
"Keadaan perusahaan baik. Ada apa? Tidak seperti biasanya kau bertanya." Laura cukup terkejut mendapat telepon dari Jessie.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertanya."
"Seharusnya kau bertanya pada Valeria, bukan aku."
"Memangnya tidak boleh jika aku menghubungimu?"
"Kau sensitif sekali. Tentu saja tidak apa-apa. Aku hanya merasa aneh! Kau ingin mengatakan sesuatu?"
Wajar jika Laura berpikir begitu. Biasanya Jessie akan berbicara langsung dengan Valerie jika itu menyangkut perusahaan.
"Tidak ada." Jawaban singkat itu membuat Laura tidak yakin.
"Aku siap mendengarkan kapan saja, Jess. Kau tahu itu."
Jessie tersenyum di ujung sana.
Semoga kepercayaanku tidak sia-sia, Laura.
Setelah sambungan dengan Jessie terputus, Laura bergegas membersihkan mejanya. Sudah waktunya untuk makan siang. Ia akan keluar menemui Valerie.
"Hanya segini? Bukankah dosisnya bertambah?!"
"Terserah! Sebaiknya kirimkan sisanya secepatnya!"
Laura sudah menghentikan langkahnya sejak suara memaki Valerie terdengar sangat jelas dari luar. Kebetulan pintu ruangannya sedikit terbuka sehingga Laura bisa melihat apa yang terjadi.
Sangat jelas jika Valerie memindahkan butiran obat dari wadah satu ke wadah lainnya yang memiliki jenis obat berbeda. Tapi Laura mengenali salah satunya.
Suplemen kesehatan yang biasa diminum Jessie. Obat itu rekomendasi langsung dari dokter mereka. Tapi mengapa Valerie memindahkannya dan menukarnya?
Pertanyaan di kepalanya langsung terjawab begitu melihat apa yang dilakukan Valerie selanjutnya. Laura membeku disertai semburat kemarahan di wajahnya.
Kau benar, Jess. Kita bisa berteman dengan siapa saja, tapi jangan percaya pada siapapun.
Laura mengatur emosinya sebelum memasuki ruangan Valerie.
"Val," panggil Laura, "sedang apa?" Memasang wajah bingung.
Terlihat Valerie sedikit gugup karena terkejut.
"Laura!"
"Kenapa? Kau terkejut melihatku?" katanya sambil melihat sebotol obat di tangan Valerie.
Valerie menyadari tatapan Laura lantas menjelaskan, "untuk Jessie. Sudah seminggu ini dia tidak mengkonsumsi obatnya."
"Tidak perlu, Laura. Lagipula dia masih di Finlandia. Biar kusimpan saja." Tanpa menunggu jawaban Laura, Valerie segera menyimpannya di laci meja.
"Ayo, aku sudah lapar," ajak Valerie berlalu lebih dulu melewati Laura.
Laura yang akan menyusul terhenti sejenak saat melihat sebutir obat di lantai. Sepertinya terjatuh saat Valerie terburu-buru memindahkannya. Dengan cepat Laura mengambilnya, lalu menyusul Valerie.
Ada yang tidak beres dengan Valerie. Sebaiknya kau berhati-hati, tulisnya pada Jessie.
-
-
-
-
Di Finlandia tepatnya Jessie berada, wanita itu menerima pesannya. Tidak ada keterkejutan atau bingung di wajahnya. Jessie hanya mengamati dengan datar tanpa berniat membalas.
"Aku sudah merasakannya, Laura," gumamnya, "sekarang kau juga sudah melihatnya."
Sebagai Lawrence sudah sewajarnya jika ia mencurigai semua orang, termasuk orang-orang terdekatnya. Ada ungkapan yang mengatakan 'semakin dekat dirinya, semakin dalam pula pisau miliknya menusukmu.' Sudah cukup jelas, bukan?
"Mrs. Johansson."
Jessie bangkit dari duduknya begitu namanya dipanggil. Hari ini dia mendatangi salah satu rumah sakit di Helsinki. Dokter yang menanganinya adalah dokter yang sama saat di Amerika. Mereka pernah saling berhubungan sebelumnya.
"Baik, Mrs. Dari hasil tes yang keluar saya ingin bertanya apakah anda pernah mengkonsumsi obat-obatan tertentu?"
"Aku hanya mengkonsumsi vitamin dari dokter. Aku tidak pernah meminum obat apapun lagi."
"Boleh saya melihatnya?"
"Aku tidak membawanya."
Dokter itu mengangguk, "tidak ada yang salah dengan rahim anda, Mrs. Tapi kami menemukan jika tingkat kesuburan anda menurun. Meski hamil, berpotensi meningkatkan resiko keguguran bahkan berpeluang bayi terlahir cacat."
"Apa karena obat-obatan yang kalian maksud?"
"Benar, Mrs. Mungkin anda mengkonsumsi suatu obat dalam jangka panjang sehingga efeknya sudah sejauh ini. Jika anda memiliki obatnya, kami akan bantu memeriksanya."
Sudah kuduga ....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...