De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Bukan Pembunuh


Saat keadaan masih menegangkan karena pengakuan yang tiba-tiba, tak lama kemudian beberapa pria dengan pakaian berseragam masuk menghampiri mereka.


"Selamat pagi. Kami dari kepolisian membawa surat perintah penangkapan atas nama Valerie Morgan atas kasus pembunuhan berencana lima tahun yang lalu, juga percobaan pembunuhan yang terjadi enam tahun lalu."


Tentu berita baru itu kembali menggemparkan seisi gedung pencakar langit tersebut.


"Apa?!" Valerie terkejut bukan main. Jantung berdebar kencang dan ketakutan mulai melanda.


"Jess! Tolong aku. Mereka pasti salah!" Valerie mencengkeram kedua tangan Jessie dengan memohon.


"Kau percaya padaku, kan? Aku tidak mungkin membunuh!" Jessie hanya diam saja.


"Mohon ikut kami—"


"TIDAK! AKU BUKAN PEMBUNUH! JAUHKAN TANGAN KALIAN," teriak Valerie ketakutan, apalagi melihat wajah mengejek semua orang.


"MENJAUH!"


Para polisi itu berusaha menahan tubuh Valerie yang terus memberontak dan mengamuk.


"AKU BUKAN PEM—"


"VALERIE!" bentak Jessie, membuat wanita itu terdiam.


Jessie mendekat padanya dan mengulurkan tangan untuk menghapus air mata Valerie dengan lembut.


"Aku akan menemuimu nanti," ucap Jessie dengan wajah sendu, "sekarang ikutlah dengan mereka dan bersikap baik," bujuknya.


"Kau berjanji?"


"Ya, aku janji."


Valerie akhirnya tenang. Para polisi itu segera membawa Valerie keluar untuk ditindaklanjuti di kantor.


Setelah wanita itu menghilang, wajah sendunya digantikan dengan senyum mengembang.


"Kosongkan meja Valerie, sekarang! Dan kembali bekerja!" perintahnya.


Tanpa menunggu lagi, semua orang langsung bubar dari tempatnya. Masih banyak yang tidak percaya dengan kejadian hari ini ditambah dengan sosok Jessie yang sebenarnya. Belum lagi sifat wanita itu sangat mengerikan. Berbanding terbalik dari sifat Jessie biasanya.


**


"Aku penasaran bagaimana kau menemukan bukti-buktinya." Edgar seperti biasa merasa puas dengan pencapaian Jessie.


"Kapan kau mengetahuinya?"


"Satu tahun yang lalu, mungkin."


"Satu tahun yang lalu?!" Laura yang datang langsung terkejut. Ia sempat mendengar pembicaraan keduanya.


"Lalu mengapa baru sekarang?" tanya Laura tidak percaya.


"Karena kekuasaan sudah berada di tanganku. Benarkan, Paman?"


Edgar hanya menghela nafas pelan. Ternyata selama ini Jessie hanya berpura-pura tidak tahu. Nampaknya tuan besar juga tertipu dengan wanita ini.


"Seharusnya aku tidak bertanya," datar Laura ikut mendudukkan diri di sofa.


"Kau harus merapikan ulang ruangan ini, Laura. Selera kalian berbeda jauh," cibir Jessie menatap sekeliling.


Setelah mengatakan itu, Jessie bangkit dari duduknya dan mulai berjalan menuju meja kerja Valerie. Ia duduk disana dengan wajah datarnya.


Menarik laci, Jessie tersenyum sinis menemukan beberapa botol obat yang diyakini sebagai penyebab masalah rahimnya.


"Paman ... mungkin kakek harus menunggu lagi untuk mendapatkan cucu," ujarnya.


"Ada apa?" Edgar mengerjit heran.


Jessie melempar sebotol obat itu pada Edgar.


"Aku mandul. Obat itu meracuniku," ungkap Jessie apa adanya.


Edgar tentu terkejut dengan hal ini. Ia tidak mengetahui apapun soal obat karena tahu Jessie tidak pernah mengonsumsi obat-obatan. Siapa sangka ia kecolongan.


"Bukan mandul, Jess. Jika berhenti meminumnya, efeknya akan berkurang. Aku sudah minta obat lain untuk meningkatkan kesuburanmu." Laura menjelaskan.


"Aku sudah berhenti sejak satu tahun yang lalu, tapi dokter itu bilang efek sampingnya masih cukup beresiko. Mungkin butuh bertahun-tahun untuk sembuh."


"Siapa yang melakukannya? Apa wanita itu juga?" tanya Edgar menahan amarah.


"Dia sangat terobsesi, kan," ujar Jessie tersenyum.


"Kalau begitu dia akan mendapat hukuman tambahan karena meracuni orang!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...