
Disinilah mereka sekarang dengan Xavier yang merengkuh pinggang istrinya posesif, tidak peduli dengan para wajah kesal yang menatapnya.
Alroy masih disana menjaga putrinya yang sudah berkaca-kaca akibat perbuatan Xavier. Ellard yang jengah dan tuan besar yang menahan emosinya.
Ada pula Edgar yang mengawasi di dekat pintu. Lalu Jessie yang tidak bisa berbuat banyak.
"Papa ... Naomi ingin mama!" Sedikit lagi, gadis itu mungkin akan menangis.
"Sudah kubilang dia bukan mamamu. Hei kau! Beritahu putrimu," hardik Xavier kesal pada Alroy.
Tidak akan ada kesempatan sedikitpun untuk mencoba merebut istrinya. Pria itu jelas-jelas tertarik pada Jessie. Xavier bisa melihatnya. Anak itu akan menjadi batu lompatan yang pas!
"Xav, kecilkan suaramu," tegur Jessie tak berdaya, "dia anak kecil!"
"Aku bicara pada ayahnya, bukan anaknya," kilahnya.
Tuan berdecak dengan situasinya. Ia mulai menegakkan tubuhnya dengan tegas dan menatap Xavier dengan tajam.
Mantan tunangan Jessica!
Jadi inilah sosok yang menjadi suami dari cucu kesayangannya. Seharusnya ia sudah melihatnya saat perjodohan dengan Jessica dulu. Tapi Jessie sudah pernah menceritakan apa yang terjadi pada pria ini hingga melupakan semua kenangannya.
Tuan besar sudah merasa bersalah sejak mengetahui kebenarannya. Dirinya lah dalang dibalik perjodohan keduanya.
"Jangan khawatir. Aku berniat menjodohkannya dengan Lawrence, bukan Jessie. Lagipula tidak ada urusan lebih untuk seorang asisten saja," ungkap tuan besar membuat semua orang menatapnya.
Jessie sendiri sudah menduga rencana kakeknya. Yang lain mungkin tidak tahu siapa dirinya, tapi Alroy? Pria itu sudah seperti menargetkannya.
Saat menoleh pada suaminya, Jessie sedikit terkejut karena aura kemarahan yang dirasakannya pada Xavier. Mata itu menyoroti tuan besar begitu tajam.
"Anda sepertinya lupa jika cucu anda yang lain sudah menjadi tunangannya."
Jangan lupa pria itu telah bertunangan dengan Rebecca!
"Semua bisa berubah," kata tuan besar santai.
Jessie tersenyum kecut mendengarnya. Inilah kakeknya. Masih sama seperti dulu. Keputusan masih lah menjadi miliknya tanpa mendengar keputusan lain. Itu sebabnya Jessica tidak bisa menolak keputusan sang kakek saat perjodohan di tetapkan.
Xavier tersenyum miring dengan sebelah alis terangkat. Pria itu memindahkan rengkuhan tanganya ke pundak sang istri dan menatapnya penuh cinta. "Selama itu tidak mengusik istriku, lakukan sesuka anda, tuan besar Lawrence."
"Dia akan terus menjadi Jessie bagiku. Sebaiknya jangan mengganggunya demi cucumu Lawrence."
Siapapun tahu jika itu adalah sebuah ancaman, tapi apa maksud dari ucapannya?
Jessie spontan menatap kakeknya kaget. Pria tua itu tidak berniat mengatakan yang sebenarnya kan?
"Maksudmu cucumu Jessica?" Tersenyum sinis, "orang tuaku sudah memberitahuku soal pertunangan itu." Perkataan itu membuat Jessie tak henti menatapnya.
Really? Apa Rachel yang menceritakannya?
"Jessica? Jadi kau—" Alroy tak dapat melanjutkan ucapannya.
"Kau mengenalnya?" tanya Jessie terkejut. Sikapnya seolah ia akrab.
"Pergilah. Bawa putrimu," perintah tuan besar pada Alroy.
Dengan berat hati pria itu berdiri dengan membawa Naomi yang menolak. Meronta-ronta dalam gendongannya. Edgar di dekat pintu ikut keluar bersamanya, begitupun Ellard yang menyusul keluar.
"Apa hubungan Alroy dengannya?" tuntut Jessie. Apa lagi yang belum diketahuinya tentang sang kakak.
"Hanya teman biasa." Bohong! Jessie tahu itu bohong. Tapi ia tidak bisa bersikap lebih. Xavier masih ada disini.
"Mengapa begitu tegang?" Tuan besar mulai mencairkan suasana, "Mr. Xavier Johansson. Keluarga kita cukup dekat. Jessie sudah menjadi istrimu. Meski begitu dia masih orang kami. Jangan khawatir aku tidak akan menyulitkannya."
Xavier mengepalkan tangannya. Sudah jelas tuan besar tidak akan melepas istrinya.
"Kita pulang saja!" sergah Jessie. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya pada tuan besar dan menarik suaminya keluar.
"Dia tidak seperti orang yang kehilangan ingatan," gumam tuan besar remeh begitu kedua orang itu pergi.
Sikap pria itu masih sama. Tidak ada yang berubah. Mendominasi, kuat dan posesif. Dulu Xavier selalu menolak untuk muncul di pertemuan keluarga. Tidak mau terlibat dengan mereka.
"Kupikir akan cocok jika kau yang bersama Jessica. Kalian bisa memimpin bersama dan membuat kerajaan bisnis kita semakin kuat."
Lawrence memang cucu kesayangannya, tapi ia belum memiliki kemampuan apapun. Jessica lah yang mampu membuatnya tertarik untuk mewarisi semua miliknya. Jadi mengabaikan fakta jika Xavier telah berhubungan dengan Lawrence.
Ia pikir bisa mencarikan seseorang lagi untuk Lawrence yang kehilangan kekasihnya, tapi ternyata kisah mereka tidak sesederhana itu.
Mungkin sejak bercerai dengan istri pertamanya, ia tidak lagi mengenal cinta hingga menganggap kisah mereka hanya sebuah kisah biasa.
Menurutnya kehidupan yang baik lebih penting daripada sekedar hidup bersama orang yang dicintai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...