De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Memulai dari Hal Sederhana


"Menelepon siapa?" Xavier masuk membawa satu nampan sarapan untuk mereka, namun Jessie sibuk berkutat dengan ponselnya.


"Alroy." Sontak jawaban itu membuat tatapan tajam Xavier langsung menyorotnya.


Jessie terkekeh, kemudian menjulurkan tangannya meminta Xavier mendekat.


"Dia yang menghubungi lebih dulu," jelas Jessie memeluk suaminya yang sudah duduk di pinggir ranjang, "dia menyesal belum sempat datang saat aku sadar karena ada sedikit masalah dengan perusahaannya. Padahal Naomi sangat ingin bertemu denganku." Jessie jadi sedikit murung. Ia juga rindu bocah itu.


Mendengarnya Xavier jadi teringat sesuatu, lantas langsung merengkuh wajah istrinya dan menatapnya dalam.


"Kau bilang ingin membuka lembaran baru, namun tidak tahu harus mulai darimana, kan?" Jessie mengangguk. Ia sempat mengatakannya setelah insiden menangis beberapa hari lalu di rumah sakit.


"Kalau begitu mulai dari hal sederhana yang seharusnya sudah kau lakukan."


Jessie sedikit kebingungan memahami itu, jadi Xavier berdiri dan berjalan menuju meja rias. Pria itu kembali dengan membawa dua amplop dan kotak perhiasan kecil.


"Jangan lupa memakai kalungmu lagi." Sambil memasangkan sebuah kalung di leher istrinya.


"Apa itu?" Rasanya tidak asing dengan dua amplop itu. Benar saja, ia langsung terdiam saat Xavier menyerahkannya padanya.


"Surat orang tuamu dan Jessica. Aku tidak ingin kau menyimpan beban lagi. Lepaskan saja semuanya dan hidup bersamaku dengan tenang," ucap Xavier lembut sembari menyampirkan anak rambut Jessie di samping telinga.


Jessie menghela nafas ringan dan tersenyum. Benar, ini hal sederhana. Seharusnya ia sudah membacanya sejak enam tahun yang lalu, namun belum ada keberanian untuk itu.


"Temani aku." Menarik tangan suaminya agar duduk di sebelahnya. Jessie menyadarkan kepalanya di pundak Xavier.


"Mereka mengirim ini dengan kantor pos sebelum ulang tahunku yang ke-20. Syukurlah, jika memberikan langsung mungkin surat ini tidak akan pernah sampai." Jessie terkekeh pelan. Xavier tahu wanita ini mencoba menyembunyikan kesedihannya. Satu kecupan ia berikan di puncak kepala Jessie.


Jessie ingat betul surat ini sampai sehari sebelum ulang tahunnya, namun baru akan dibaca setelah mereka berkumpul kembali. Ia sempat menganggap surat itu hal konyol karena baru kali ini keluarganya membuat surat daripada mengatakan secara langsung.


Siapa sangka hal yang dianggap konyol tersebut akan jadi hadiah terakhir dari mereka. Seperti sebuah pertanda, bukan?


"Bukalah." Mengelus lengan istrinya.


Surat pertama yang ia buka adalah milik orang tuanya.


My little princess ....


"Aku setuju dengan mereka," komentar Xavier datar. Lihat wajah menyebalkan itu.


Jessica yang memaksa kami menulis surat. Menurut kami ini sangat aneh, sungguh. Jangan tertawa saat membacanya!


Jessie yang ingin tertawa langsung mengurungkan niatnya begitu membaca kalimat terakhir.


Aku dan ayahmu menulisnya bersama sekarang. Kau tahu ayahmu payah, kan? Sekarang dia kesal karena aku menulis ini.


Jessie tak dapat menahan senyum. Sekarang ia semakin yakin jika orang tuanya sebenarnya saling mencintai, hanya saja tidak berani saling mengungkapkan.


"Kalau aku jadi ayahmu, aku akan mengurung ibumu agar tidak kemana-mana. Kebetulan mereka berada di satu tempat, kan? Paksa saja untuk rujuk kembali. Tidak perlu! Langsung saja daftarkan pernikahan ke kantor catatan sipil."


Jessie mendelik. Itu namanya pemaksaan! Tapi tidak perlu heran, orang ini Xavier.


"Apa sulitnya menyatakan cinta," decak pria itu. Jessie menahan diri agar tidak menyumpal mulut pria ini.


Ini ayahku, bukan kau! kalian jelas berbeda, batin Jessie kesal.


Sebenarnya kami tidak tahu harus menulis apa, but happy birthday, my little princess. Kami mencintaimu.


"See? Tidak ada yang perlu di takutkan, kan," ujar Xavier.


Jessie mengangguk membenarkan. Meski tidak ada apapun, masih ada kerinduan yang kembali menyusup dalam hatinya.


Namun saat hendak melipat lagi kertas itu, Jessie tak sengaja melihat tulisan lain di ujung kertas yang terlipat. Jika tidak jeli, tidak akan ada yang menyadari tulisan disana.


Bantu daddy menculik ibumu.


Spontan tangan Jessie mencengkram tangan suaminya dan menatap pria itu dengan kejutan di matanya. Air matanya mengalir lembut di pipi, tapi Xavier mencium sudut matanya tempat air itu mengalir.


"Mereka sudah bersama sekarang," ucap Xavier lembut.


Jessie tersenyum bahagia meski air mata itu masih keluar. Setidaknya orang tuanya saling mencintai hingga akhir meski kematian harus menjadi jalan terakhir mereka bersama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...