
"Sialan!"
Jessie membungkuk memegang perutnya yang terasa nyeri. Datang bulan pertamanya memang seperti ini. Rasa sakit akan lebih kuat daripada hari berikutnya. Tenang saja. Ini hal normal bagi para wanita.
Hari pertama?
"Padahal aku hanya menolak sekali. Kenapa malah jadi sungguhan." Mencoba duduk senyaman mungkin untuk mengurangi sakit, masih dengan tangan memegang perut.
Jessie mengingat keinginan Xavier yang menginginkannya semalam, tapi ia menolak dengan alasan datang bulan. Padahal ia hanya mengantuk berat dan tidak ingin bermain. Tapi lihat yang ia dapat sekarang? Apa Tuhan langsung menghukumnya?
Yang benar saja!
Sudah hampir siang. Xavier sudah berangkat bekerja tadi pagi. Hanya dirinya yang tinggal karena nyeri perutnya.
Diam sebentar, tak lama ia melirik ponselnya. Tangannya bergerak mengambil benda pipih itu. Isi kepalanya saat ini adalah menemukan kontak suaminya yang entah sedang apa sekarang.
Xavier sendiri sedang rapat harus terjeda saat ponsel pria itu berbunyi di atas meja. Biasanya Xavier akan marah pada pengganggu yang mengusik waktu berharganya, tapi saat melihat nama panggilan yang tertera ia mengurungkan niatnya untuk marah.
"Ada apa?" tanya Xavier to the point.
Tidak biasanya Xavier mau meladeni meski orang tuanya sekalipun. Orang-orang menjadi penasaran.
"Perutku sakit. Aku ingin menangis saja rasanya, tapi tidak bisa." Air matanya mungkin sudah lama mengering atau sedang bersembunyi di suatu tempat hingga tidak pernah keluar.
"Lalu?" Xavier bingung.
Apa yang harus dilakukan? Itukan sudah hal umum bagi para wanita.
"Laluu?! Kau bertanya padaku lalu?" Suara Jessie memekik dari ujung telepon," lupakan!" Tuttt.
Eh?
Xavier langsung menatap ponselnya, memastikan apakah Jessie benar-benar memutuskan sambungan secara sepihak.
Apa aku salah?
"Sir?" panggil Felix saat melihat tuannya hanya diam menatap ponsel.
"Jika wanita mengeluh sakit perut karena datang bulan, apa yang harus dilakukan?" tanya Xavier tiba-tiba, mengejutkan semua orang.
"Ap—apa?"
Aku tidak salah dengarkan? Orang-orang bergumam tidak percaya.
"Kau!" tunjuk Xavie pada salah satu pria disana, "apa yang kau lakukan jika istrimu mengeluh?"
"Ak—aku?" Pria itu kelabakan.
Istri? Sir, Xavier memiliki istri?
"Saya tidak tahu, Sir."
"Bagaimana bisa tidak tahu!" hardik Xavier.
Tapi anda juga tidak tahu, Sir! batinnya.
"Karena saya tidak punya istri."
Suasana seketika hening.
"Kenapa tidak bilang, ck!"
Astaga, situasi macam apa ini? batin semua orang.
"Kalau begitu siapa yang sudah menikah?" Menatap mereka semua.
Awalnya tidak ada yang berniat mengaku, tapi melihat tatapan tajam Xavier yang menusuk mereka satu-persatu, seseorang mengangkat tangannya.
"Langsung katakan saja!"
"Biasanya saya membantu dengan mengelus perut istri saya, Sir. Meski tidak berpengaruh, biasanya wanita menyukai hal itu karena suasana hati mereka akan membaik."
Yang lain mengangguk membenarkan. Meski belum menikah, diantara mereka pasti memiliki pacar. Meski tidak memiliki pacar, setidaknya memiliki pengetahuan untuk ini. Berjaga-jaga jika situasi seperti itu terjadi.
"Berikan sesuatu yang hangat untuk mereka makan atau minum. Itu bisa mengurangi rasa sakit." Pria lain ikut memberi komentar.
Isi ruangan sebenarnya hanya dipenuhi oleh para laki-laki. Berbeda jika ada perempuan di dalamnya.
"Wanita akan mudah emosi dan terbawa perasaan jika sedang datang bulan. Anda harus berhati-hati untuk tidak membuatnya marah."
Bukan hanya satu, tapi hampir semua orang mulai berani mengeluarkan argumen. Xavier mendengarkan dengan baik ucapan mereka.
Felix di sebelah Xavier hanya bisa mengelus dada. Rapat hari ini telah berganti agenda mengenai datang bulan. Ia tidak punya satupun ide untuk mengakhiri diskusi ini.
-
-
-
-
Ia meluruskan tubuhnya di sofa, mencoba memejamkan mata sejenak. Matanya terbuka saat menyadari satu hal. Tatapannya kini beralih menatap sebuah vas bunga satu-satunya yang ada di kamar.
"Cinta ya? Entahlah," gumamnya sendiri.
Sudah lebih dari satu bulan pernikahannya dengan Xavier. Hubungan mereka memang lebih baik dari sebelumnya, namun itu hanya sekedar bentuk tanggung jawab yang dilakukan Xavier.
Meski Jessie yakin Xavier sudah tertarik padanya, pria itu tidak akan mau mengaku dengan harga dirinya.
Rasa suka dan tertarik itu sangat umum. Siapa saja bisa merasakannya. Suka belum tentu cinta, tapi cinta sudah pasti suka. Rasa suka dan tertarik bisa hilang begitu saja begitu kekagumanmu hilang, tapi cinta tidak mudah hilang begitu saja meski kekuranganmu terlihat.
Perhatikan perbedaannya dengan jelas! Jangan samakan kedua rasa itu. Keduanya berbeda!
Pernikahan harusnya seperti makna Baby's Breath. Ibunya selalu mengatakan itu berulang kali. Itu sebabnya Sophia menyukai bunga tersebut.
"Tapi kalian tidak pernah menjawab setiap kali aku bertanya." Tersenyum sinis.
Apa mom mencintai daddy?
Apa dad mencintai mommy?
Orang tuanya selalu menunjukkan wajah keraguan tanpa jawaban. Jika cinta itu memang ada di antara mereka, harusnya mereka menjawab dengan penuh kepastian.
"Setidaknya buat aku mengerti."
"Apa yang harus di mengerti?" tanya seseorang tiba-tiba. Jessie bangun dari tidurnya.
"Xav?"
Ada angin apa pria ini pulang begitu cepat.
Xavier meletakkan beberapa kantong plastik yang dibelinya di atas meja dan mengeluarkan semua isinya. Jessie sedikit terkejut.
Ada banyak cemilan kecil dan ... minuman pereda nyeri?
Tunggu! Masih ada satu lagi. Sebuah kantong kompres pereda nyeri?!
"Kau membeli ini?"
"Tentu saja. Memangnya siapa lagi," ketus Xavier tidak suka. Wanita ini pasti meragukannya.
"Tunggu sebentar." Xavier bangkit membawa kantong tersebut keluar kamar.
Jessie dengan keterkejutannya menggeleng agar segera sadar.
"Dia kerasukan?" Jessie mendengus. Ia membuka botol minuman di meja dan meminumnya.
Jessie tersenyum menatap botol di tangannya. Pria itu tidak buruk juga.
Beberapa saat kemudian Xavier telah kembali. Pria itu duduk di sebelah istrinya dan menyingkap baju Jessie begitu saja.
"Kau—"
"Berbaring dengan tenang." Mendorong tubuh Jessie hingga terlentang. Xavier lantas meletakkan kantong hangat itu di perutnya.
Jessie semakin menatap tidak percaya sekaligus takjub di waktu bersamaan. Ia tidak ingin munafik. Jujur ia menyukai sisi lembut Xavier.
Aku jadi merindukanmu, batinnya. Padahal Xavier ada di depannya sekarang.
"Thanks." Jessie tersenyum tulus.
Xavier membusungkan dadanya bangga. Jessie menahan geli melihatnya. Baiklah, ia tidak akan memperhitungkan kepercayaan diri Xavier untuk saat ini.
"Apa lagi yang sakit?" tanya Xavier.
"Hmm, tidak ada."
"Kau kedinginan?"
"Hmm ... No," jawab Jessie mengerjit.
Xavier berdecak. "Katakan iya!"
What?
"I—iya?"
"Sudah kuduga." Senyum Xavier terbit, "geser sedikit. Aku akan memelukmu. Aku akan membuatmu hangat."
Suasana hati Jessie langsung membaik dengan tingkah konyol Xavier. Meski ingin tertawa, ia menahannya agar tidak membuat pria ini marah. Jessie hanya menerima pelukan hangat suaminya dengan tenang.
Dasar mencari kesempatan!
"Katakan apa saja yang kau inginkan. Repotkan saja aku sebagai suami. Itu memang tugasku, kan? Aku akan melakukan apa saja untuk istriku." Membenamkan wajahnya di ceruk leher Jessie.
Hanya sampai aku menjadi istrimu ya?