De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Be a Night Star


Dua orang wanita berbeda usia sedang berbaring di atas rumput hijau menghadap langit malam yang dipenuhi taburan bintang yang bersinar indah.


"Dia pasti disana." Jessie menunjuk salah satu bintang yang bersinar paling terang diantara yang lainnya.


Setelah memberi penjelasan panjang dan sabar mengenai ibunya, Naomi akhirnya mau mengerti. Meski ia harus menahan sakit setelah menjelaskan pada gadis yang masih akan tumbuh ini, itu lebih baik daripada harus terus terjebak dalam pemikirannya sendiri.


"Apa mama tidak akan pulang?"


Sejak mengatakan bahwa ibunya telah menjadi bintang terindah di langit malam, Naomi sama sekali tidak ingin mengalihkan pandangan darinya.


"Mama tidak bisa pulang. Jika dia pulang, langit akan kehilangan cahayanya. Naomi ingin langit menjadi gelap?"


Gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Apakah mereka juga para ibu seperti mama?" Naomi menunjuk ke bintang lain.


"Hm hm. Mereka semua muncul untuk melihat anak-anak," jawabnya, "aku percaya ... Mereka yang berharga akan selalu bersinar seperti bintang-bintang itu." Jessie juga melihat dengan senyuman haru.


"Mommy ku juga pasti ada di sana bersama mamanya Naomi."


"Dia juga di surga?" Mata biru mulai menatapnya. Jessie tersenyum sambil menyelipkan rambut Naomi ke belakang telinga.


"Betul. Mommy ku juga ada di surga. Mungkin dia sudah berteman dengan Mama Naomi."


Gadis itu langsung tersenyum memperlihatkan giginya yang rapi.


"Naomi juga ingin punya teman seperti Mama!" antusias nya.


"Of Course. We're friends!"


Naomi tersenyum senang lagi, tapi tak lama kemudian senyum itu menghilang berganti murung.


"Ada apa?"


"Naomi akan lebih senang jika kakak menjadi mama," katanya, "apa tidak bisa?" Meski begitu, keinginan itu masih ada.


"Sorry," jawab Jessie menyesal.


"Naomi mengerti. Naomi akan panggil kakak saja!"


Tak terasa setetes air mengalir lembut dari sudut matanya. Mengapa rasanya begitu menyakitkan. Ia tidak tahan melihat gadis sekecil ini harus menerima kenyataan yang cukup berat di usianya.


"Kau menangis?" tanya Naomi polos.


Menyadari hal itu, Jessie segera menghapusnya. Apa ini? Air mata pertamanya setelah enam tahun? Dan itu karena gadis kecil yang baru dikenalnya.


Jessie membawanya kepelukannya. Menyembunyikan Naomi dalam dekapannya yang hangat.


"Kau sangat cerdas dan cantik. Naomi harus tumbuh dengan baik. Aku akan berkunjung sesekali, ok?"


"Really? Naomi senang!" pekiknya bahagia.


"Aku juga senang!"


Keduanya mulai tertawa dan bercanda bersama. Malam itu telah menjadi dunia dua orang tersebut. Mereka menikmatinya sebagai hari terakhir dan menghargainya.


-


-


-


-


Di tengah- tengah keramaian yang memenuhi bandara, Naomi tak henti-hentinya memeluk Jessie dengan erat. Hari ini gadis itu ikut mengantarkan kepulangan wanita yang dianggapnya ibu.


Ada Xavier yang hanya memperhatikan sejak tadi. Begitupun dengan Alroy yang sama mengamatinya. Keduanya seolah tidak ingin ikut campur diantara kedua wanita tersebut.


"Kau sebaiknya mengingat dengan baik yang ku katakan," ucap Alroy pelan agar tidak terdengar oleh yang lain.


"Tidak perlu mengingatkanku," desis Xavier pelan, "justru kau yang harus mengingat ucapanku!"


"Aku tidak akan melakukan apapun sampai dia sendiri yang mengetahuinya," jawab Alroy tetap menatap kedepan.


"Kalian membicarakan apa?" tanya Ellard tiba-tiba. Tak tahan melihat keduanya seperti berbisik-bisik. Jessie ikut menoleh pada mereka.


"Bukan apa-apa," datar Xavier mulai meraih koper miliknya dan sang istri.


"Sampai jumpa, Sayang." Jessie meninggalkan banyak kecupan di wajah Naomi.


"Good bye, Mama," bisik Naomi. Jessie hanya tersenyum.


"Sampai jumpa, Kakak!" teriaknya saat mereka mulai menjauh.


Jessie melambaikan tangan begitupun dengan Naomi. Melihat gadis itu sudah menghilang diantara kerumunan, senyum di bibir Jessie ikut menghilang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...