De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Pernyataan


-


-


Seharusnya pertanyaan ini kembali memancing emosinya, tapi Xavier tetap diam memejamkan mata.


"Xav!"


"Yang berharga hanya orang tuaku," jawabnya kemudian.


Iya, aku juga tahu itu!


Kesal. Aku menarik rambutnya hingga dia meringis.


Pria itu membuka mata menatapku tajam. Tak lama Xavier pasti juga akan melakukan hal menyebalkan bagiku.


"Baguslah," katanya santai. Bibirnya tersenyum sambil memejamkan mata lagi, "Jessieku sudah kembali."


What?! Respon macam apa itu! Namun aku tersenyum mendengar kalimat akhirnya.


Xavier mengambil tanganku, mengalungkannya di leher sambil mengelusnya.


"Maaf menyakitinya tadi." Mengelus pergelangan tangan yang memerah akibat cengkeramnya beberapa saat lalu.


Aku tak dapat menahan senyum saat ia mengecupnya.


"Sudah. Akan sembuh tak lama lagi."


"Kau bukan obat," kataku.


"Itu sebabnya aku menjadi obatmu sekarang." Xavier mendongak lagi seraya tersenyum jahil.


"Aku tidak keberatan menjadikanmu yang berharga selain mom dan dad," kelakarnya lagi, "jadi kau tidak perlu takut aku akan melepaskanmu."


"Takut? Aku tidak takut!"


"Ya, kau memang pemberani."


Buk! Aku memukul dadanya dengan tinjuku.


"Menyebalkan!"


"Hei, aku mencoba sebisa mungkin untuk menepati janjiku." Dia membela diri.


"Janji apa?" Pria itu tidak pernah menjanjikan apapun.


"Tentu saja janjiku pada Tuhan! Kau lupa sumpah yang kita ucapkan di altar?"


Aku terdiam membeku. Apa maksudnya? Apa Xavier berniat menjalani pernikahan ini selamanya?


Dia bangun saat menyadari keterdiamanku. Duduk berhadapan denganku.


"Aku tahu sikapku buruk saat itu. Tapi setelah menikah, aku merasa Tuhan selalu menegurku. Mungkin itu kekuatan sumpahnya untuk mempertahankan dua orang yang mengucapnya dengan sungguh-sungguh."


"Memangnya kau bersungguh-sungguh?"


"Tentu saja! Aku juga tahu hal serius dan bukan."


"Aku ingin menjalaninya. Bukan karena warisan, tapi karena aku ingin menjalaninya denganmu," lirihnya mengelus pipiku.


"Kenapa? Kau sudah berubah pikiran?" kataku bertanya.


"Aku akan berlutut sekarang," jawabnya.


Aku tertawa. Bukan tawa lucu, tapi tawa bahagia. Ingat kami pernah bertaruh jika Xavier akan berlutut jika aku berhasil membuatnya jatuh cinta?


Xavier telah mengakuinya secara tidak langsung.


"Tidak perlu. Peluk saja aku." Merentangkan tanganku, Xavier masuk ke dalam pelukannya.


Ya Tuhan ... Aku berharap kali ini berhasil. Aku ingin membuktikan bahwa pernikahan yang ku jalani tidak akan berakhir buruk. Akan ku buktikan jika kutukan itu tidak ada!


"Bagaimana dengan kontraknya?" Kulepas pelukannya.


"Kontrak?"


Aku mengangguk. "Kau masih menyimpannya."


"Tapi itu tidak berlaku," katanya, "kau tidak menganggap serius, kan?" Dia mulai panik.


"Setengah," jawabku.


"Tidak boleh walau hanya setengah!" Pria itu bangkit dan berlari ke luar pintu.


Aku tersenyum melihatnya. Menekuk kaki, aku memeluk lututku sendiri.


Aku penasaran apa yang membuatnya begitu cepat tertarik padaku. Dulu saja Xavier butuh setengah tahun untuk benar-benar mencintai Lawrence. Pria itu kadang penuh keraguan.


"Aku tidak menemukannya!" Xavier muncul di pintu setelah beberapa saat.


"Lalu?"


"Aku ingat meletakkannya di laci meja kerja, tapi sekarang tidak ada. Bagaimana jika ada yang melihat?" Xavier memegang kepalanya, panik.


"Kenapa kau sepanik itu. Kau masih memerlukannya?"


Xavier mendekat lagi dan memelukku.


"Aku tidak ingin orang lain menganggap pernikahan kita seperti itu. Aku harus menghancurkannya segera."


"Tapi surat itu hilang—" Belum selesai aku berbicara, Xavier memotongnya.


"CCTV!"


Aku sontak langsung tersentak kaget. Setelah itu Xavier kembali menghilang dari hadapanku.


Sisi konyol Xavier!


"Seingatku mom sudah membakarnya," gumam Jessie menaikkan bahu acuh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...