De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Kejanggalan


"Syukurlah." Edgar lega, "tuan besar juga berpesan agar tuan muda Ellard bisa membantu anda mengurus perusahaan."


Jessie hanya tersenyum menanggapinya. Ia tahu jika Ellard tidak akan menyukainya. Anak itu memiliki keinginannya sendiri.


"Saya harus kembali secepatnya. Berhati-hatilah saat pulang kerumah. Perhatikan sekitarmu."


Terakhir kali saat memperingati Sophia dengan hal sama, wanita itu kembali sebagai kabar duka. Ia tidak berharap Jessie akan bernasib sama.


"Anda masih Lawrence bagi kami. Entah anda atau saudari anda, kalian sama," bantah Edgar cepat, "soal identitasmu, sebaiknya tetap rahasiakan untuk keamanan mu."


"Ada hal lain yang ingin disampaikan?" tanya Jessie, "mengenai Ellard mungkin?" Mengalihkan pembicaraan.


"Ah benar. Maaf dengan kedatangannya yang tiba-tiba, Miss. Dia terlalu senang karena tuan besar mengijinkan pergi."


"Dia hampir mati kedinginan di luar."


"Anak itu memang nakal," kelakar Edgar, "semoga anda tidak keberatan mengurusnya juga."


"Tidak masalah. Aku menyukainya."


"Syukurlah." Edgar lega, "tuan besar juga berpesan agar tuan muda Ellard bisa membantu anda mengurus perusahaan."


Jessie hanya tersenyum menanggapinya. Ia tahu jika Ellard tidak akan menyukainya. Anak itu memiliki keinginannya sendiri.


"Saya harus kembali secepatnya. Berhati-hatilah saat pulang kerumah. Perhatikan sekitarmu."


Terakhir kali saat memperingati Sophia dengan hal sama, wanita itu kembali sebagai kabar duka. Ia tidak berharap Jessie akan bernasib sama.


"Ternyata benar." Jessie tersenyum kecut.


"Iya?"


"Orang tuaku bukan sekedar kecelakaan, kan? Begitupun dengan saudariku?"


"Maksud anda, Miss?"


"Kalian menutupinya dariku. Kecelakaan itu hanya alibi untuk menyembunyikan kebenaran dariku." Yang tertahan dalam hatinya akhirnya ia ungkapkan pada pria ini.


Ada banyak kejanggalan dalam cerita mereka.


Edgar menghela nafas pelan. Memang tidak ada gunanya merahasiakannya, tapi ia sudah berjanji pada tuan besar agar tetap diam.


"Aku tahu kau hanya menjalankan perintah kakek. Aku hanya ingin mengatakannya saja, Paman. Terima kasih karena peduli padaku."


"Maafkan saya, Miss."


"Aku mengerti."


Edgar membungkuk, undur pamit pada Jessie. Wanita itu mengangguk dengan tersenyum.


"Terima kasih, Miss."


Jessie tidak ikut pergi meski Edgar sudah pergi. Ia memilih diam dalam ruang privat itu, sebuah restoran tempat mereka bertemu.


Kecelakaan pesawat? Jika memang benar, jasad mereka kemungkinan besar tidak ditemukan. Saat menerima kabar itu, orang tuanya yang terbujur kaku sudah tampak cantik dan rapi dalam peti mati.


Sang kakek hanya mengatakan jika mereka terlibat dalam kecelakaan pesawat yang kebetulan juga terjadi di hari yang sama.


Kehadirannya di mansion utama tentu mengundang banyak mata dan keingintahuan anggota keluarga yang lain, namun tuan besar melindunginya dengan mengenalkannya sebagai pendamping Lawrence.


"Sorry, Miss. Ini Bill anda." Kedatangan pelayan menyadarkannya.


***


Jessie merapatkan mantelnya setelah melewati pintu restoran dan berjalan menuju mobilnya. Tempatnya terparkir cukup jauh karena saat datang tempat itu sudah sangat ramai.


Saat berjalan menuju mobilnya, langkahnya melambat saat merasakan ada seseorang yang mengawasinya dari belakang. Menghela nafas, Jessie kembali menormalkan langkahnya.


Seseorang sudah keluar dari sarangnya. Mungkin kehadiran Edgar menimbulkan kecurigaan.


Merasa seseorang mulai mendekat, Jessie melajukan langkahnya menuju mobil hingga seseorang tiba-tiba menarik tangannya.


Jessie memekik namun pemilik tangan itu langsung membekap mulutnya.


"Hmph! Hmph!"


"Hei hei! Ada apa?"


Jessie terdiam begitu mengenali pemilik suara. Ia membuka matanya perlahan.


"Xavier!"


"Yes, Baby. Kenapa berteriak?" Menghapus keringat di pelipis istirnya.


Sejak tadi ia mengikuti Jessie sejak keluar dari restoran, namun Jessie tiba-tiba mempercepat langkahnya dan membuat Xavier khawatir.


"Itu kau?"


"Yes, it's me."


Jessie langsung memeluknya.


"Ada apa? Ada yang mengganggumu?" Jessie menggeleng.


"Tenanglah, aku akan melindungimu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...