
Setelah membuatnya kelelahan hingga pinggangnya sakit, Xavier kembali melayaninya dengan memandikan hingga mengeringkan rambutnya.
Masalah awal sepertinya sudah dilupakan oleh pria itu.
Jessie hanya duduk diam memperhatikan setiap gerak gerik suaminya. Rambut panjangnya yang tergerai disisir rapi oleh Xavier dengan gerakan lembut.
"Kapan terakhir kali kau memotong rambutmu?" tanyanya.
"Beberapa bulan lalu."
"Sungguh? Tapi sudah sepanjang ini?" Mengangkat rambutnya sehingga terlihat di cermin.
"Aku hanya memotongnya sedikit jika mulai mencapai pinggang."
"Kupikir kau mungkin menyukai rambut pendek," gumam Xavier.
"Mengapa begitu?"
"Mom yang mengatakannya."
Jessie tersenyum tipis di cermin.
"Seseorang bilang aku lebih cocok dengan rambut panjang. Jika pendek, aku tidak terlihat seperti seorang wanita," ungkap Jessie membuat Xavier berdecak.
"Untuk apa mendengarkan orang lain. Kau harus menjadi dirimu sendiri."
Masalahnya dia bukan orang lain. Dia seseorang yang berharga, batin Jessie.
"Kau bisa memotongnya sesuai keinginanmu. Aku yang akan mengatakan kau cantik setiap hari," ujar Xavier ikut duduk dibelakangnya setelah selesai menyisir rambutnya dan mengikatnya.
"Seharusnya kau mengatakan itu dulu." Bibir Jessie mengerucut.
"Aku?"
Ya! Kau yang bilang aku jelek dengan rambut pendek! Terlihat seperti anak yang tidak diurus oleh ibunya. Kau tidak ingat, tapi aku ingat!
"Maksudku jika kau mengatakannya sejak lama, aku tidak akan bersusah payah mengurus rambutku!"
"Kenapa kau jadi marah?" decak Xavier lagi.
"Aku tidak marah!"
Dasar pria plin plan!
"Kalau begitu ayo pergi." Pria itu berdiri.
Tidak peka!
"Kemana?"
"Tidak mau!" Jessie segera menyingkir dan berdiri, "ayo." Xavier tersenyum melihatnya.
Saat Jessie hendak membuka pintu, Xavier menahan tangannya. Jessie menatap bingung, belum lagi Xavier tiba-tiba mengecup keningnya dan merengkuh wajahnya.
"Aku selalu mencintaimu, seperti apapun dirimu. Aku akan menerima semua yang ada padamu. Jadi suatu hari jangan pernah berpikir jika aku tidak akan menerimamu karena suatu hal."
Senyum Jessie mengembang hingga lesung pipinya terbentuk. Ia memeluk suaminya erat dengan perasaan bahagia.
Entah berapa lama moment seperti ini bertahan, Jessie ingin menikmatinya sampai hari dimana kesempatan ini tidak ada lagi.
-
-
-
"Kau membawaku kemari?" tanya Jessie begitu melihat tujuan mereka.
"Memangnya kenapa?" Xavier melepas seatbelt istrinya, "anggap saja sekarang bulan madu kita. Selama setahun ini aku belum pernah membawamu bepergian." Mengecup bibir Jessie singkat.
"Berapa lama?"
"Selama yang kau inginkan."
Jessie memperhatikan tempat itu dengan kerinduan. Setelah perpisahan dengan Xavier, ia tidak pernah lagi menginjak tempat ini. Namun hari ini ia datang kembali bersama orang yang sama.
"Bagaimana dengan pekerjaan?"
Xavier mulai menatap jengah. "Seandainya kau tidak terikat dengan Lawrence sudah kupastikan kau—"
"Berhenti dari pekerjaan. Kau tidak suka aku bekerja. Ya ya, kau sudah sering mengatakannya," sambung Jessie memotong gerutuan Xavier.
"Tenang saja. Kita bisa menikmatinya beberapa hari kedepan," ucap Jessie lagi sambil mengalungkan tangannya di leher Xavier.
Pria itu menunduk memberi ciuman. Bibir keduanya saling tertaut selama beberapa saat.
"Ada hotel di dekat sini," bisik Xavier membuatnya mendapat pukulan kecil dari Jessie. Pria itu hanya terkekeh.
Tempat yang mereka datangi adalah sebuah taman kota yang cukup terkenal di Helsinki. Taman kota yang berada di pusat kota Helsinki serta berada diantara alun-alun Erotajja dan Market Square.
"Kau pernah tinggal disini. Seharusnya tahu tempat ini, kan," ujar Xavier.
Keduanya berjalan santai sambil bergandengan tangan.
"Aku sering kemari bersama seseorang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...