De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Aku Ingin Semuanya


Rebecca kembali ke rumah dengan menghentakkan kaki kesal begitu masuk. Austin di ruang tengah bersama istrinya menatap penasaran.


"Kenapa?" Rexanne, sang ibu bertanya.


"Dia pasti gagal." Austin yang menjawab.


"Ada Jessie disana, Dad! Dia bahkan mengancamku!"


"Apa?! Beraninya dia!" Rexanne marah.


"Memangnya kau bisa apa!" hardik Austin pada istrinya.


Rebecca melempar tasnya dan duduk bersedekap dada. Rexanne ikut duduk di sampingnya.


"Sejak kapan mereka menikah dan bagaimana— bagaimana bisa?!" pekik Rebecca masih tidak percaya.


"Campur tangan Lawrence," ujar Austin, "tetap berhati-hati, wanita itu selalu mengawasi kita."


"Selain Jessie pasti ada orang lain, Dad. Dia takkan pernah berpihak pada kita!" Rebecca kesal karena Austin begitu berharap agar Jessie mau bersekutu dengan mereka.


"Tapi hanya dia yang bisa membuat Lawrence keluar. Aku penasaran seperti apa sebenarnya wanita itu. Kenapa ayah (tuan besar) tidak membiarkan dia muncul," kata Austin.


Akan lebih mudah menyingkirkannya jika Lawrence keluar dari tempat persembunyiannya. Jessie juga bukan orang yang bisa mereka singgung, ditambah lagi ada keluarga Johansson di belakangnya.


Lawrence pasti telah merencanakan banyak hal di belakang. Termasuk mengatur pernikahan Jessie dengan Johansson untuk memperkuat perlindungan.


Wanita itu menggunakan Jessie sebagai tamengnya. Begitu yang bisa ditangkap Austin sejauh ini.


Itu sebabnya Jessie bisa menyembunyikan Lawrence dengan sangat baik tanpa takut.


"Jose punya dua putri dan salah satunya sudah mati. Tapi kita tidak tahu siapa yang telah mati itu," ucap Rexanne, "entah Lawrence atau saudarinya yang masih bertahan."


"Bagaimana jika sebenarnya Lawrence yang mati? Itu sebabnya kakek merahasiakannya hingga saat ini. Dia tidak ingin yang lain tahu jika Lawrence bukan lagi pewaris!" Rebecca ikut bersuara.


Seharusnya sudah cukup waktunya untuk Lawrence muncul, tapi hingga sekarang wanita itu belum juga muncul.


Benar! Austin memikirkannya kembali.


Dengan begitu pewaris sesungguhnya akan aman karena mereka hanya berfokus pada Lawrence sebagai pengalihan. Meski begitu, hal ini belum bisa dipastikan.


"Akhh memusingkan!" Rebecca menjambak rambutnya, "kita bahkan tidak tahu siapa yang berhasil terbunuh!"


Mereka hanya tahu jika salah satunya sudah pasti merupakan putri Jose, tapi yang mana Lawrence mereka juga tidak tahu. Selama itu masih putri Jose dan Sophia, maka semua adalah peluang.


"Perhatikan ucapanmu, Becca. Ingat, dinding mempunyai telinga." Austin memperingatkan sembari beranjak dari tempatnya.


_


_


_


_


Jessie turun lebih dulu menuju kamar begitu mobil berhenti di depan halaman mansion Johansson. Xavier mengerjit heran melihat sikap Jessie yang tidak seperti biasanya. Wanita itu lebih banyak diam dan hanya bicara jika ditanya.


Xavier melewati Rachel yang sedang mengurus bunga-bunganya.


"Wajahmu kalut sekali," tegur Rachel pada putranya. Xavier yang hampir menaiki tangga mengurungkan niatnya, hampir mengabaikan keberadaan sang ibu.


"Kalian bertengkar?" tanya Rachel tanpa menatap Xavier.


"Tidak. Sikapnya tiba-tiba berubah," jawab Xavier mendekat.


Rachel mengentikan kegiatannya, menoleh pada Xavier dengan heran.


"Sebelumnya dia baik-baik saja, bahkan sempat bertanya dimana ruanganmu."


Pantas saja Jessie bisa tiba-tiba muncul di perusahaannya.


"Kecuali terjadi sesuatu saat disana," tebaknya menatap Xavier dengan curiga.


"Kau tidak tertangkap olehnya sedang selingkuh, kan?"


"Tentu saja tidak!" Xavier membantah. Enak saja!


"Lalu?"


"Aku juga tidak tahu."


"Ck! Dasar tidak peka," cibir Rachel sembari membalikan badan, kembali mengurus bunga miliknya.


Xavier menatap ibunya jengah. Ia pikir Rachel akan memberinya solusi, ternyata ... Ah sudahlah!


Lebih baik menyusul istrinya dan bertanya langsung daripada mengira-ngira.


Namun saat akan pergi lagi, Rachel kembali berbicara, "Jangan biarkan dia berharap, Xav. Jika akhirnya kau ingin melepasnya." Menatap serius putranya, "hanya saran!"


"Mom—"


Xavier tersenyum miring. "Seharusnya sejak awal Mom begini." Kemudian benar-benar pergi menuju kamar.


Rachel menghela nafas pelan melihat kepergian Xavier. Pria itu pasti kecewa dengan keputusan mereka kala itu, mungkin hingga saat ini.


Memaksanya menikah dengan wanita pilihan mereka, Rachel paham itu bukan hal mudah untuk di lakukan. Apalagi harus memaksa diri untuk mencintai seseorang yang baru di kenal.


Hanya Jessie yang tersisa dari bagian diri Sophia. Ia ingin membayar perbuatannya pada wanita yang ia sebut sahabat sekaligus pertolongan dari Lawrence terhadap Xavier.


Siapa sangka jika satu keluarga itu harus mengalami kejadian naas yang merenggut nyawa mereka dan meninggalkan seorang gadis yang selalu menahan air matanya.


"Jess ...." Gadis yang sedang menatap makan orang tuanya itu menoleh.


"Menikahlah dengan Xavier. Itu permintaan terakhirnya," ungkap Rachel. Jessie hanya mengangguk tanpa menjawab dan kembali menatap ke makam.


"Mom ...." Panggilan baru tersemat di bibir Jessie untuk Rachel yang menatap kaget sekaligus haru.


"Ya?"


"Aku boleh memanggilmu begitu?"


"Tentu saja!"


Jessie tersenyum.


"Aku harus mengambil semuanya, kan?" Menoleh lagi, "aku ingin hak waris menjadi milikku. Aku ingin semuanya, termasuk Xavier."


Rachel tak dapat menjawab. Mata gadis itu berubah. Senyum yang baru terbentuk di bibir manisnya menunjukkan ambisi baru yang membuat Rachel tertegun.


Tanpa sadar Rachel mengangguk. "Iya, semuanya milikmu."


Sejak saat itu, selama bertahun-tahun Rachel dan suaminya berdiri di samping Jessie. Menjadi sosok keluarga pengganti untuknya tanpa Jessie tahu alasan dibalik semua dukungan mereka.


Namun semua bukan semata-mata karena sesuatu. Rachel sungguh telah mencintai gadis itu layaknya putrinya sendiri.


****


"Kau benar-benar berniat mendiamkanku?" cerca Xavier begitu melihat istrinya sedang mengeringkan rambut di depan kaca.


"Tidak ada yang mendiamkanmu." Menatap Xavier dari kaca.


"Lalu sekarang?"


"Ada apa dengan sekarang?"


Xavier berusaha menahan diri agar tidak meledak. Ia tidak suka sikap Jessie yang berusaha mengabaikannya.


Pria itu mendekat, merebut alat pengering rambut dari tangannya, lalu merengkuh wajah cantik itu.


"Kau satu-satunya wanita yang ku punya, tidak ada yang lain! Aku bahkan sudah menyingkirkan Miranda. Kau puas, kan?"


Puas! Jessie tersenyum dalam hati, lalu menatapnya. "Kenapa kau melakukannya?"


Xavier mengerjit bingung.


"Itu yang kau inginkan, kan?"


"Aku khawatir kau akan menyesalinya." Mengambil kembali pengering rambutnya.


"Jangan buat aku bingung, Jess! Ya, aku tidak peka seperti kata mom. Jadi katakan masalahmu sebenarnya."


"Aku tidak ingin mengekangmu lagi, Xav. Jika kau masih menginginkan Miranda, maka perjuangkan dia. Aku tidak akan menggangu urusanmu."


Sialan, aku ingin menelan kata-kataku kembali! batin Jessie masih melanjutkan sandiwaranya.


Tiba-tiba Xavier mencengkeram pergelangan tangan Jessie yang membuat wanita itu terkejut.


"Kalian mencoba memancing emosiku?" Rahang Xavier mengeras. Tadi ibunya, sekarang?


"Xav!" ringisnya.


"Saat aku mencoba menerimamu kenapa kalian membuatku seperti ini!"


"Sakitt, Xav!"


"Apa karena Miranda?" Xavier mengabaikan ringisan Jessie, "aku akan membunuhnya!" Melepas cengkraman dengan kasar, kemudian berjalan cepat menuju pintu hendak pergi.


Jessie bergerak cepat untuk menahannya dan langsung memeluk pria itu dari belakang. Ia sangat tahu pria ini. Xavier tidak akan main-main dengan ucapannya.


"Jangan bergerak selangkah lagi, Xav," desis Jessie.


"Kau masih tidak percaya, kan?" datar Xavier.


"Aku percaya."


Sejak dulu aku selalu mempercayaimu.