De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Jessie De Lawrence


"Sial, sial, sial!" Valerie terus mengumpat dari kursinya.


Setelah kembali dari apartemen Jessie, ia tidak dapat duduk tenang. Pikirannya terus berlari pada Jessie. Apa yang terjadi pada wanita itu sekarang. Seharusnya ia tidak perlu heran sebab seperti itulah seorang Jessie yang sebenarnya.


Namun sudah lama Jessie tidak menunjukkan dirinya yang seperti itu sejak terakhir kali. Tatapan dingin dan senyum remeh wanita itu takkan pernah ia lupakan.


"Miss, Morgan!" Seseorang masuk dengan tergesa-gesa.


"Ada apa?"


"Dibawah sedang gempar karena seseorang mengaku sebagai Lawrence!" ungkap Sekretarisnya.


"What?!" Dengan cepat Valerie bangun dari kursinya menuju keluar.


Sekretaris itu tidak berani berbicara lagi sepanjang lift yang berjalan.


"Siapa dia? Berani-beraninya!" hardik Valerie begitu pintu lift lantai bawah terbuka.


"Itu— dia— dia seperti manajer Je—" Ucapannya terpotong karena Valerie menghentikan langkahnya tiba-tiba dengan wajah terkejut sebab pandangannya langsung tertuju pada seorang wanita yang berdiri anggun dan berkharisma di tengah loby.


Jangan lupakan sorot mata tajam yang menusuk serta penampilannya yang tidak seperti biasa.


Wanita itu tersenyum melihat kedatangan Valerie.


Siapapun yang melihatnya pasti sudah amat mengenal wanita yang mengaku sebagai Lawrence tersebut. Begitu banyak yang berkeringat dingin dan terkejut sekaligus merasa sial.


"Jadi selama ini— kita selalu berhadapan dengan Miss. Lawrence!" bisik orang-orang sekitar.


"Je— jess—"


"Aku tidak mengatakan apapun, tapi mereka menyebutku Lawrence," potong Jessie santai dan dapat di dengar oleh semua orang.


Tentu saja ucapannya membuat semua orang kalang kabut.


"Miss. Lawrence, sebaiknya berhenti bercanda," tegur seseorang di belakangnya. Senyum Jessie luntur seraya menoleh pada sosok tersebut.


Mungkin ia memang belum mengatakan apapun, tapi sosok dibelakangnya itulah yang membuat semua orang yakin.


"Kau terlalu kaku, Paman!"


Tentu saja karena Edgar yang diutus sang kakek selalu memanggilnya Lawrence di depan semua orang!


Edgar memberi tepukan kecil di bahu nona mudanya sebelum akhirnya berdiri tepat disampingnya.


"Karena semua sudah berkumpul, akan perkenalkan sekalian saja pada kalian," ujar Edgar.


Valerie mengerjit heran melihat situasi sekarang. Jangan bilang Jessie benar-benar akan mengungkapkan identitasnya sekarang.


"Seperti yang kalian lihat. Wanita yang berdiri di hadapan kalian semua adalah Miss. Jessie De Lawrence atau kalian bisa memanggilnya nona Lawrence!"


Hari ini menjadi hari yang cukup menggemparkan bagi mereka yang berdiri di gedung tinggi ini. Wanita yang selama ini mereka kenal sebagai Manajer dan kepercayaan Lawrence ternyata adalah Lawrence sendiri. Tidak heran jika Jessie hampir tidak takut pada apapun selama menjadi bawahan.


Jessie yang sejak tadi diam akhirnya memutuskan bicara setelah menyentuh bahu Edgar agar mundur.


"Karena aku sudah kembali, maka akan ku kembalikan pada posisi awal. Sebelumnya aku berterima kasih pada Valerie yang bersedia menjadi pengganti untuk sementara," katanya dengan senyuman.


"Apa?" Orang-orang mulai kembali riuh, sedangkan Valerie mengepalkan tangannya menahan kesal.


"Kemari, Val!" Jessie terus bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Dengan senyum paksa Valerie mendekat dan langsung ditarik tangannya oleh Jessie.


"Dia akan menjadi manajer kalian yang baru, sementara posisi direktur akan dikembalikan pada Laura," putus Jessie tak terbantah.


"Seperti saranmu, aku akhirnya memilih muncul. Dengan begitu aku bisa menunjukkan jika aku kuat dan harus di hormati, kan?" bisik Jessie pada Valerie.


Valerie menegang dan menahan diri agar tidak meledak. Ia harus tetap tenang atau Jessie akan curiga padahal ia sudah bekerja keras untuk mencapai posisi sekarang. Tapi dengan satu kalimat dari Jessie, semua menjadi hancur berantakan!