De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Lawrence Family; Lawrence's Identity


"Mansion siapa ini?"


Xavier baru tahu ada mansion sebesar ini di dekat perbatasan Manhattan. Jessie di sebelahnya belum menjawab, hanya menatap bangunan besar itu.


"Mansion utama keluarga Lawrence," gumamnya.


Tempat itu pasti kosong meski masih diisi oleh para pelayan yang bekerja. Disinilah para keluarga Lawrence bekumpul jika berapa di Amerika. Memiliki dua mansion utama yang salah satunya berada di Finlandia, tempat sang kakek berada.


Jika pria tua itu datang, barulah tempat ini akan penuh dengan banyak orang.


Jessie menurunkan kaca mobilnya. Penjaga yang berjaga pintu gerbang segera membukanya begitu melihat wajahnya.


Xavier langsung menjalankan mobilnya masuk begitu pintu terbuka. Tempatnya tidak berbeda jauh dengan mansion Johansson. Jarak gerbang dan mansion tidak bisa ditempuh berjalan kaki karena berjarak cukup jauh.


Begitu keluar dari mobil, beberapa pelayan menyambutnya di pintu. Sebelumnya Jessie mengambil sebuket bunga yang sempat mereka beli saat menuju kemari.


"Selamat datang, Miss Millen."


"Thanks."


Xavier hanya mengikuti istrinya yang berjalan lebih dulu. Wanita itu tidak banyak bicara, hanya melihat-lihat ke sekitarnya.


"Mencari sesuatu?" Merengkuh pinggang Jessie.


"Hmm."


Xavier mengamati dengan datar semua yang dilewati oleh mereka. Ada banyak foto berukuran besar yang terpajang disana. Mereka pasti merupakan anggota keluarga Lawrence.


Rebecca dan Austin juga terpajang disana bersama seorang wanita yang pastinya adalah istri dari Austin. Dan foto bocah bernama Ellard yang baru muncul itu juga ada disana bersama pria tua.


...Paul De Lawrence...


...Ellardo Lawrence...


Pria tua itu sudah pasti tuan besar yang dibicarakan. Bahkan foto Ellard hanya bersama tuan besar itu. Ternyata benar cerita hidup Ellard yang diceritakan istrinya tidak begitu baik.


Mungkin hanya Lawrence dan keluarganya yang tidak ada disana.


"Mereka selalu menutup diri," ucap Jessie seolah mengetahui isi pikiran Xavier.


"Kau lihat wanita disana," tunjuk Jessie, "dia Mrs. Maurice Pedra, istri kedua dari tuan besar. Dia juga ibu kandung dari Austin."


Xavier mengerjit. Ia baru tahu fakta ini. Tidak menyangka jika Paul De Lawrence ternyata mempunya istri kedua.


"Itu sebabnya anak dari Jose Lawrence yang terpilih sebagai kandidat. Karena Jose merupakan putra sah dari istri pertama yang telah bercerai dengan tuan besar, Mrs. Drizella Tremaine."


Sayangnya tidak ada foto wanita itu disini. Mrs. Maurice telah menyingkirkan semua yang berhubungan dengan Drizella.


"Sir, Austin hanya anak bawaan, bukan anak kandung dari tuan besar. Bisa menyandang marga Lawrence seharusnya sudah membuatnya bersyukur, tapi keluarga itu ingin lebih."


Jessie tidak ragu menceritakan semuanya pada Xavier mengenai silsilah keluarganya. Kini Xavier tahu sedikit kebenaran dari keluarga ini. Pantas saja keberadaan Lawrence dan saudarinya begitu ditutupi dari dunia luar.


"Keluarga Lawrence tidak sebaik yang orang luar kira. Penuh konflik dan para penjilat. Aku tidak bisa menyebutnya keluarga."


"Tapi kau terlibat di dalamnya." Jessie langsung menatap Xavier.


Berdiri di samping Lawrence sudah termasuk melibatkan diri, bukan?


"Semua berjalan begitu saja," tutur Jessie mulai menarik suaminya ke tempat lain.


Jessie membawa Xavier ke halaman belakang mansion yang menyerupai taman bunga. Tempat itu memiliki pemandangan yang sangat indah untuk bersantai. Ada gazebo dan beberapa bangku taman lainnya.


Namun ada satu yang akan mengalihkan perhatian yang datang. Tepat di ujung halaman terdapat sebuah tempat yang menyerupai gazebo namun dengan pagar indah mengelilinginya. Di pagarnya terdapat bunga yang merambat dengan berbagai warna.


                       Jessica De Lawrence


Nama yang tertulis di sebuah batu nisan yang berada di tempat tersebut.


"Bunga ini untuknya?" tebak Xavier. Nama baru lagi.


"Yes." Jessie membuka pagar dan masuk diikuti Xavier.


Jessie berlutut dan meletakkan bunga itu diatas batu nisan.


Sesuai janjiku, aku datang ... Kakak.


Xavier terlihat heran dengan tingkah laku Jessie. Wanita itu seperti telah kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupnya. Namun seperti biasa Jessie hanya menampilkan senyuman. Tapi mengapa senyum kali ini terlihat begitu menyiksa di mata Xavier.


"Jangan menahannya." Xavier tahu wanita ini menahan diri agar tidak menangis.


Tidak, sudah beberapa kali Xavier melihatnya menahan tangis. Dari awal hingga saat ini, tidak pernah sekalipun Xavier melihat air mata itu keluar dari mata istrinya.


"Kau tidak bertanya siapa dia?" Jessie heran.


"Ada marga Lawrence pada namanya. Itu sudah cukup menjelaskan."


"Ck!" Jessie berdecak.


Xavier tersenyum melihatnya, kemudian mengelus kepalanya lembut.


"Dia pemilik sebenarnya sebelum Lawrence menjadi yang terpilih. Dia juga saudari kandung dari Lawrence," ungkap Xavier membuat Jessie sedikit terkejut.


"Benar, kan?"


"Da— darimana kau—"


"Aku mencari tahu semuanya," potongnya.


"Kenapa?"


"Tentu saja demi keamanan mu."


"Apa kau juga tahu siapa Law—"


"Tidak! Aku berubah pikiran tentang Mrs. Laura. Ada orang lain yang lebih memungkinkan," kata Xavier lagi.


"Si— siapa?"


Xavier tersenyum. "Aku juga tidak yakin." Mencubit pipi mulus itu gemas, "itu tidak penting, kan. Yang terpenting istriku aman."


Jessie memalingkan wajahnya malu. "Hentikan!" Xavier langsung mengantup bibirnya rapat.


Kau lihat, kak. Aku mendapatkannya kembali. Aku datang untuk meminta maaf karena menempati posisimu. Aku ingin mengenalkan Xavier secara langsung padamu. Aku tahu ini terlambat, tapi aku telah membuktikan bahwa kutukan itu tidak ada, batinnya.


Jessie mengelus nisan itu dengan sayang.


"Dia meninggal seminggu setelah muncul di publik sebagai pewaris. Hari itu dia telah mengambil alih kepemimpinan."


Orang-orang mengenalnya sebagai Jessica De Lawrence, putri tertua dari Jose Lawrence. Semua orang berpikir jika wanita itu adalah Lawrence yang sering disebut-sebut oleh tuan besar.


Jessica mulai tinggal di mansion utama yang berada di Finlandia bersama kakek serta ayahnya. Berbeda dengan Jessie yang mengikuti ibunya di Amerika.


Ingat mansion tempat tinggalnya sebelum menikah? Iya itu dia. Dulunya mereka tinggal bersama sebelum orang tuanya bercerai pada usianya yang ke delapan belas tahun.


Setelah berpisah, Jessica pergi mengikuti Jose karena tanggungjawabnya sebagai ahli waris.


"Menurutmu ini kecelakaan?" tanya Jessie pada Xavier.


"Dia muncul, menyingkirkannya jadi lebih mudah. Meski itu kecelakaan, semua telah direncanakan."


A"Kau benar." Tersenyum miris. Xavier bahkan bisa menebaknya.


Tapi setelah Jessica meninggal, rupanya sang kakek kembali mengumumkan jika Lawrence akan menjadi pewaris selanjutnya. Tentu semua orang terkejut karena salah mengenali orang.


Namun kali ini tidak ada satupun yang dapat melihat keberadaan Lawrence. Seolah ia hanya nama tanpa raga.


Jessie menceritakan semuanya, kecuali identitas Lawrence. Pria itu menyimak dengan baik setiap cerita dan fakta yang belum ia ketahui sepenuhnya.


"Mereka mungkin mengincarmu juga. Kau yang paling dekat dengan Lawrence."


"Aku tahu."


"Jangan takut. Sudah kubilang aku akan melindungimu."


Jessie menerima pelukan itu dengan nyaman.


Maaf, aku tidak ingin membahayakanmu lagi. Identitasku sebagai Lawrence, sebaiknya kau tidak tahu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...