De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Penyebab Kematian


Jessie curiga jika kecelakaan Xavier juga ada hubungannya dengan identitasnya sebagai Lawrence. Mengetahui sedikit kebenaran tentang orang tuanya dan Xavier, ia memiliki ambisi itu.


"Miss. Millen—"


"Mrs. Johansson!" Xavier meralat panggilan seorang maid dengan nada dingin.


"Mrs. Johansson." Maid itu membungkuk.


"Ada apa?" tanya Jessie.


"Mrs. Rexanne menunggu anda di ruang keluarga."


"Mrs. Rexanne?"


"Benar, Mrs."


Maid itu menjelaskan jika Mrs. Rexane memang sering berkunjung ke mansion utama sendiri. Kebetulan hari ini ia datang dan mengetahui kedatangan Jessie dan suaminya dari pelayan.


"Mrs ...," panggil Jessie begitu sampai di tempat Rexanne menunggu.


Wanita paruh baya itu berdiri, tersenyum pada pasangan muda itu.


"Lama tidak bertemu denganmu, Jessie."


"Senang bertemu dengan anda, Mr. Johansson."


"Ah, silahkan duduk dulu. Aku sudah menyiapkan minum untuk kalian berdua." Rexanne mempersilahkan.


"Ngomong-ngomong selamat atas pernikahan anda, Sir. Kupikir ini hanya kabar burung karena tidak ada berita resmi."


"Kami memang telah menikah," jawab Xavier datar.


"Kalau begitu syukurlah." Wanita itu mencoba menyembunyikan raut wajahnya sebaik mungkin.


Seperti rumornya jika tuan Xavier bukan orang yang mudah di dekati. Itu sebabnya Rebecca selalu gagal mendekatinya, tapi malah wanita pendamping ini yang mendapatkannya!


"Thanks, Mrs. Aku tidak menyangka anda sering kemari." Kali ini Jessie yang bicara.


"Tentu saja. Kediaman ini sangat jarang ditempati. Sebagai menantu aku hanya ingin memastikan tempat ini tetap terjaga," ujarnya.


Masih ingat dengan Rexanne, ibu dari Rebecca? Benar, itu ia.


"Aku lebih tidak menyangka lagi mendengar kehadiranmu disini."


Jessie tersenyum tipis. "Aku hanya mengunjungi makam nona Jessica," ungkapnya.


"Begitu ..." Rexanne mengangguk pelan, kemudian menyesap teh nya dengan anggun.


Tidak ada pembicaraan lanjut setelah itu. Keadaan menjadi hening. Melihat tidak ada yang berniat bicara, Xavier bangkit dari duduknya.


"Aku akan menunggu diluar," katanya sambil mencium pelipis istrinya sebelum pergi. Rexanne mengamati.


"Kau beruntung. Xavier sepertinya sangat mencintaimu," tutur Rexanna setelah pria itu menghilang.


"Pasangan memang seharusnya begitu, kan?" jawab Jessie, menaikkan sebelah alisnya.


"Tidak, ada yang berpura-pura dan ada pula yang terpaksa demi bertahan hidup."


Realita pernikahan tidak semenyenangkan dan romantis seperti ekspetasi semua orang. Awal pernikahan mungkin kita akan merasakan hal seperti itu jika menikah dengan pasangan pilihan karena masih ada benih-benih cinta di antara pasangan.


Tapi setelah melewati fase-fase pernikahan barulah mereka menyadari jika ekspetasi tentang pernikahan tidak selalu seindah realitanya.


"Jika dalam pernikahanmu masih ada cinta meski sudah berlangsung lama, maka kau termasuk beruntung."


Banyak orang yang takut pada pernikahan. Sebenarnya bukan karena mereka takut pada pernikahan itu sendiri, tapi takut jika salah memilih orang yang tepat.


"Mengapa anda mengatakan itu padaku?" tanya Jessie.


"Karena aku peduli." Ibu satu anak itu menatap Jessie, "sikapku memang buruk, tapi aku juga wanita. Aku hanya memberitahumu sebagai wanita yang telah menikah. Jangan karena kau menginginkannya, kau harus terjebak dalam perasaanmu sendiri," katanya dalam.


"Terima kasih. Aku akan menyebutnya sebagai pengalaman seseorang."


Jessie bukan tidak mengerti maksud ucapannya. Melihat cara bicara Rexanne, wanita itu telah menyampaikan isi hatinya.


"Kami dijodohkan," ungkap Jessie gamblang, "jadi aku tidak tahu apakah keputusan ini tepat karena kami sedang sama-sama saling menerima."


Rexanne tersenyum tipis. "Kau tidak takut aku memanfaatkan pengakuanmu itu? Bagaimana bisa kau mengatakan itu."


"Aku tidak peduli. Aku juga memberitahumu sebagai wanita yang telah menikah."


Rexanne terdiam.


".... Kebanyakan dari mereka memilih pasrah mengikuti keadaan, tapi mengapa kita tidak mencoba membuatnya lebih baik. Meskipun hasilnya gagal, setidaknya tidak ada penyesalan dalam diri karena kita sudah berusaha."


"Kau benar," lirihnya tersenyum, "sekarang aku mengerti."


Bukan hanya Jessie, tapi Xavier juga beruntung mendapatkannya.


"Mari bahas hal lain. Kami sudah mendengar kabar dari kantor pusat jika Lawrence telah mengambil alih," kata Rexanne.


"Tuan besar sepertinya bergerak cepat," selorohnya.


"Kau pasti sudah mengetahuinya juga. Itu sebabnya datang kemari untuk memberi penghormatan pada Jessica."


"Anggap saja begitu."


"Lawrence tidak akan muncul, kan?"


"Maaf, anda akan kecewa."


"Aku sudah menebaknya."


"Aku hanya memberi saran. Lawrence tidak bisa terus bersembunyi atau keberadaannya akan diragukan."


"Jangan khawatir, Mrs. Tapi akan kusampaikan pesan anda."


"Sebaiknya jaga dia dengan baik. Tidak, dia harus bisa menjaga dirinya sendiri. Siapapun bisa menjadi jahat pada waktunya. Orang terdekat juga bisa berkhianat."


"Dan kau. Meski kau adalah orangnya, sebaiknya jangan terlalu dekat dengannya. Kau sudah mempunyai kehidupanmu sendiri. Jangan siakan itu."


"Baiklah, terima kasih atau waktumu. Aku akan pergi mengunjungi Jessica." Rexanne mengambil tasnya dan berdiri. Jessie ikut berdiri sambil melihat kepergian wanita itu.


"Sebenarnya peran apa yang sedang kau mainkan, Mrs. Rexanne Lawrence," gumam Jessie.


Apa ia sama berambisinya seperti anak dan suaminya atau hanya sekedar bertahan hidup?


"Semoga kau tidak terlibat, Mrs." Mulai melangkah keluar meninggalkan mansion.


**


Rexanne berdiri di depan makan Jessica. Ia menatap sebuket bunga di atas makam tersebut dengan pandangan tak terbaca.


Citt ... Brakk!


Rexanne memejamkan matanya saat bayangan itu terlintas dipikirkannya. Ingatan tentang seorang wanita yang mengulurkan tangan meminta bantuan menjadi bayangan ketakutan dalam dirinya.


Jessica De Lawrence, wanita yang ia tinggalkan dalam keadaan menggenaskan di atas genangan darah.


Kehadiran Lawrence yang disebut-sebut akan menjawab siapa sebenarnya yang telah berbaring kaku di dalam gundukan tanah itu.


Bagaimana jika wanita itu memanglah Lawrence, namun tuan besar menjadikan saudarinya sebagai pengganti.


Help me ....


"Hentikan!" Rexanne memegang kepalanya.


Rexanne ....


"Kubilang hentikan!" teriaknya dengan nafas memburu.


"Berhenti ... Aku selalu datang untuk menebusnya, Jess. Mengapa kau tidak membiarkan aku hidup tenang," lirihnya sembari berlutut.


"Aku juga tidak punya pilihan!" Suaranya meninggi, "kau tahu seperti apa kehidupanku, kan?"


Rexanne menunduk, pundaknya terlihat bergetar.


"Mengapa kau menatapku seperti itu, Jess ..." Air mata lolos dari sudut matanya. Tatapan berharap dari Jessica terus terngiang-ngiang dalam ingatannya.


Rexanne menyeret tubuhnya mendekat ke makam Jessica. Ia membaringkan tubuhnya meringkuk di samping tempat pembaringan Jessica sambil menutup matanya.


Tidak jauh darinya, seorang wanita mengawasi Rexanne sejak awal. Tangannya mengepal disertai mata yang menyorot tajam penuh kemarahan.


Jessie mengurungkan niatnya untuk pergi karena merasa aneh dengan Rexanne. Sejak kapan wanita paruh baya itu begitu dekat dengan Jessica hingga mengunjungi makam setiap minggunya seperti informasi dari pelayan.


Semua keluarga Lawrence tidak bisa dianggap teman ataupun musuh. Mereka terkadang memihak pada siapa yang menguntungkan. Meski tidak semuanya, tetap saja tidak bisa mempercayainya begitu saja.


Mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Rexanne membuat darah Jessie mendidih. Apakah ia salah paham atau itulah kenyataannya?


Kemungkinan terbesar bahwa Rexanne adalah penyebab kematian sang kakak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...