De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Aku Berhasil Melindunginya ....


Jessie PoV


Aku keluar terburu-buru dari kantor polisi. Kakiku berjalan dengan cepat mengikuti pikiranku yang kacau. Gejolak emosi tak beraturan dan debaran jantungku yang kuat. Pikiran terus tertuju pada Xavier.


Setelah menemukan mobilku, segera kulajukan dengan kecepatan penuh. Mobil Porsche 718 Cayman GTS milikku melaju membelah jalan kota Manhattan.


Aku menghentikan mobilku setelah berhenti diseberang jalan tepat di depan gedung pencakar langit yang ada dihadapanku sekarang.


Tersenyum, wajahku menunjukkan kelegaan saat kutemukan pria itu sedang berjalan keluar dari pintu. Ada Felix yang mengikutinya seperti biasa.


Tatapan kami bertemu, ia tampak terkejut. Ya, mungkin karena aku telah melarikan diri darinya dan ia marah.


Dirinya mulai berjalan cepat kearahku, namun suara lengkingan nyaring mengusik pendengaranku. Aku menoleh dengan keterkejutan. Mobil lain dengan kecepatan tinggi melaju ke arahnya. Tidak ada yang bergerak lambat seperti dalam drama. Semua bergerak cepat memicu ardenalin.


Aku menyisakan suamimu sebagai yang terakhir.


"No!"


Mari mati bersama.


"Tidak! Jangan dia."


Tanpa sadar aku berlari dan mendorongnya dengan kuat. Aku bahkan tidak sempat memejamkan mata, persis sebelum aku merasakan tabrakan keras menghantam tubuhku.


Cairan merah mengalir dari kepala hingga mengenai pipiku. Dapat kulihat tanganku yang terkulai di atas genangan darah tak dapat digerakkan.


Aku merasakan rasa sakit yang amat sangat di kepala hingga sekujur tubuhku. Tulangku seperti dipatahkan dan remuk. Rasa sakit itu membuatku ingin segera mengakhirinya.


"JESSIE!"


Dalam kekacauan itu, aku bisa mendengar seseorang berteriak memanggil namaku.


Dalam samar, kulihat ia berlari padaku. Tubuhku terangkat dan sesuatu menyentuh pipiku.


"Xav—" Aku hanya mampu bergumam lirih.


"Aku disini. Jangan tutup matamu." Nada suaranya bergetar hebat. Aku tahu ia menangis.


"Don't cry," pintaku. Tidak tahu apakah ia mendengar.


Tidak peduli bagaimana keadaanku, satu hal yang aku syukuri, aku berhasil melindunginya.


"Jessie!" Dia memelukku dengan air matanya.


"Tetaplap bersamaku, kumohon. Jangan tinggalkan aku."


"LEBIH CEPAT, FELIX!"


Kegelapan mulai mengambil alih. Rasa sakit itu masih bisa kurasakan. Aku tidak bisa bernafas. Kerongkonganku seperti tercekik.


Aku bisa saja menyerah, membiarkan kegelapan menekanku ke titik paling dalam. Titik dimana tidak akan ada lagi rasa sakit, khawatir dan ketakutan.


Sudah berapa lama waktu berlalu? Bisakah aku menahannya lebih lama lagi?


Mengapa aku tidak bisa bergerak? Aku tidak lagi merasakan rasa sakitku. Apa kegelapan berhasil menekanku? Lalu bagaimana dengan Xavier?


Maaf ... Jika aku meninggalkanmu sekali lagi— kuharap kau tidak terlalu membenciku.


-


-


-


-


-


-


-


Sudah tiga hari tubuh wanita yang terpasang alat medis itu terbaring. Seorang pria dengan penampilan tak terurus selalu berada di sampingnya.


Keadaannya sungguh lusuh. Rambut yang tidak tersisir rapi dan jambang yang tidak lagi dicukur.


"Xav, pergilah. Rapikan dirimu. Bagaimana jika Jessie bangun dan melihat keadaanmu?" ucap Rachel.


"Mom sudah mengatakannya sejak tiga hari yang lalu, tapi dia belum juga bangun."


"Tidak ada salahnya bersiap untuk berjaga-jaga, Xav," jawab Rachel lirih.


"Aku takut, Mom—" Tangan yang menggenggam tangan pucat itu bergetar, "bagaimana jika dia—"


"Sttt, tenangkan dirimu. Jessie pasti juga berjuang untuk bangun." Rachel berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia membawa kepala putranya agar bersandar di dadanya.


Pria itu memeluk ibunya dengan isakan pelan.


Putranya yang pemarah dan keras kepala sedang menjadi anak manja.


Rachel menatap menantunya yang masih setia menutup matanya. Meski situasi ini pernah ia rasakan sebelumnya, namun tetap saja ketakutan akan kehilangan tetap ada.


Kejadian lama seperti terulang kembali. Jika dulu adalah Xavier, maka sekarang adalah Jessie.


Tiga hari lalu Jessie langsung melakukan operasi. Kecelakaan yang dialaminya cukup serius. Beberapa tulang di tubuhnya patah seperti rusuk dan tulang kaki. Pendarahan di kepala juga menjadi penyebab wanita itu koma.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Konflik hampir berakhir, begitupun kisah mereka. Dalam waktu dekat mungkin akan segera tamat.


Thanks untuk para reader yang masih setia membaca cerita aku❤❤