De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
I Miss You


"Selamat datang kembali di rumah!" sambut Rachel gembira.


Ia mengambil alih kursi roda Jessie dari tangan Xavier yang langsung di tatap kesal oleh pria itu. Argus menepuk pundak putranya itu, memberi kode agar menurut saja.


Rachel mendorong kursi roda Jessie menuju kamar yang berada di lantai bawah. Kamar itu rupanya telah diubah seperti kamar mereka di lantai atas. Rachel dan Argus telah mempersiapkan semuanya selama ia di rumah sakit.


Melihat ini, Jessie merasa semakin tidak berguna. Sekarang ia tidak lagi seluasa dulu. Pasti dirinya akan sering merepotkan orang lain.


"Jangan berpikir macam-macam," bisik Xavier seolah mengetahui isi pikirannya. Jessie tidak sadar jika Rachel sudah tidak ada.


Xavier menutup pintu kamar mereka dan mulai mendorongnya lagi. Jessie tersentak kala Xavier tiba-tiba membungkuk dan mencoba membuka kancing bajunya.


"Ingin apa?" Menatap suaminya was-was sambil menyilangkan tangannya di dada.


Xavier tersenyum menyadari keterkejutan Jessie. Pria itu menjadi berniat untuk menggodanya, jadi ia sengaja mendekati wajah mereka dan berbisik di telinganya.


"Sudah lama kita tidak melakukannya ... Lawrence."


Wajah wanita itu memerah. Suara serak pria itu terdengar ambigu apalagi setelah mengetahui jika Xavier telah mengingat semua kenangan mereka. Rasanya memalukan jika mengingat dirinya yang dulu.


Jessie sedikit melamun sampai dirinya kembali tersentak kaget saat merasakan bibir pria itu sudah bermain di leher jenjangnya. Spontan tangannya langsung merengkuh kepala Xavier.


"Xav—" Jessie menahan diri agar tidak mendesah, belum lagi salah satu tangan Xavier sudah bermain di salah satu dadanya setelah menyusupkan tangannya di balik kemeja.


Shitt!


Xavier tanpa sadar terlena padahal ia hanya berniat menggoda dan membantu istrinya untuk mandi.


"Baby— I miss you." Xavier menjatuhkan kepalanya di pundak istrinya. Jessie langsung mengerti arti kata itu.


"Tapi kakiku?" Jessie jadi merasa bersalah.


Sekarang ia merasa takut Xavier akan mencari kepuasan di luar sana karena kondisinya yang terbatas.


Xavier menyadari kecemasan istrinya. Pria itu menarik dagu Jessie pelan dan mulai menautkan bibir mereka.


"Aku mencintaimu. Kupastikan kau tidak akan merasa kekurangan. Nikmati saja, aku yang akan bergerak," bisik Xavier lagi, membuat semburat merah kembali muncul di pipi Jessie.


Xavier yang merasa gemas lantas mendaratkan kecupan berkali-kali disana. Jessie sampai memekik kala Xavier menggigit pipi merah mudanya.


"Aku ingin memakannya." Pria itu dengan gemas mengapit pipi istrinya hingga bibir wanita itu terlihat maju dan mengerucut lucu.


Cup! Satu kecupan diberikan lagi oleh Xavier di bibirnya.


"Aku ingin makan ini, lalu ini, ini, dan ini. Aku ingin semuanya!" Jessie tertawa karena geli. Xavier mencium semua yang bisa dijangkaunya berkali-kali.


**


Jessie menatap dirinya di cermin dimana Xavier sedang mengeringkan rambutnya. Bibir pria itu tak henti-hentinya melengkungkan senyuman sambil sesekali memberi ciuman kecil di wajah istrinya.


Namun tak lama pria itu terdiam dengan menatap rambut panjangnya.


"Aku akan memanggil penata rambut untuk menyingkirkan ini," katanya kemudian.


Jessie mengerjit bingung dan langsung mendongak.


"Untuk apa?" Rasanya tidak ada yang salah dengan rambutnya.


"Kau tidak perlu memanjangkannya lagi untukku," jawabnya, "lagipula aku berbohong soal rambutmu yang jelek waktu itu." Sekarang ia mulai merindukan Lawrence-nya yang dulu. Si gadis liar, manja dan cengeng.


Jessie terkekeh pelan kemudian meraih tangan suaminya agar memeluknya dari belakang.


"Aku menyukainya."


"Baby—"


"Sungguh!" Jessie meyakinkan," saat itu aku masih tidak peduli dengan penampilan, tapi sekarang sudah berbeda."


"Kau tetap sama bagiku," datar Xavier.


"Hm? Dulu aku sangat jelek, tapi sekarang aku cantik." Jessie tersenyum narsis.


"Aku tidak sungguh-sungguh mengatakan kau jelek. Aku malu mengatakan kau cantik." Dulu maupun sekarang, Jessie-nya tetap cantik.


"Kau bahkan tidak ragu mengakuinya?" Jessie memasang wajah mengejek.


Xavier berdehem sambil menatap kearah lain. Jessie ingin tertawa namun terpaksa menahannya. Ia tahu pria ini masih malu.


"Sebaiknya potong saja."


Sebenarnya ia tidak suka istrinya semakin terlihat cantik. Tidak rela dirinya jika Jessie menjadi perhatian publik.


"Why? Aku jauh lebih cantik sekarang."


"Babyy ..." Wajahnya mulai gusar, "nanti dia akan tumbuh lagi."


Jessie menggeleng. "No!" tekannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...