De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Menangislah ....


"Jadi kau yang mengganti bungaku." Mata Jessie tak lepas membaca baris demi baris tulisan yang dibuat Xavier dalam buku kenangan miliknya.


Xavier mengangguk mengiyakan.


"Aku sudah mengingatnya sejak melihat bukumu. Meski awalnya aku menepis karena merasa tidak pernah begitu dekat dengan wanita." Xavier mengeratkan pegangan tangannya pada Jessie, "tapi aku mulai percaya saat aku jatuh cinta begitu cepat denganmu."


Buk! Pukulan kecil diberikan oleh Jessie.


"Kau membuatku takut! Aku benar-benar takut!"


Xavier terkekeh, kemudian mengecup tangan istrinya berkali-kali.


"Aku bersyukur kau punya tekat dan keberanian yang besar sekarang sehingga bisa membuatku bersamamu padahal kau dulu sangat penakut."


"Itu karena dirimu!"


"Ya, aku senang sekali. Istriku luar biasa." Pria itu memeluk Jessie dengan manja.


Brakk!!


Xavier menahan amarah yang hampir meledak kala mendengar pintu ruangan yang dibuka kasar. Untungnya Jessie segera menenangkannya.


"Lawrence," lirih wanita yang baru datang itu.


Jessie tersenyum sambil merentangkan tangannya. Wanita itu segera berlari dan memeluknya.


"Bagaimana keadaanmu, Laura?" Mengelus-elus lembut punggung Laura yang bergetar.


Laura tidak sendiri. Ada Felix bersamanya. Jessie memberi kode agar meninggalkan mereka berdua meski Xavier enggan beranjak. Dengan terpaksa pria itu pergi diikuti Felix yang menutup pintu.


"Aku sangat terkejut mendengar tentang kau yang—"


"Lupakan, aku baik-baik saja sekarang."


Laura terlihat murung. Kadang ia seperti ingin bicara sesuatu namun tertahan. Ada banyak keraguan yang ditangkap Jessie pada wanita itu.


"Laura ... Katakan apa itu."


"What?"


"Jangan sembunyikan apapun," peringat Jessie.


Laura mengatur nafasnya yang sesak. Ia tidak yakin apa harus mengatakannya sekarang terlebih Jessie baru saja pulih.


"Jess—"


Jessie menaikkan sebelah alisnya.


"Valerie telah pergi. Aku baru saja mengunjungi makamnya."


Raut wajah Jessie berubah menjadi raut tak terbaca.


"Kau bercanda?"


"Aku tidak bercanda," ujar Laura nyaris berbisik.


**


Jessie terdiam dengan pandangan kosong menatap lipatan kertas yang terlihat lusuh. Sebelum pergi Laura memberikan kertas lusuh itu padanya.


"Petugas disana menemukan ini saat evakuasi enam bulan lalu," ucap Laura sebelum pergi.


Tidak tahu apa yang ada didalamnya namun Jessie tetap ragu.


Tidak ada siapapun di ruang inapnya saat ini. Xavier pergi beberapa jam yang lalu bersama Argus dengan terburu-buru karena pekerjaan dan Rachel baru saja keluar untuk mencari makan siang.


"Apa yang kau tulis, Val," gumam Jessie.


Setelah menghela nafas pelan akhirnya Jessie mencoba membuka lipatan demi lipatan dan mulai membacanya.


***


Xavier membuka pintu perlahan saat melihat istrinya tertidur dengan telapak tangan yang menutup bagian matanya.


Saat mendekat, Xavier menyadari jika istrinya tidak tidur, hanya menutup matanya dengan tangan.


"Baby?" Wanita itu tidak menjawab.


"Jess, kau baik-baik saja?" Rachel bertanya karena merasa aneh dengan menantunya.


Jessie masih diam. Hal itu membuat Xavier khawatir apalagi saat melihat sesuatu mengalir dari sudut mata Jessie yang terlihat dari celah jarinya. Xavier langsung menyingkirkan tangan Jessie yang menutupi matanya.


Ketiganya terkejut melihat mata Jessie yang tertutup itu sudah basah dengan bekas air mata di sekitarnya matanya.


"Baby?!"


Jessie masih tidak menjawab, namun bibir wanita itu mulai bergetar di iringi isakan kecil yang mulai terdengar.


"Hei— Kenapa menangis?" Rachel mulai was-was.


"Nak, mana yang sakit? Katakan dimana yang sakit," tanya Argus beruntun.


"Baby, katakan ada apa?" Xavier mencoba menenangkan.


Tidak ada jawaban apapun dari Jessie, namun isakan itu semakin menjadi. Wanita itu sesenggukan dan menangis dengan keras, bahkan tangannya harus memukul dadanya yang terasa sesak.


Jessie tak lagi memperdulikan keluarganya yang khawatir. Yang ia pikirkan hanya menangis sekeras mungkin untuk meluapkan segala emosinya.


Ia sudah mencoba berhenti, namun air mata itu terus saja mengalir keluar. Pertahanannya telah runtuh. Sesuatu yang sangat ia tahan akhirnya ia lepaskan juga. Segala kesedihan bercampur menjadi satu, membuatnya merasakan frustasi yang amat besar.


Xavier masih mencoba menenangkannya. Ia tidak tahu harus merasa senang atau sedih karena setelah sekian lama wanita itu akhirnya kembali membiarkan air matanya tumpah.


Saat mata Xavier tidak sengaja menemukan gumpalan kertas dan membukanya, pertanyaan mereka terjawab sudah. Xavier meminta keduanya pergi dan meninggalkan mereka berdua.


"Menangis saja, tidak apa-apa. Menangislah setiap kali kau merasa sedih. Itu bukan dosa yang harus kau tahan," bisik Xavier sambil memeluk istrinya.


Jessie semakin tersedu-sedu dengan mengeratkan pelukannya.


.


.


.


.


.


.


Maaf ...


Mungkin hanya ini yang bisa kulakukan untuk membayar semua perbuatanku.


Laura benar. Cinta tidak seharusnya menyakiti dan aku sudah membuatmu terluka berkali-kali.


Jess ... Terkadang aku merasa kau menyadari perasaanku, namun kau sengaja menampiknya.


Aku mencintaimu, Jess.


Akhirnya aku mengakuinya sekarang dan aku sadar— mungkin Tuhan mempertemukanku denganmu hanya sebatas untuk saling mengenal bukan memiliki. Aku terlalu naif hingga berpikir bisa memilikimu.


Maafkan aku. Aku akan memohon pada Tuhan agar membiarkanmu hidup dan bahagia dengan suamimu. Aku akan membayarnya dengan nyawaku sebagai gantinya.


Berbahagialah kali ini, kau sudah berada di tempat yang lebih baik.


Kumohon, jangan lagi menahan air matamu. Menangislah, itu bisa membuatmu jauh lebih baik.


Terima kasih telah membuatku memiliki seseorang yang berharga.


Valerie


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...