De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Dia Bebas


"Aku sungguh minta maaf, Jess. Aku akan mengawasinya lebih baik lagi."


Alroy membawa Naomi sehati-hati mungkin agar tidak membangunkan gadis kecil yangbsempat tertidur di pelukan Jessie tadi.


Tuan besar masih bersama mereka dengan duduk di sofa sambil memejamkan mata bersedekap. Setelah ayah dan anak itu menghilang, barulah tuan besar menegakkan tubuhnya kembali.


"Anak itu tidak bisa dekat dengan siapapun kecuali ayahnya, tapi dia mendekatimu bahkan memanggil mama," ujar tuan besar.


"Aku tahu maksud Grandpa, tapi jangan berharap." Jessie menyilangkan kaki dan ikut bersedekap.


"Kau terlalu berburuk sangka."


"Aku tahu dirimu, Grandpa. Jadi kuingatkan sekali lagi jika aku sudah menikah!"


"Really? Grandpa ingat terakhir kali kau bilang tidak akan pernah menikah—"


"Kecuali dengannya," sambung Jessie, "atau aku akan menjadi perawan tua selamanya."


Tuan besar terdiam dan berdehem, kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Jessie mengamati dengar datar.


"Aku tidak suka benda itu," komentarnya.


Sebatang rokok seperti itu sangat mengganggunya.


Tuan besar yang hendak menyesap benda di tangannya itu langsung mengurungkan niatnya.


"Grandpa semakin menyukaimu," kelakar tuan besar dengan tertawa. "Edgar! Jauhkan semua benda ini dariku," perintahnya kemudian. Edgar mengiyakan dengan senyum tipis. bahagia dengan kehadiran Jessie yang membawa perubahan pada kebiasaan tuan besarnya.


"Kau bilang akan membawakan cicit untukku, lalu dimana sekarang?"


"Grandpa pikir citit bisa dibeli dengan mudah


lalu membawanya padamu?" cibir Jessie.


"Kalian sudah menikah selama setahun. Aku jadi curiga—"


"Mencurigai apa! Sejak awal pernikahanku memang tidak biasa, Grandpa tahu itu."


"Terserah kau saja. Intinya aku ingin perkembangan," putus tuan besar.


"Jangan khawatir perusahaan akan baik-baik. "


"Kalau itu tidak diragukan."


Tuan besar tahu jika Jessie agak pendiam seperti yang sering diceritakan Rachel, tapi kali ini wanita itu sedikit aneh dari biasanya, seperti menyimpan sesuatu yang sulit dikatakan.


"Seperti apa kehidupan Jessica setelah aku dan mom pergi?" tanyanya menatap wajah sang kakak di figura besar tersebut. Wajah tersenyum di rengkuhan ayah dan ibunya menimbulkan kerinduan yang amat sangat dalam dirinya


"Dia bebas sesuai keinginannya," jawab tuan besar seadanya.


"Lebih detail!" pinta Jessie.


Melihat tuan besar tidak begitu semangat membicarakannya, Edgar berinisiatif angkat suara "Miss. Jessica terbang ke Miami seminggu kemudian dan menetap disana selama beberapa bulan."


Hal itu membuat Jessie segera menatapnya.


"Kami pikir anda tahu."


"Tidak. Aku tidak tahu apapun," ungkap Jessie jujur. Wajahnya pun penuh tanda tanya.


Apa yang dialami Jessica?


"Dia ingin waktu menyendiri selama beberapa waktu dan aku memberikannya." Kali ini tuan besar yang berbicara, "dan dia kembali setelah hampir satu tahun disana."


Satu tahun?


"Jangan bilang dia kembali pada hari yang bertepatan dengan penyerahan kekuasaannya."


"Memang benar." Tuan besar mengiyakan, "dia datang untuk menerima tanggung jawabnya seperti kesepakatan."


"Kesepakatan?"


"Ya, silahkan pergi selama yang dia inginkan asalkan dia kembali pada hari penyerahan kekuasaan itu."


Jessie terdiam cukup lama. Jadi selama setahun mereka lost kontak Jessica sedang berada di Miami. Tapi tidak sekalipun Jessica mencoba menghubunginya meski hanya sekedar mengirim pesan.


la selalu ingin menghubungi sang kakak, namun takut mengganggu wanita itu. Mengingat terakhir kali Jessica masih begitu merasa bersalah padanya mengenai perjodohan dengan Xavier.


Andal ia tidak ragu, keduanya mungkin masih sempat bertemu. Jessie menyesali semua yang terjadi.


"Menangislah jika ingin."


Jessie tersenyum tipis. "Menangis tidak akan menyelesaikan masalah."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...