
"Aku penasaran seperti apa sebenarnya Lawrence itu."
"Benar. Kudengar masih ada kandidat lain, tapi tuan besar begitu mendambakan cucunya yang seorang perempuan."
"Mungkin dia masih bocah ingusan."
"Tuan besar telah berhasil di peralatnya. Bukankah dia yatim piatu?"
Tiga orang pria paruh baya yang bergosip itu tertawa setelah mengatakan banyak hal.
Jessie baru saja hendak melewati ketiganya langsung memperlambat langkahnya. Dengan senyuman ia mendekati para laki-laki yang mungkin sudah seumuran ayahnya.
"Selamat malam, Tuan-tuan. Ada yang bisa kubantu?"
Kehadirannya lantas membuat mereka terkejut dan salah tingkah.
"Manajer Jess, mengapa anda disini?" tanya salah satunya.
Jessie memasang raut wajah seolah sedang berpikir. " Hmm ... Aku meminta izin pada tuan besar untuk pergi lebih dulu karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Jessie tersenyum lagi, "kebetulan aku mendengar keluhan kalian, jadi mungkin bisa membantu?"
"Ah! Bukan begitu, Jess. Kami hanya mengobrol." Akan jadi masalah jika hal ini diketahui tuan besar, kan?
"Begitu ya ..." Jessie mengangguk, "kupikir hanya wanita yang suka bergosip," gumamnya polos dan di dengar oleh mereka yang kembali salah tingkah.
"Baiklah, lanjutkan pembicaraan kalian. Lain kali aku akan bergabung, Ok?" ucap Jessie ramah seraya meninggalkan ketiganya.
Ketiganya tanpa sadar mengangguk dan menelan salivanya masing-masing. Mengapa rasanya wanita ini sedikit aneh, seolah ia adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
"Bergosiplah sebelum aku menutup mulut kalian," gumamnya sendiri setelah menjauh dari mereka, "memangnya kenapa jika aku yatim piatu," gerutunya lagi.
Jessie berjalan menuju salah satu kediaman yang cukup jauh dari pesta berlangsung. Tempatnya terpisah, seperti sebuah rumah besar yang berdiri sendiri di antara bangunan lain.
"Apa kakek mengasingkan diri?" Jessie hanya berdecak karena sudah berjalan cukup jauh, "dia tidak perlu berolahraga lagi untuk menjadi sehat!"
Setelah menutup pintu masuk, Jessie berjalan menuju ruang tengah untuk menunggu sang kekek. Tak lama ponselnya berdering membuatnya menghentikan langkah dan segera diangkat oleh Jessie.
"Sedang apa?" Pertanyaan pertama begitu telpon terangkat.
"Sedang apa?" Xavier tetap kukuh.
"Menghadiri pesta kecil tuan besar," jawab Jessie akhirnya.
Tidak ada suara lagi setelah itu. Jessie sampai menjauhkan ponselnya dari telinga untuk melihat apakah telepon masih terhubung.
"Xavier?"
"Cepatlah pulang," kata Xavier setelah itu. Kali ini sambungan benar-benar terputus.
Jessie mengerjit heran sesaat. Ada lagi dengan pria itu? Nada suaranya memang tidak terdengar sedang marah, tapi hanya terkesan datar saja. Tidak seperti biasa Xavier bicara padanya.
"Sudahlah, aku pulang saja."
Tidak ingin memikirkan apapun dulu, namun baru satu kali ia melangkah lagi-lagi sesuatu menghentikannya. Jessie hanya bisa menghela nafas saat sesuatu menabrak kakinya cukup kuat. Untung ia bisa berdiri dengan kokoh.
Membalikkan badan, ia mendapati anak kecil yang sudah jatuh terduduk di belakangnya tadi. Ini dia pelakunya, pengacau kecil!
"MAMA!"
Eh?
-
-
-
-
"Maaf, Tuan. Kami kehilangan nona kecil." Seorang wanita dengan setelan jas melapor pada atasannya, "penjaga telah mencari di semua tempat, kecuali kediaman pribadi tuan besar." Tempat itu adalah satu-satunya kawasan yang tidak boleh dimasuki sembarang orang.
Pria yang dimaksud memijat pelipisnya pusing. "Lanjutkan saja pencarian, aku tidak akan menyalahkan kalian." Putrinya itu memang cukup aktif. Belum ada seseorang yang bisa mengaturnya kecuali dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...