
"Kau sekarang lebih terang-terangan menunjukkan perasaanmu," ucap Xavier langsung begitu Jessie menutup pintu.
Jessie tidak membantah. Memang benar seperti itu. Dirinya pun tidak mengerti mengapa itu terjadi.
"Aku hanya penasaran, Jes. Aku hanya ingin memastikan." Xavier bangun, berpindah tempat di samping Jessie saat melihat istrinya itu tidak berniat bicara.
"Aku pernah mengalami kecelakaan seperti pria dalam ceritamu. Aku jadi khawatir jika ternyata aku melupakan sesuatu juga," jelas Xavier, membuat Jessie terpaku sesaat.
Aku takut, batin Jessie.
"Cerita itu tidak hubungan denganmu, Xav. Kau tidak perlu memikirkannya."
"Aku tahu."
"Lalu?"
"Tapi gadis itu Lawrence."
Ya, pemilik cerita itu adalah Lawrence. Gadis kekanakan yang kehilangan prianya. Jessie sendiri yang mengatakannya pagi tadi.
"Tapi aku sudah tidak peduli lagi. Setelah melihatnya sendiri aku yakin dia tidak ada hubungan apapun denganku," ucap Xavier.
Yang dimaksud adalah Laura. Wanita itu sangat asing, tidak ada perasaan apapun dalam dirinya. Meski melupakan, seharusnya masih ada sisa rasa atau firasat.
"Lawrence sudah menikah. Dia kembali untuk membayar semuanya."
"Maksudmu suaminya sekarang?"
"Ya."
"Pria itu mengingatnya?"
"Tidak." Jessie menggeleng.
"Lalu bagaimana mereka bisa menikah?" Xavier malah penasaran. Sepertinya memang sangat tertarik dengan cerita itu.
"Lawrence melakukan caranya sebaik mungkin." Dia bekerja keras, "sudah kubilang gadis itu berubah. Dia hanya perlu membuat suaminya jatuh cinta lagi, kan?"
"Mengapa dia tidak mencoba jujur saja. Dia mungkin menderita dengan perasaannya."
Xavier tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Lawrence yang terbelenggu oleh cinta untuk suaminya. Cinta sepihak itu pasti menyakitkan, belum lagi mereka punya kenangan yang sayangnya hanya bisa diingat salah satunya.
Xavier menatap Jessie yang menatap lurus. Bagaimana jika itu terjadi kepada mereka? Bagaimana jika suatu saat dia tidak mampu mengingat wanita ini.
Ada apa ini? Mengapa perasaannya semakin aneh saja! Tidak mungkin dirinya mulai menyukainya, kan?
Xavier tiba-tiba terkekeh. Apa yang ia pikirkan? Memangnya seperti apa hubungannya dengan Jessie.
"Ada yang lucu?"
"Nothing." Xavier menggeleng. Pria itu menarik lengan Jessie, membawa wanita itu kepelukannya. Memeluk sedikit erat seraya menghirup aroma lembut di rambut istrinya. Nyaman, itu yang dirasakannya.
"Aku lega."
"Apa?" Jessie bingung.
"Bukan apa-apa."
"Dasar aneh!" Hendak melepas pelukannya, tapi Xavier masih menahannya.
"Diamlah! Aku ingin memelukmu," ketusnya.
Cukup lama keduanya berpelukan. Berdiam diri satu sama lain dengan perasaan tak menentu.
"Jess ...."
"Hmm?"
"Berhentilah bekerja."
Jessie melepas pelukan Xavier. "Maksudmu?"
"Apa tidak jelas?" Xavier agak kesal, "tidak perlu bekerja lagi. Habiskan saja waktumu untuk bersantai. Biar aku yang bekerja. Kau bisa habiskan semua uangku!"
"Mengapa?" Jessie menahan senyum.
"Kau terlalu dekat dengan Lawrence. Dia punya banyak rival dengan keluarganya sendiri. Mereka tidak beres! Bagaimana jika mereka mencelakaimu juga?" Bagaimanapun Jessie tahu banyak mengenai Lawrence.
Itu sebabnya identitas Lawrence tidak di ekspos, kan?
"Ternyata benar." Jessie terkekeh.
"Apa?" Kali ini Xavier yang bingung.
"Kau sudah menyukaiku, kan?" Tersenyum mengejek.
"Bermimpi saja!" Meraup wajah istrinya dan mendorong pelan.
"Kau!"
Baru saja suasana sedikit hangat, sekarang sudah kembali seperti semula.
"Aku tidak mau mendapat amukan mom dan dad jika terjadi sesuatu padamu. Aku berusaha menjagamu selama menjadi istriku."
Jessie tersenyum kecut. Harga dirinya memang tinggi! Pria ini hanya berusaha bertanggungjawab sebagai suami. Begitu, kan!
"Xav ...."
"Apa lagi?"
"Thank you."
"Untuk apa?"
"Berkat kau dan keluargamu, aku merasa kembali memiliki keluarga," jawab Jessie turun.
Xavier terdiam, tanpa sadar mengeratkan sedikit pelukannya.
Di hari pernikahan pun tidak ada satupun orang yang disebut keluarga kecuali Valerie.
"Kami memang keluargamu sekarang. Jangan berpikir macam-macam!"
_
_
_
_
Jessie merasa terusik tidurnya ketika merasakan geli di sekitar tengkuk dan perutnya. Sesekali Jessie bergumam dan mencoba menyingkirkan hal yang membuatnya terusik itu dengan tangannya.
"Pergilah tidur! Kau tidak lelah?" Jessie bergumam kesal.
Meski setengah sadar, Jessie tahu betul siapa yang mengganggunya. Pasalnya ini bukan lagi pertama kalinya.
"Aku ingin," bisik pengganggu itu.
"Enyahlah!"
Tahu jam berapa ini? Hampir pukul dua malam!
"Jess, menolak suami itu—"
"Aku tahu!" Menyibak selimut kasar, lalu menatap Xavier dengan kesal.
Katakan saja terus! Pada kenyataannya Jessie memang tidak bisa membantah.
Jessie kembali menarik selimut untuk menutupi tubuh Xavier yang selalu terbuka bagian atasnya, kemudian ikut masuk di dalamnya. Jessie merapatkan tubuhnya, menyembunyikan wajahnya di dada Xavier.
"Aku tidak minta dipeluk," datar Xavier, tapi tangannya ikut merengkuh tubuh istrinya.
"Aku sedang datang bulan," ungkap Jessie akhirnya.
"Really?!" Jessie mengangguk. Tubuh Xavier langsung lemas.
"Para kecebong itu ternyata gagal."
Gagal sudah usahanya. Xavier kecewa.
Jessie mengerjit. Telinganya mendeteksi hal sensitif.
"Maksudmu?" Jessie mendongak dan langsung dikecup keningnya oleh Xavier. Wanita itu sedikit tersipu namun tak disadari oleh Xavier.
"Bukan apa-apa." Xavier menarik kepala Jessie agar kembali seperti awal, namun Jessie kembali mendongak.
"Kau tidak berharap aku hamil, kan?" Memincing.
Jangan membuatnya berharap!
"Memangnya kenapa?"
"Kau sungguhan ingin aku hamil?!" pekik Jessie tertahan.
"Apa tidak boleh?"
Tentu saja tidak boleh! Dasar bodoh!
Sepertinya Xavier benar-benar menjalani perannya dengan sangat baik. Sekarang mereka terlihat seperti keluarga sungguhan. Padahal keduanya tahu jika mereka akan berpisah pada akhirnya.
Yang membuat Jessie tidak habis pikir, bagaimana bisa Xavier memikirkan seorang anak! Jangan bilang pria itu membutuhkannya sebagai salah satu syarat untuk warisannya. Hell!
Jessie takkan sudi jika anaknya akan dijadikan sebagai alat! Tidak sampai Xavier menyadarinya!
Tapi jika seandainya ia sungguh hamil, maka Jessie juga tidak akan menolak. Bagaimanapun Jessie tidak pernah meminum obat kontrasepsi dan calon janin itu juga tidak bersalah.
"Sudahlah, aku mengantuk!" Hendak membelakangi Xavier.
"Mau kemana? Peluk aku!"
"Iya iya!" Kembali pada posisinya.
"Lain kali jangan gunakan pakaian seperti ini saat datang bulan. Membuat repot saja!" dumelnya kesal. Padahal Xavier sudah menahan sejak di kantor saat tidak sengaja melihat foto Jessie di ponselnya.
Ya, foto. Xavier suka memotret istrinya diam-diam ketika tidur. Untunglah Jessie tidak menyentuh ponselnya sembarangan. Jika tidak, Xavier akan malu setengah mati.
"Memangnya siapa yang mengisi lemariku!"
Tidak ada pakaian tidur yang normal disana. Hanya dress malam berkain tipis dan pendek! Mungkin yang mengisi ingin ia bercinta hingga mati!
"Memang tidak waras!" maki Xavier.
Cih! Padahal kau juga sangat menikmatinya.
"Aku akan mengurusnya besok."
Ya, lakukan saja. Aku tidak peduli. Aku ingin tidur!
Beberapa saat Xavier tidak mendengar suara atau pergerakan lagi dari Jessie. Pria itu menunduk sedikit untuk melihat wanita dalam pelukannya yang rupanya sudah kembali terlelap.
Xavier tak mampu menahan senyum. Sudut bibirnya terangkat. Tidak tahu apa yang dirasakannya pada Jessie, Xavier merasa memiliki kenyamanan tersendiri pada wanita ini.
"Tidurlah yang nyenyak. Anggap saja aku membiarkanmu beristirahat," bisiknya. Setelah masa periodenya selesai, jangan harap bisa lepas.
-
-
-
-
-