
Hidup itu pilihan ....
Kata-kata itu sudah sering kudengar dengan telingaku. Jika bertanya apa pilihanku, maka inilah jalan yang kupilih.
Orang lain mungkin berpikir aku tidak berperasaan, namun mereka tidak tahu jika aku butuh waktu lama mempersiapkan diri untuk hal ini.
Bagaimana rasanya saat kau berhadapan dengan pembunuh keluargamu, tapi kau terpaksa terus tersenyum pada mereka seolah tidak mengetahui apapun.
Menjengkelkan, bukan?
**
"Sebuah kejutan?" sinis Sir. Austin, "aku tidak menyangka telah tertipu oleh keponakanku sendiri," cibirnya pada wanita yang kini duduk di hadapannya.
Rebecca yang juga disana terlihat salah tingkah meski mencoba menormalkan ekspresinya berulangkali. Tak urung Rexanne nenatap kesal pada putrinya.
Tentu saja Rebecca merasa resah. Faktanya wanita yang pernah di usiknya ternyata adalah Lawrence sendiri bukannya Jessie yang merupakan bawahan. Terlebih lagi ia pernah menggoda suaminya.
Lihat saja wanita itu sekarang. Dari aura yang terpancar dari ekspresinya saja sudah cukup membuktikan jika ia memang Lawrence yang pernah diceritakan kakeknya.
"Dia tidak ramah! Kakek ingatkan jangan mengganggunya jika bertemu!"
Masih jelas peringatan kakeknya dalam ingatannya, walaupun sebenarnya ia belum pernah bertemu secara langsung. Tapi sekarang?! Kenyataan ini sangat mengejutkan.
"Aku ingin bicara dengan bibi," ujar Jessie pelan. Ia tak perduli dengan gerutuan Austin sejak tadi.
Rexanne mengangguk. "Benar saja kau keponakanku." Agak aneh mendengar Jessie memanggilnya bibi untuk pertama kali.
"Aku tidak ingin berbasa-basi." Setelah mengatakan itu, Jessie mengeluarkan sebuah flashdisk dari tasnya dan meletakkannya di atas meja.
"Apa itu?" Rebecca mulai was-was.
"Rekaman kejadian Jessica lima tahun lalu. Ibumu ada ditempat kejadian."
"Apa?!" pekik Austin dan putrinya.
"Mom, kau tidak terlibat, kan?!" tanya Rebecca panik.
"Bisa saja," sahut Jessie.
"Mom!"
"Diam kau!" sentak Rexanne pada Rebecca.
"Aku memang ada disana, tapi bukan berarti aku yang membunuhnya!" katanya menatap Jessie.
"Benar juga." Jessie nampak berpikir, "tapi bagaimana jika kakek melihatnya?"
Ketiga orang itu langsung menegang mendengarnya.
"Kakek tidak akan mendengarkan. Dia akan marah!" Rebecca panik.
Apalagi jika rekaman itu jatuh pada saingan bisnisnya. Sudah jelas itu bisa digunakan untuk mencoreng nama baik keluarga Lawrence.
"Apa yang kau inginkan?" tanyanya kemudian.
Jessie tersenyum tipis. "Cukup jadi saksi dan ceritakan apa yang kau lihat."
-
-
Rexanne membawa Jessie ke sebuah villa tak jauh dari pusat kota. Hanya mereka sendiri disana, tanpa satupun pekerja.
"Istirahatlah disini. Kau bisa tinggal sampai masalahmu selesai. Aku akan kembali ke rumah."
Rexanne hendak menutup pintu, memberi ruang pada wanita itu.
"Bibi ...."
"Yes?"
"Kau tidak berbohong, kan?"
"Aku tidak minta kau percaya." Selanjutnya benar-benar pergi setelah menutup pintu.
Jessie menghela nafas pelan dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Mungkin ia akan berada di sini selama beberapa hari.
Menatap langit-langit kamar, Jessie teringat pada suaminya. Seperti apa pria itu hari ini. Apakah mencarinya? Ia tak bermaksud pergi, sungguh. Ia hanya takut melibatkan pria itu lagi dalam masalahnya.
Besok adalah hari ulang tahunnya yang berarti juga menjadi hari terburuk dalam hidupnya. Setiap tahunnya ia akan pergi menyendiri pada hari yang dianggap orang istimewa ini.
Jessie benci ketika ada seseorang yang mengucapakan selamat padanya, memberi hadiah atau kejutan lain. Terakhir kali kejutan yang didapat adalah kabar kematian keluarganya.
Jessie bangun dari tidurnya, menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Ia berjalan menuju jendela besar yang terdapat tempat duduk dengan bantal-bantal kecil dan duduk disana menatap bulan.
Terdapat bintang-bintang kecil di sekitarnya, membuat senyuman terbit di bibir Jessie.
"Kalian tahu? Aku bertemu gadis kecil, sangat cantik. Mata dan bibirnya seperti kakak, tapi wajahnya seperti ayahnya. Gila ya?" Jessie terkekeh pelan, "mungkin aku terlalu merindukan kakak."
"Dia sangat lucu, mom, dad. Dia mirip kakak saat cemberut." Lagi-lagi ia menyamakannya dengan sang kakak.
Tidak ada suara lagi setelah itu. Jessie terdiam beberapa saat.
"Malam ini hanya ada kita. Mom, dad dan kakak," lirihnya, kemudian menidurkan dirinya dengan meringkuk memeluk selimut yang melilit tubuhnya dan memejamkan mata.
Happy Birthday, Dear. Tonight is ours. Good night.
Jessie yang mulai tenggelam di alam bawah sadarnya tersenyum tipis.
Good night, Mom.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...