
Bonus Chapter
"Pelakunya sudah tertangkap!" Argus masuk bersama Felix setelah mengurus banyak hal yang berkaitan dengan menantunya.
"Masih suruhan wanita itu," ungkapnya.
"Padahal dia sudah di penjara, tapi masih bisa melakukannya." Rachel tak habis pikir.
Argus menghela nafas kasar kemudian.
"Ada apa?"
"Wanita itu— dia sudah mati."
Xavier yang tadi masih menatap istrinya langsung menoleh.
"Dia mati?!" tukasanya marah. Argus mengangguk.
"Dia melakukan bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangannya," jelas sang ayah.
"Dia tidak boleh mati begitu saja setelah membuat istriku seperti ini!" geram Xavier.
"Aku mengerti perasaanmu, Son. Sebaiknya bersihkan dirimu dulu. Keluarga Lawrence sudah tiba di bandara."
Argus semakin melihat wajah tidak senang putranya setelah mengatakan itu.
"Mereka bukan keluarga!" sentak Xavier, kemudian beranjak menuju kamar mandi.
Rachel dan Argus hanya bisa menghela nafas pasrah. Pria paruh baya itu mendekat ke brankar Jessie dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Kondisinya memburuk?" tanya Argus.
Rachel mengangguk sendu. Xavier belum tahu soal ini. Ia terpaksa tidak mengatakan apapun karena takut dengan reaksinya.
"Keadaannya jauh lebih buruk dari Xavier dulu," jelas Rachel nyaris putus asa.
"Apa kita pindahkan saja ke tempat lain."
"Tidak bisa untuk saat ini. Dokter itu mengatakan mereka tidak bisa berbuat banyak." Air mata yang Rachel tahan akhirnya jatuh. Argus membawanya ke rengkuhannya.
"Mengapa Sophia dan keluarganya harus mengalami ini?" ujar Rachel lirih.
"Kita tidak bisa melawan takdir."
Di luar ruangan, seseorang yang hendak masuk mengurungkan niatnya setelah mendengar percakapan keduannya.
"Ada apa? Kita tidak jadi masuk?" tanya Rebecca pada ibunya yang berbalik.
"Kita tunda saja."
"Why?" Austin ikut bertanya.
Rexanne tidak menjawab. Ia menarik tangan keduanya menjauh dari ruangan. Belum terlalu jauh mereka melangkah, ketiganya tak sengaja berpapasan dengan Laura.
Laura tersenyum, "benar, Sir. Austin." Perhatiannya kemudian beralih pada Rexanne, "Lawrence telah memberikan sesuatu pada anda. Aku telah mengirimnya lewat email. Silahkan datang ke kantor untuk menindaklanjuti." Laura menunduk sedikit, lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang inap Jessie.
Rexanne dengan cepat mengeluarkan ponselnya, begitupun dengan Rebecca dan Austin yang penasaran.
Rebecca menutup mulutnya dengan sebelah tangan setelah membaca email yang ada di ponsel ibunya. Mereka bertiga saling menatap dengan terkejut.
"Apa yang Mom lakukan hingga dia berbaik hati seperti ini?" Rebecca masih tidak percaya.
"Berikan!" Austin merebut ponsel istrinya dan membaca ulang dengan teliti.
Rebecca bersorak senang. "Akhirnya perusahaan milik kita!"
"Benar!" Austin sama senangnya.
"Dia sudah memberikan apa yang kau mau. Sekarang bersikap baiklah pada keponakanmu." Rexanne berjalan lebih dulu meninggalkan ayah dan anak itu. Keduanya langsung ikut menyusul.
Apa yang terjadi malam itu sehingga Jessie menyerahkan perusahaan yang diurusnya di Manhattan pada mereka?
-
-
-
-
Malam sebelum Rexanne mengantar Jessie ke villa.
"Bibi terlihat sangat bersalah saat itu. Aku hampir mengira kau yang membunuhnya."
"Aku mengakui keluargaku jahat, namun sejahat apapun kami, takkan berbuat keji seperti itu," ungkap Rexanne.
"Lalu apa hubunganmu dengan Jessica."
"Dia yang mendekatiku." Rexanne menatap kedepan dengan menerawang, "aku satu-satunya orang yang bisa diajak bicara."
"Setelah orang tua kalian berpisah, dia tidak memiliki siapapun. Meski tuan besar memihaknya, kau tahu seperti apa pria itu, kan?"
"Setelah kami bertemu, dia terus saja menggangguku dan memperlakukanku seperti temannya. Padahal dia lebih cocok menjadi putriku," gerutu wanita paruh baya itu tanpa sadar.
Rexanne pikir ia kesal dan merasa Jessica seperti pengganggu, namun seiring berjalannya waktu, ia mulai nyaman. Dirinya tak lagi menolak wanita muda itu. Kerinduan juga ikut dirasakannya setelah Jessica memutuskan pergi yang ia sendiri tidak tahu kemana.
Kemudian mereka bertemu lagi— setelah satu tahun lamanya dan dalam keadaan menyedihkan. Kematian wanita itu, menjadi kenangan terakhir mereka.
Jessie tersenyum tipis. "Aku mengerti."
"Bibi ... aku merasa kau tidak terlalu buruk juga." Tersenyum.
"What?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...