
Jessie duduk di pinggir ranjang sambil menatap suaminya yang sudah terlelap. Tangannya terulur menyentuh rahang kokoh itu dengan lembut.
"Sebentar lagi hari peringatan kematian orang tuaku. Aku harus mengurus banyak hal dan mungkin kita tidak akan bertemu selama beberapa waktu," bisik Jessie.
Anggap saja itu juga ruang untuk Xavier memikirkannya kembali.
Mungkin egois jika ia memilih bergerak sendiri tanpa suaminya padahal Xavier ingin ia menyelesaikan masalah bersama. Namun Jessie tak ingin mengulangi kesalahan yang sama yang berakhir penyesalan untuk dirinya.
"Aku mencintaimu. Dulu maupun sekarang."
Aku ingin menyelesaikan semuanya tanpa terbayang-bayang lagi. Aku ingin ketenangan tanpa dihantui ketakutan dan keputusasaan.
"Aku akan mengakhirinya dan kembali padamu," bisiknya lagi seraya beranjak perlahan tanpa suara dan menutup pintu dengan pelan.
Keadaan diluar masih sangat gelap karena waktu masih menunjukkan pukul dua malam. Jessie berjalan di sepanjang lorong kamar dengan pandangan lurus tanpa suara.
Ia berhenti tepat di depan sebuah kamar dan menatap pintu besar itu cukup lama.
"Masalahku tidak ada hubungannya dengan kalian. Kecelakaan Xavier enam tahun lalu juga karena diriku. Akan lebih baik tidak ada yang terluka lagi kali ini," gumamnya.
Setelah menyelipkan sebuah amplop di bawah vas bunga di depan kamar, Jessie kembali melanjutkan langkahnya.
Hari peringatan ya? Benar, bukan hanya peringatan orang tuanya, namun akhir dari mereka yang terlibat. Masa ini akhirnya tiba.
Hari peringatan tahun ini akan menjadi hadiah untuk orang tuanya dan Jessica.
-
-
-
-
"Jes?"
Valerie menatap sekeliling yang di cahayai lampu temaram. Suasana tampak suram membuat Valerie sedikit bergidik. Beberapa lampu memang tidak dinyalakan.
Wanita itu sedikit kebingungan karena Jessie memanggilnya datang ke apartemen yang pernah ditinggali Jessie sebelum menikah padahal waktu masih menunjukkan pukul lima pagi.
Valerie melangkah ke arah meja bar karena menduga Jessie berada disana. Benar saja, wanita itu duduk sambil menyesap segelas wine.
"Jes?" panggil Valerie ragu. Pasalnya wanita itu terihat berbeda dari biasanya. Auranya sedikit dingin dan ....
Ada yang salah! Biasanya Jessie tidak pernah suka dipanggil dengan nama itu.
"Duduklah, Val. Temani aku minum." Jessie mendorong segelas wine kearahnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Valerie hati-hati setelah duduk.
"Menurutmu?"
"Entahlah," jawabnya ragu.
"Kau tahu, Val ... Aku membiarkan satu-persatu keluargaku memiliki properti Lawrence sebagai milik mereka. Mereka juga memiliki bagian masing-masing untuk mengelola aset Lawrence. Tapi mengapa masih ada yang tidak puas?"
"Karena masih ada seseorang yang membatasinya. Mereka tidak ingin di perintah dan menginginkan posisi tertinggi. Dengan begitu orang-orang akan menghormati dan berlutut," ujar Valerie dalam.
Jessie tersenyum tipis. "Tidak semua akan bersikap sama. Tidak perlu ku jelaskan posisiku sekarang, kan?" Bukannya dihormati, ia justru seperti mangsa yang dikejar pemburu.
"Karena kau tidak muncul, Jes. Mereka meremehkanmu."
Jessie mengangguk tanda mengerti. "Rupanya begitu ...."
"Kau tidak sebodoh itu untuk mengerti, kan?" Valerie masih merasakan keanehan pada diri Jessie.
"Jadi apa yang harus kulakukan, Val?" Mengabaikan pertanyaan Valeria.
Jessie baru saja bertanya padanya?
"Apa aku harus menunjukkan diri?" tanya Jessie lagi.
Tanpa sadar Valeria mengangguk karena tatapan mengintimidasi Jessie.
"Seharusnya— begitu, kan?" katanya gugup.
Apa-apaan ini? Mengapa Jessie jadi menakutkan begini. Tidak! Ini bukan Jessie, tapi Lawrence!
Hanya Lawrence yang memiliki wajah angkuh seperti ini. Jessie selalu manis dan suka tersenyum.
"Kau ada masalah?"
"Kapan aku bebas dari masalah?" tanya Jessie kembali, menaikkan sebelah alisnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...