De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Rebecca Lawrence


Sudah hampir setengah jam Jessie berdiam diri di kamar. Hanya berkeliling dan melihat-lihat sekitar kamar. Tidak ada yang menarik. Kamar ini menggambarkan kepribadian Xavier sendiri.


Jessie jadi penasaran dengan kegiatan Xavier di luar. Pria itu tidak pernah masuk lagi sejak terakhir kali memindahkannya.


Baru membuka sedikit pintu dengan cela kecil, Jessie mengurungkan niatnya saat melihat pemandangan menarik.


Wah ... Nampaknya Jessie harus ekstra dalam menjaga suaminya. Gula yang didatangi semut bisa saja kembali di datangi meski sudah disingkirkan. Tapi kali ini bukan semut, melainkan lebah madu yang sedang mencari korban untuk disengat.


"Xav," panggil Jessie dengan suara lesuh seolah baru bangun dari tidurnya.


Kedua orang yang sejak tadi diawasi oleh Jessie langsung berdiri dari duduknya. Xavier berjalan mendekat, namun berbeda dengan satu orang lainnya yang terkejut.


"Bagaimana perasaanmu?" Xavier merengkuh pundaknya.


"Sudah lebih baik," jawabnya, kemudian menolah pada seorang wanita yang terkejut itu.


"Nona Rebecca?" Jessie pura-pura terkejut.


Wanita itu, Rebecca Lawrence, anak dari Austin Lawrence yang berarti adalah sepupunya. Sifatnya tidak berbeda jauh dengan ayahnya itu. Buktinya sekarang ia sedang mencoba menggoda suaminya.


"Ku—kira daddy membual," gumam Rebecca, namun masih terdengar.


"Kau mengenalnya?" bisik Xavier. Wajahnya cukup dingin.


"Sepupu Lawrence," jawab Jessie berbisik juga.


Terdengar Xavier berdecak. Selain Lawrence dan pamannya, muncul lagi satu pengganggu.


"Aku tidak menyukainya!" desisnya pelan agar tidak terdengar.


Jessie menahan senyum. "Aku juga," batinnya.


"Kau kemari karena Sir. Austin? Atau karena hal lain?" Jessie berjalan mendekati Rebecca.


"Kalian sungguh menikah?" Mengabaikan pertanyaan Jessie. Wanita itu masih tidak percaya.


"Seperti yang kau lihat."


"Tidak mungkin!"


Ya, paman juga berkata begitu kemarin. Anak dan ayah sama saja!


"Bukan begitu, Sir," ralatnya cepat, "aku hanya tidak menyangka jika Jessie—"


"Yang ku nikahi?" potong Xavier. Rebecca semakin gugup.


"Dia mungkin mengira jika Lawrence yang seharusnya disini. Bukan begitu, Nona Rebecca?"


"Tidak!" Menggeleng cepat, "daddy sudah mengatakannya padaku," ungkapnya kemudian.


"Begitu ...." Jessie mengangguk, "itu sebabnya kau kemari? Ingin mengucapkan selamat?" Jessie memasang wajah pura-pura bahagia.


Berpura-pura? Ya, itu adalah keahliannya.


"Bukan be—" Belum selesai berbicara, Jessie segera datang memeluknya.


"Lawrence pasti ikut senang mendengar kau datang padaku untuk ini." Masih memeluk Rebecca yang terpaksa tersenyum, belum lagi ada tatapan tajam Xavier yang mengawasi.


Pria itu merasa bosan melihatnya lantas pergi menuju kamar yang digunakan istrinya tadi. Ia harus mandi setelah mendapat sentuhan dari Rebecca yang mencoba menggodanya tadi.


Setelah kepergian Xavier, Jessie mengeratkan pelukannya hingga Rebecca sulit bernafas.


"Sebaiknya urus urusan anda sendiri, Nona Rebecca. Jangan lupa ... Menentangku sama saja menentang Lawrence. Lebih baik jangan membuatku marah," bisiknya.


Rebecca berusaha melepas pelukan Jessie hingga berhasil terlepas. Ia memegang sebelah lengannya yang terasa nyeri akibat cengkeraman Jessie dengan wajah tidak suka.


Tidak ada kata-kata yang berani keluar dari mulutnya. Apalagi setelah Jessie memberinya peringatan.


Kakek memang dengan jelas mengatakan jika Lawrence adalah perintah.


Sang kakek atau Tuan besar keluarga Lawrence yang meminta semua anggota keluarga untuk patuh pada perintah Lawrence meski belum melihatnya sama sekali. Lawrence akan mengontrol dibalik layar dengan orang-orang kepercayaannya.


Dan wanita di depannya ini adalah salah satunya!


Untuk saat ini tak ada yang bisa diperbuat. Melawan sama saja menyerahkan diri untuk hidup tanpa kekuasaan Lawrence.


Sialan!


Xavier pasti sudah tertipu dengan kepribadiannya!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...