
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Pria yang sedang duduk arogan di kursinya.
"Pelaku sebenarnya belum bisa dipastikan, Tuan. Saat tuan besar Lawrence memerintah pencarian, pelaku yang menabrak tuan Jose dan nyonya Sophia sudah ditemukan meninggal karena bunuh diri."
"Ck! Menyusahkan sekali," decaknya, "lalu bagaimana dengan Jessica?"
"Riwayat kecelakaannya juga sama, hanya saja pelaku nya berbeda. Tapi kemungkinan besar dia juga orang yang sama yang merencanakan pembunuhan tuan Jose dan nyonya Sophia."
"Menarik! Jadi dia turun tangan langsung untuk menyingkirkan Jessica." Pria itu terkekeh dingin.
Asisten yang berada di depannya sampai bergidik. Inilah sisi sebenarnya dari pria yang ia panggil tuan itu. Bukan! Sosok ini sudah ada sejak lama. Hanya saja tidak pernah ditunjukkan dengan jelas.
"Mengenai nona Jessie, dia telah berhasil mengambil alih perusahaan," tambah asistennya lagi.
"Aku tahu. Aku selalu mengawasinya." Pria itu menyeringai, "pastikan tidak ada yang mendekatinya. Aku sendiri yang ingin memberinya hukuman." Bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap keluar yang menampakkan pemandangan kota Manhattan dari atas.
Pria itu menaikkan sebelah sudut bibirnya dengan sinis. Ia ingin menertawakan orang-orang yang tidak mampu mengenali wanita itu sebagai Lawrence.
Wajahnya, bibirnya, hidung dan matanya, bukankah semua sempurna?
"Sangat disayangkan jika wanita itu harus terluka. Tuhan menciptakannya untuk dinikmati, bukan di lukai."
Asisten dibelakangnya menunduk. Untunglah obsesi pria itu masih dapat di kontrol sehingga tidak kelewat batas.
"Lawrence ... Aku ingin memilikinya. Aku akan merebutnya dari siapa saja termasuk pria tua itu jika dia ikut campur." Sorot mata itu menajam, seolah tatapan itu dapat menusuk bak anak panah.
"Tuan, anda tidak boleh bermain kasar pada wanita." Dirinya menasehati sang tuan.
Pria itu lantas menoleh dengan senyum menawannya.
"Tubuh itu bisa patah jika aku bermain kasar. Lihat pinggang rampingnya, aku tak tahan untuk memeluknya."
"Jangan membayangkannya!" peringatnya kemudian pada asistennya.
Asisten itu menghela nafas. Pria itu terlalu terus terang.
"Saya akan undur diri lebih dulu, Tuan. Masih banyak hal yang harus saya urus mengenai kecelakaan itu."
"Pergilah." Pria itu mengibaskan tangannya.
_
_
_
_
"Belakangan ini aku selalu merasa di awasi, Val," ujar Jessie tiba-tiba sambil menatap menerawang ke depan dengan bolpoin yang bermain di jari-jarinya.
"Kau yakin? Atau hanya perasaanmu saja." Valerie sendiri sibuk membolak-balik halaman pada dokumennya.
Keduanya duduk berlesehan di bawah sofa ruangan Valeria bersama sekotak pizza di atas meja.
"Entahlah." Jessie mengangkat bahu.
Valerie meletakkan dokumen tebal itu cukup keras setelah selesai menandatangi beberapa bagian penting.
"Akhirnya selesai!" Valeria merenggangkan tubuh.
"Wajar jika kau merasa begitu," selorohnya kemudian, "sebenarnya selama tidak ada yang tahu tentang dirimu semua aman," santai Valerie mulai merapikan mejanya dan menyuap sepotong pizza.
"Seseorang membuka bukuku," ungkap Jessie membuat Valerie yang hampir menelan tersedak.
"Uhuk— uhuk! Apa— apa katamu!"
"Minumlah dulu." Jessie menunjuk segelas air dengan dagunya.
Wanita itu menurut dan meneguk habis airnya.
"Buku kenangan maksudmu?" Valerie memastikan. Jessie mengangguk membenarkan.
"Oh God, Jessie! Lalu bagaimana?" Valerie mendekatkan diri penasaran.
Setahunya buku itu semacam diary yang ditulis Jessie tentang kisah percintaannya dulu. Sebenarnya itu hanya buku lama karena Jessie sudah berhenti menulis sejak kisahnya kandas.
Siapapun yang melihat, pasti langsung mengetahui hal tersebut. Meski Valerie sendiri belum pernah membacanya karena itu merupakan privasi.
Jessie mengangkat bahu. "Siapapun dia, dia sedang bersandiwara sekarang."
"Maksudmu dia orang di sekitarmu?"
"Hanya pemilik rumah yang aku izinkan masuk. Pelayan tidak ku izinkan sama sekali kecuali aku berada disana," jelas Jessie.
Valerie segera mengatur nafasnya saat mendengar itu.
"Jadi yang kau maksud itu Rachel, Argus, Ellard dan ... Suamimu sendiri!" pekiknya.
"Hmm."
"Tunggu Jess, coba tanya padaku siapa yang ku curigai."
"Siapa?" Jessie menuruti jengah.
"Xavier!"
Jessie tersenyum tipis mendengar pernyataannya. "Why him?" responnya acuh sambil menggeleng pelan.
Valerie tahu jika Jessie hanya menganggapnya lelucon saat ini.
"Jess."
"Hmm?"
"Aku ingin mengatakan ini sejak dulu." Valerie menatap Jessie, "hati juga memiliki ingatan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...