
Enam tahun lalu ....
"Xav ..."
Xavier melirik sedikit mendengar seseorang memanggilnya. Seorang gadis dengan potongan rambut Pixie berdiri di dekatnya duduk.
Xavier mengangkat kepalanya yang menunduk menatap ponsel kearah gadis itu dengan menaikkan sebelah alisnya. Seolah bertanya 'apa?'
"Bagaimana keadaanmu dan ... kepalamu?" Menatap kepala Xavier yang masih berbalut perban di bagian kening.
"Bukan urusanmu. Pergilah," jawabnya datar, kembali memainkan ponselnya. Entah sudah wanita ke berapa yang datang dan menanyakan hal yang sama. Xavier jengah melihat wajah sok khawatir mereka hanya untuk menarik perhatiannya.
Dan gadis di sampingnya ini, sudah kesekian kalinya datang! Bersikap seolah mengenalnya. Bahkan membawa makanan buatan ibunya untuknya. Hell! Mereka tidak sedekat itu.
Mungkin jika keadaan masih sama, gadis itu akan menangis sekarang mendengar keacuhan pria itu. Sekuat mungkin ia menahan air matanya.
Melihat gadis itu masih berdiri, Xavier bicara lagi, "Pergilah! Kau tidak dengar?!" Suara meninggi.
Runtuh sudah pertahanannya menahan diri. Gadis itu meneteskan air matanya.
"Hei! Kenapa menangis?" Xavier kesal. Ia tidak berniat untuk berdiri dan menenangkan. Lagipula itu bukan salahnya. Ia sudah meminta gadis itu untuk pergi.
"Kau sangat jahat!" katanya terisak.
What??
"Dulu kau selalu marah jika aku mengabaikanmu saat sakit."
"Kau melantur?" Xavier berkerut dan bangun dari duduknya, "gadis gila!" semburnya mencoba pergi, tapi gadis itu menahannya.
"Jangan pergi, kumohon."
Sekarang di mata Xavier, keberadaannya tidak diinginkan.
Tatapan mata itu telah berubah menjadi dingin seperti menatap orang asing lainnya.
"Lepas!" Xavier menyentak tangannya hingga tangan gadis itu terlepas. Buru-buru Xavier pergi meninggalkannya dengan tatapan gadis itu yang mengikuti hingga menghilang.
Air mata itu tumpah kembali meski tanpa suara. Gadis itu masih berdiri di tempatnya hingga ada sentuhan lembut di bahunya.
"Semua perlu waktu, Lawrence."
Kedua sahabatnya, Laura dan Valerie merengkuh tubuh mungil itu.
"Jessie," tegur Jessie pelan untuk meralat panggilan mereka.
"Oh come on! Tidak ada siapapun disini," keluh Laura.
Jessie menghela nafas dan mengambil tasnya di kursi tempat Xavier sebelumnya duduk dan mengabaikan keduanya. Ia berjalan cepat mengikuti Xavier dengan menghapus lelehan air matanya kasar.
"Biarkan dia," pinta Laura.
"Xavier benar-benar berubah," gumam Valerie.
"Iya, tapi aku heran kemana ponsel mereka menghilang. Padahal Xavier bisa melihat foto-fotonya bersama Jessie sebagai bukti." Laura heran.
"Semua pasti direncanakan, Laura. Kau lupa mereka berdua siapa?" bisik Valerie padanya.
Seseorang pasti dibalik ini semua.
Masih disekitaran kampus, Jessie terus mengikuti Xavier yang semakin menjauh. Sebagian kelas telah berakhir begitupun kelas mereka.
Jessie sempat kebingungan karena Xavier tiba-tiba menghilang saat berada di koridor. Kepalanya menoleh kesana-kemari mencari keberadaan Xavier.
"Buat pernikahan itu batal!"
Jessie spontan mencari asal suara samar namun masih terdengar jelas itu. Ia berjalan pelan menuju lorong lain yang masih berada di satu koridor.
Jessie mengintip di balik tembok dengan tangan menutup mulutnya tidak percaya mendengar setiap pembicaraan mereka. Belum lagi dua orang disana adalah orang yang begitu dikenalnya.
Xavier dan Jessica menjadi objek tersebut. Keduanya berdebat cukup hebat.
"Aku juga tidak ingin! Tapi itu satu-satunya syarat untuk kita!" tekan Jessica.
"Kenapa aku harus peduli?" Xavier tersenyum miring.
"Kau—" Jessica menggigit bibirnya menahan diri, "aku tidak habis pikir denganmu!"
"Kau pasti sangat berharap menikah denganku, kan?" ucap Xavier dingin.
"Aku tidak pernah berharap! Setidaknya bicaralah pada keluarga kita agar ini semua dibatalkan!. Aku sudah mencoba untuk menolak, tapi untuk menjadi ahli waris kita harus menikah!"
"Begitu? Baiklah," datarnya.
"Kau setuju?" Jessica menampikkan senyum senang. Xavier akan berbicara dan mereka akan terbebas dari pernikahan.
"Hmm, aku setuju ...."
"Bagus—"
"Menikahimu," sambung Xavier memotong ucapan Jessica.
Jessie di belakang tembok merasa kakinya hampir lemas dan terjatuh. Dadanya terasa begitu sesak hingga tangannya harus memukul dadanya itu.
Mengapa? Mengapa Jessica tidak pernah mengatakannya. Kedua orang tuanya juga tidak pernah memberitahu hal ini. Kebenaran ini seharusnya sudah ada sejak Xavier masih bersamanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...