De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
My Dear Sophia


Rachel bersama suaminya kini berada di tempat pemakaman khusus yang dibangun Argus untuk keluarganya. Hampir seluruh keluarga Johansson yang telah pergi lebih dulu di makamkan di tempat ini.


Namun diantara semua itu, ada dua makam yang berasal dari keluarga yang berbeda.


Sophia dan mantan suaminya, Jose Lawrence.


Mengapa begitu? Karena keduanya bagai keluarga bahkan saudara bagi Rachel dan Argus.


Argus, Jose serta Sophia dulunya adalah teman dekat semasa sekolah hingga perguruan tinggi. Hanya Jose karena Argus dan Sophia adalah sepasang kekasih sebelum kehadiran Rachel.


Saat kita masih muda dan belum sedewasa sekarang, yang kita pikirkan terkadang hanya kesenangan dan keinginan diri. Sifat egois, kekanakan, ambisius, dan keras kepala sudah melekat secara alami. Namun hal itu juga di dukung oleh lingkungan tempat mereka tumbuh.


Begitulah yang dirasakan Rachel saat mengetahui orang yang sudah lama disukainya ternyata memiliki seorang kekasih. Apalagi saat mengetahui jika kekasihnya hanya berasal dari keluarga biasa.


Ia bergabung dan masuk sebagai sahabat untuk Sophia dan menjadi teman bersama Argus dan Jose demi ambisinya mendapatkan Argus.


*


"Kau berpura-pura?" Sophia memandangnya dengan raut kecewa.


Malam itu Sophia menyaksikan Rachel yang telah berhasil menjebak Argus. Bahkan dengan teganya Rachel menunjukkan keadaan mereka yang telah bercinta di hadapan Sophia yang langsung datang setelah dihubungi.


"Sejak awal aku menginginkannya. Aku datang untuk dia, Sophia."


Namun tidak ada kebohongan di setiap pengakuan Rachel. Dia mengatakan dengan jujur semua tujuannya.


"Mengapa tidak kau katakan padaku?"


Kecewa, pedih, semua menjadi satu. Ia pikir pertemanan mereka sungguh murni. Rachel begitu baik padanya, seolah Sophia telah menjadi segalanya.


"Aku bahkan sudah menyayangimu, Rachel. Kau tahu aku tidak memiliki siapapun lagi, kan?" Gadis itu bagai saudara untuknya.


Rachel merasakan ada genangan air di sekitar matanya. Mungkin ia berusaha menahan diri untuk membalas pengakuan Sophia.


"Jika ku katakan, apa kau akan berikan?"


Tentu saja tidak, kan? Memangnya siapa yang rela.


"Iya."


Terkejut. Rachel mengangkat kepalanya menatap Sophia yang telah mengalirkan air mata.


"Kau—" ucapan Rachel tertahan. Ia tak sanggup berkata lagi.


Sophia terlalu naif. Gadis itu lebih sering mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri.


"Kau bodoh?" Rachel tersenyum sinis, namun menahan agar air matanya keluar.


"Kau tahu itu, kan?" Sophia menjawab, "aku memang bodoh, Rachel. Lagipula aku dan dia memang tidak bisa bersama. Kau bahkan tahu kami tidak direstui."


"Jika kalian bersama akan lebih baik, kan?" Sophia mencoba tersenyum, "dia bisa membuatmu tersenyum. Kau tidak akan bercerita tentang hal menyedihkan yang terjadi di rumahmu lagi jika bersamanya. Kau akan bahagia."


Jika tujuannya mendekati Sophia adalah demi Argus, itu memang benar. Namun persahabatan yang terbentuk adalah murni karena mereka saling menerima. Meski begitu ambisinya telah mengalahkan rasa sayangnya terhadap Sophia.


"Aku— aku— aku juga menyayangimu, Soph." Tenggorokannya tercekat. Rasanya begitu berat mengeluarkan suara lagi.


Begitulah kenyataannya. Ia kaya namun tertekan dalam keluarganya sendiri. Setiap hari ia bercerita pada Sophia tentang keluarganya yang sangat berbeda.


"Tapi aku— aku sudah melakukannya." Rachel akhirnya menangis sambil menggosok-gosok tubuhnya hingga memerah, "aku telah mengkhianatimu, Soph—"


"Sudah hentikan." Sophia mendekat dan memeluknya.


"Maaf— maafkan aku." Rachel sesugukan, "kau boleh membenciku. Aku— aku juga tidak akan mengambilnya, Soph. Aku salah—"


"Aku tidak marah padamu, percayalah. Aku tidak akan membencimu," bisiknya menenangkan.


*


*


Rachel terus meneteskan air matanya di depan tempat peristirahatan terakhir Sophia. Meski Sophia berulang kali mengatakan hal yang sama, rasa bersalah itu takkan pernah hilang dalam diri Rachel.


Argus hanya berdiri di belakang istrinya yang terisak sejak tadi. Bukan tidak ingin menenangkan, tapi wanita akan lebih baik jika dibiarkan menangis.


Masa lalu juga menyakitkan untuknya, terlebih lagi jika harus dipaksa melepas orang yang kita cintai. Saat menikahi Rachel, percayalah belum ada cinta dalam dirinya. Ia bahkan sempat membenci wanita di hadapannya ini dan menganggapnya sebagai benalu yang datang dalam hidupnya dan Sophia.


Rachel juga menerima hal itu. Ia tidak pernah memaksa Argus untuk menerimanya karena ia sadar atas kesalahan yang telah diperbuatnya.


Seiring berjalannya waktu semua berubah. Kabar Jose menikahi Sophia pun terdengar. Menyakitkan, bukan? Sophia bahkan sempat menasehatinya berkali-kali agar mau menerima kenyataan.


Bahwa Rachel yang sekarang bersamanya adalah orang yang harus ia lihat dan berikan cinta.


"Aku memelihara banyak bunga kesukaanmu di rumah, Soph. Kau sudah melihatnya di atas sana, kan?" ucapnya setelah merasa lebih baik. Rachel mencoba untuk tersenyum, mengelus permukaan tanah berlapis rumput hijau itu diatasnya.


"Semua baik-baik saja. Putrinya juga baik-baik saja. Aku mencoba melakukan semua yang terbaik untuknya."


Termasuk mewujudkan keinginan Jessie untuk memiliki Xavier dan perusahaan.


"Dia tumbuh sangat cantik, Soph. Wajahnya mirip denganmu saat masih muda dulu. Untungnya tidak ada yang mengenali wajah mudamu dulu." Rachel terkekeh, "jadi tidak akan ada yang tahu dia putrimu."


Sudah menjadi hal biasa Rachel datang dan bercerita. Bukankah dulu mereka seperti ini? Saling berbagi cerita.


Melihat Jessie, Rachel seperti melihat dirinya yang dulu. Sama-sama menginginkan seseorang yang memiliki kekasih. Namun berkat darah Sophia yang mengalir dalam darah dagingnya, sifatnya masih tertolong.


Namun wanita itu sama liciknya. Melakukan apapun demi tujuan. Membuat perjodohan sebagai jalan pintas dengan pencabutan hak waris sebagai ancaman untuk Xavier. Namun itu jauh lebih baik daripada cara yang pernah ia buat.


"Aku menyayangimu. Kau adalah keluarga bagiku, My dear Sophia."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...