putranya hidup-hidup.
"Kurang ajar!" bentaknya, namun pria itu hanya mengacuhkan.
Jessie berniat bangun karena merasa tubuhnya kaku setelah lama berbaring, namun keningnya mengerjit sambil menatap ke arah kakinya yang tertutup selimut.
Argus, Rachel dan Xavier menyadari keterdiaman Jessie saling menatap. Pria itu membantu istrinya agar setengah duduk.
"Baby—"
"Aku cacat?" potong Jessie.
"Tidak, Sayang. Kau akan segera sembuh," ucap Argus mengelus kepala menantunya.
"Kita latih lagi dengan perlahan," bujuk Xavier lembut.
Jessie hanya diam. Ia merasa matanya mulai basah namun tidak sampai menetes.
"Berapa lama?" tanyanya lagi masih menatap kakinya.
"Berapa lama?!"
Xavier menghela nafas dengan rahang mengetat.
"Satu tahun," jawab Xavier akhirnya, "namun bisa saja lebih cepat," koreksinya cepat.
**
Xavier menyuapi istrinya dengan telaten. Sejak tadi mata Jessie tak berpaling dari suaminya. Pria itu tak berhenti tersenyum melihat tingkah sang istri.
"Aku tahu kau pasti sangat merindukanku," canda Xavier masih dengan sabar memberi makan Jessie.
"Aku sudah merindukanmu sejak lama," gumam Jessie. Senyum Xavier memudar.
Menghela nafas, pria itu menggenggam tangan istrinya setelah meletakkan mangkok bubur di atas nakas.
"Aku benar-benar tidak berguna sekarang." Jessie terkekeh pelan.
"Jika tidak berguna, aku yang berbaring disini sekarang," kata Xavier.
"Kau sedang menghiburku?"
"Hm, menghibur istriku yang nakal."
Jessie tersenyum tipis. Ia melepas genggaman Xavier, lalu mengelus perban yang membungkus pergelangan tangan suaminya.
"Mom sudah memberitahuku." Menatap perban itu, "jika kau memilih mati, maka usahaku akan sia-sia." Ia berganti merengkuh rahang tegas itu dan menciumnya.
"Aku pernah gagal satu kali. Aku tidak ingin gagal untuk kedua kali," bisiknya lirih.
Jessie menggeser tubuhnya di ranjang dan menepuk sebelahnya. Xavier langsung ikut duduk disebelahnya. Wanita itu masuk dalam pelukan suaminya, melingkarkan tangannya di pinggang Xavier dan menyandarkan kepalanya di dada.
"Kau tidak pernah gagal, Baby. Aku lah yang harusnya bertanggung jawab atasmu. Aku bahkan melanggar janjiku untuk melindungimu."
Jessie mengerjit. Janji? Ia tidak ingat kapan Xavier mengatakannya.
"Jangan menangis lagi. Jika kau terluka tadi aku akan gila!"
"Aku bersumpah akan melindungimu dengan nyawaku."
"Janji?"
"Janji!"
Deg!
Ia ingat, tapi itu adalah ingatan lama— tunggu! Jessie mendongak dengan cepat hingga mata mereka bertemu. Hal itu digunakan Xavier untuk mengecup bibirnya cepat.
"Aku suka saat kau memelukku," bisik Xavier.
Mata Jessie membola terkejut. Kali ini ia tidak ragu lagi. Melihat wajah itu, Xavier tak tahan untuk segera menciumnya. Sebelum Jessie sadar, Xavier sudah menyatukan bibir mereka.
Jessie terkejut dan langsung melepas tautannya.
"Kau ingat?!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...