
"Xav ... Lepaskan." Jessie sudah mulai lelah menghadapi pria ini.
Sejak tadi Xavier terus saja memeluknya, membuat Jessie yang berlalu lalang di kamar kesulitan bergerak.
"Pergilah istirahat. Kau tidak lelah?"
Ayolah, tidak lihat kamar ini sangat berantakan! batin Jessie sabar.
Jika bukan dirinya yang membereskan, siapa lagi? Jangan berharap ada pelayan yang datang. Xavier melarang keras siapapun masuk ke kamar mereka termasuk Rachel dan Argus.
"Besok saja membereskannya."
Matamu! Semalam kau juga mengatakan besok, tapi membawaku ke perusahaan. Saat pulang justru bertemu Rachel yang membawa keluar rumah lagi.
"Aku akan jadi wanita pemalas sungguhan jika begini, Xav." Menghela nafas pasrah.
"Tidak masalah. Aku kan mencari istri bukan pembantu."
What the— kalo begitu biarkan pelayan masuk! Ingin Jessie berteriak, untungnya kesabaran masih menyertainya.
Xavier memeluk sambil menggoyang-goyangkan kiri dan kanan. Jessie hanya diam pasrah dengan tingkah Xavier. Tidak usah heran. Pria ini sudah berubah menjadi bayi besar sejak pernyataan malam itu.
Xavier tidak ragu menunjukkan perasaannya.
Tiba-tiba Jessie memekik tertahan sambil menutup mulutnya karena tidak sadar jika tangan Xavier sudah berada dalam piyama tidurnya.
Tubuhnya menggeliat saat Xavier bermain-main disana.
"Aku merindukanmu," bisik Xavier di telinganya.
Tangannya semakin gencar bermain di tempat lain. Hingga erangan lolos dari bibir Jessie. Xavier membalikkan tubuhnya, kemudian memangut bibir sensual istrinya.
Hujan deras pada malam itu akhirnya menjadi pendukung suasana erotis mereka. Malam panas kembali terulang dengan harapan kecil yang menyertai penantian Xavier selama setahun ini.
"Semoga dia cepat hadir disini." Mengusap lembut perut datar Jessie.
Xavier mengecup kepala istrinya yang sudah terlelap lebih dulu. Beberapa saat kemudian pria itu ikut tertidur.
Tidak ada lagi pergerakan dan nafas teratur dari Xavier yang menandakan pria itu telah tertidur nyenyak. Jessie yang berpura-pura tidur akhirnya membuka matanya.
Perlahan ia membalikkan tubuhnya menghadap Xavier, mengamati wajah tampan itu. Tersenyum, tangan Jessie terulur mengelus rahang kokohnya yang terdapat jambang tipis.
"Maaf, membuatmu menunggu."
Meski sudah setahun, belum ada tanda-tanda kehamilan pada dirinya. Padahal orang tua mereka sangat menantikan kehadiran cucu di rumah ini. Pernah sekali mereka pergi ke dokter untuk konsultasi, ternyata tidak ada yang perlu di khawatirkan karena keduanya tidak memiliki masalah.
Jadi ini hanya masalah kepercayaan saja. Tuhan belum memberi kepercayaan itu pada mereka.
Sejak saat itu Xavier tidak pernah mengungkit masalah anak lagi. Meski begitu Jessie tahu jika pria ini sama inginnya seperti orang tuanya. Terkadang Jessie sering mendapati Xavier diam-diam berbicara sendiri pada perutnya seolah ada bayi di dalam sana.
**
Pagi-pagi sekali Jessie sudah bangun membersihkan diri. Wanita itu mulai melakukan aktifitas rutinnya yaitu membereskan isi kamar yang berantakan sebelum pengganggu di atas ranjang itu bangun dan berakhir membuatnya gagal lagi!
Ukuran kamar bisa dibilang sangat besar untuk disebut kamar. Namun bukan hal mustahil jika ukuran seperti ini berada di dalam mansion. Namun juga harus ekstra dalam membersihkannya.
Setelah membereskan semua pakaian kotor dan meletakkannya di ruang cuci lantai bawah, Jessie kembali untuk membereskan dokumen yang tergeletak asal di atas meja setelah digunakan dan membawanya ke ruang kerja Xavier.
Ruangan itu tak kalah berantakannya. Buku-buku berceceran. Berkas-berkas pun tidak pada tempatnya.
"Selesaikan semuanya, Jess!" Memberi semangat pada diri sendiri.
Pagi ini ia harus bekerja. Tidak bisa menuruti Xavier untuk ikut bersama terus. Setelah semua selesai, fokus Jessie kemudian teralih pada se-vas bunga yang amat di kenalnya. Hanya vas kecil.
"Baby's Breath? Sejak kapan ada disana?" Tanaman itu terletak di ujung ruangan dan terhalang oleh rak buku di dekat jendela.
"Aku tidak lihat jika ada bunga disini. Maaf, kau tidak bisa bertahan lagi." Berlutut, Jessie menyentuh tumbuhan yang sudah sangat rapuh itu. Saat ia menekannya, bunga itu berubah menjadi bubuk halus.
"Jangan khawatir. Meski mati, makna mu masih tetap ada. Itu sebabnya kau disebut cinta abadi." Jessie terdiam beberapa saat. Sepertinya ia menyadari sesuatu.
Jessie kemudian berlari keluar ruangan menuju ruangannya sendiri. Mengambil kunci yang ia simpan dan membuka laci. Ia mengambil bukunya, tempat terakhir kali ia meletakkan bunga yang sama.
Tanaman itu seharusnya sudah mati seperti yang baru saja dibuang karena Jessie tidak pernah menyentuhnya lagi sejak saat itu.
Betapa terkejutnya Jessie saat melihat bunga itu masih utuh dan baik. Seolah bunga itu baru saja dipetik dan diletakkan disana.
"Tidak mungkin!" Jessie terduduk di kursinya, syok.
Tidak mungkin kan ada seseorang yang menggantinya? Sedangkan ada foto Xavier dan Lawrence sebagai objek disana. Jika itu benar, maka ada orang lain yang tahu selain dirinya?
Siapa?
Siapa orang itu?
Sejak kapan dia mengetahuinya?
Rasa takut dalam diri Jessie muncul. Seseorang yang entah siapa orangnya telah bersandiwara di rumah ini. Dirinya pasti sudah diawasi sejak lama.
Jessie memijat keningnya pusing. Apa hubungannya dengan Xavier tidak akan bertahan lama?
Tidak, tidak, tidak! Tidak boleh. Xavier miliknya. Jessie tidak bisa melepasnya. Kepalanya menggeleng kuat, lalu menelungkupkan kepalanya di atas meja.
Jessie tidak menyadari jika ada seseorang yang mengawasinya di dekat pintu. Matanya menatap tajam foto yang tertempel di lembar buku tempat bunga itu diletakkan.
"Itu hukumanmu. Nikmatilah," gumamnya kembali menatap Jessie.
Wanita itu adalah alasan Xavier harus kehilangan memorinya. Kehilangan cinta pertamanya dan kenangannya.
***
Jessie masuk ke kamar dengan tatapan kosong. Tangannya menopang pada dinding dan benda-benda disekitarnya untuk menahannya agar tidak jatuh.
Wanita itu berusaha mendekati suaminya yang masih terlelap nyaman. Begitu sampai, Jessie langsung merebahkan tubuhnya, memeluk pria itu dengan erat.
Xavier secara alami merespon saat merasakan seseorang memeluknya. Melihat Jessie yang bersembunyi di dadanya, Xavier tersenyum.
"Why?" tanya Xavier dengan suara serak dan dijawab gelengan oleh Jessie. Xavier mengelus kepalanya hingga ujung rambut.
"Kupikir kau akan kabur seperti biasa, tapi malah kembali memelukku. Jangan salahkan aku jika ingin bermain lagi."
"Tidak mau!" cicit Jessie, membuat Xavier terkekeh. Ia membawa kepala Jessie agar mendongak, kemudian mengecup bibir tipisnya.
"Enak!"
Xavier mencium lagi. "Manis!" Lalu melu*mat bibir itu dan memainkan lidahnya.
"Hmphh!" Jessie memukul dada Xavier kuat. Ia mulai kehabisan nafas.
Xavier melepas tautannya dan berganti menindih tubuh Jessie yang mencoba melepaskan diri. Xavier kembali melahap bibir mungil istrinya.
"Aku ingin lagi!"
Jessie mengangguk mengiyakan. Ia tidak bisa memikirkan hal lain selain memiliki pria ini.
"Aku mencintaimu," bisik Xavier, "selamanya akan tetap begitu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...